Facebook

Facebook Pekerjakan 3 Ribu Orang Memantau Konten Kekerasan dan Bunuh Diri

Tren penyalahgunaan fitur Facebook Live, termasuk di Indonesia, semakin mengkhawatirkan. Raksasa sosmed itu berbenah agar konten negatif tak lagi tersebar.
04 Mei 2017, 1:00am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Publik makin khawatir melihat konten-konten negatif menyebar lewat fitur streaming Facebook Live. Fasilitas yang seharusnya dipakai untuk berbagi momen-momen penting ke sosmed itu belakangan dipakai buat menyiarkan pembunuhan secara langsung, pemerkosaan, penyiksaan, hingga bunuh diri disaksikan ribuan orang. Tren menyeramkan ini terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Menyadari muncul banyak keluhan dari pengguna, Mark Zuckerberg selaku CEO Facebook mengumumkan kebijakan pemantauan konten terbaru. Dia berjanji merekrut ribuan orang sebagai pemantau khusus yang akan melihat video-video beredar di jejaring sosial miliknya.

"Sampai tahun depan, kami berencana menambah 3.000 orang ke dalam tim komunitas kami di seluruh dunia. Saat ini kami sudah memiliki 4.500 personel dalam divisi tersebut. Tugas utama mereka adalah memantau laporan konten yang kami peroleh setiap minggu serta segera merespons jika ada konten melanggar kebijakan perusahaan," ujarnya dalam status Facebook yang belum lama ini diunggah. Dengan demikian, Zuckerberg optimis tak sampai hitungan jam konten yang meresahkan atau melanggar kepatutan bisa segera ditindak.

Zuckerberg tidak menjelaskan apa alasan Facebook tiba-tiba menambah personel pemantau konten. Kemungkinan besar, pemicunya adalah live streaming pria membakar bayi di Amerika Serikat yang ramai disorot media pekan lalu. Satu peristiwa lainnya adalah penembakan manula di Kota Cleveland pada saat Paskah. Dua insiden itu menambah kegeraman publik terhadap penyalahgunaan fitur Facebook Live.

Pakar Teknologi Informasi sejak lama menyerukan agar Facebook serius mengelola fitur streaming mereka agar tak terjadi penyalahgunaan. Menambah SDM adalah satu-satunya solusi saat ini, mengingat belum ada perangkat lunak yang bisa mengidentifikasi dan memblokir video mengandung muatan kekerasan. Masalah lainnya, memantau jutaan video yang beredar di Facebook bukan jenis pekerjaan yang menarik bagi banyak orang. Berbagai perusahaan medsos, termasuk Facebook, melimpahkan tugas pemantauan itu kepada ribuan orang yang bekerja sebagai tenaga outsourcing di Asia Tenggara. Jangan lupa, para pemantau itu berisiko menghadapi tayangan sadis dan menyeramkan. Banyak dari para pekerja itu terpaksa harus menjalani terapi ataupun konseling dengan psikolog akibat hal-hal yang mereka saksikan.

Juru Bicara Facebook menolak berkomentar untuk artikel ini, saat ditanya lebih mendetail tentang rencana rekrutmen tenaga pemantau tersebut.