Tradisi Pernikahan

Menculik Pasangan di Pohon Cinta, Tradisi Lazim Anak Muda Sasak Sebelum Menikah

Rangkaian adat jelang pernikahan di Lombok Tengah melibatkan pohon nangka mati, aksi penculikan, dan peran mak comblang.
12.6.19
Dua_Bocah_Sasak_Bertarung_Prisean_-_Two_Sasaknese_Boys_fighting_at_Prisean_Match
Pohon khas di desa adat Sasak Ende, Lombok, jadi latar Permainan Prisean bocah setempat. Foto: Yohanes Nindito Adisuryo/Wikimedia Commons. Lisensi 4.0

Tempat Kejadian Perkaranya ada di Desa Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Sebuah tradisi bernama memari’ atau ‘kawin lari’ yang diklaim sudah berlangsung selama lima belas generasi mewajibkan calon mempelai laki-laki Suku Sasak menculik calon mempelai wanita sebelum pernikahan diselenggarakan. Tenang saja, tak satu pun polisi terlibat di sini karena prosedur penculikannya diatur oleh adat. SOP memari’ adalah sebagai berikut: Seorang laki-laki yang ingin menikahi perempuan idamannya wajib menculik perempuan tersebut dan membawanya ke rumah keluarga atau teman laki-lakinya selama tiga hari dua malam. Dalam aksi penculikan itu, sebuah pohon nangka mati dijadikan meeting point wajib. Jadi, si cowok akan janjian sama pasangan di bawah bangkai pohon nangka. Kemudian mereka minggat bersama. Ppagi hari setelah penculikan dilakukan, utusan dari pihak laki-laki akan mengabari keluarga perempuan bahwa anak perempuannya berhasil diculik tadi malam, sembari memohon restu untuk dinikahkan.

Menurut penjelasan salah seorang pemandu wisata Desa Sade bernama Makum, pohon itu dipilih sebagai langganan titik start kawin lari karena lokasinya berada di satu gang sepi. Jarangnya orang lewat gang itu membuat pohon tadi dianggap pas sebagai tempat pertemuan. "Kami menyebutnya Gang Cinta dan Pohon Cinta," kata Makum saat diwawancarai Detik. Adat membuat kawin lari sebagai hal yang tak boleh dilewatkan jika seorang Sasak ingin menikah. Malah jika seorang laki-laki melamar dengan baik-baik (misalnya datang ke rumah, bawa martabak, terus ngobrol dengan sopan ke orang tua), ia bakal jadi bahan gunjingan karena dianggap melanggar adat. "Kalau langsung meminta tanpa menculik lebih dulu, keluarga perempuan bisa tersinggung. Kesannya anak mereka itu barang," ujar Onca, pemuda Sasak, kepada CNN Indonesia. Pertemuan sepasang kekasih Suku Sasak di pohon cinta Desa Sade diatur seorang mak comblang. Jasa mak comblang ini bisa dibilang paling besar. Soalnya, selain mengatur pertemuan, dia juga harus memantau rumah perempuan sembari cerdik mengkode saat membuat janji penculikan dengan si perempuan tanpa harus diketahui keluarganya. Ini tugas berat, mengingat perempuan Suku Sasak biasanya selalu di rumah dan diawasi akibat kewajiban menenun yang mereka emban. Berhubung muda-mudi Sasak tak bisa berpacaran secara konvensional, berduaan saja tak boleh, si mak comblang berperan menjadi petugas lapangan yang melaporkan situasi terkini si gadis kepada laki-laki yang mengincarnya. Ia akan mengabarkan, misalnya, jika ada laki-kaki lain yang kerap bertamu ke rumah si gadis. Salut lah. Saya kira mak comblang Suku Sasak tidak kalah hebat dari para lulusan sekolah mak comblang yang ada di New York. Suku Sasak yang mayoritas memeluk agama Islam juga percaya benar dengan ta’aruf, . Perempuan dan laki-laki di Desa Sade dilarang wakuncartanpa didampingi orang tua. Kegelisahan muda-mudi supaya bisa bebas nyepik-nyepik tanpa pengawasan ini menimbulkan fungsi lain dari Pohon Cinta, yakni sebagai tempat pacaran klandestin.


Tonton dokumenter VICE soal beratnya perjuangan anak muda di Sumba menikahi gadis pujaan mereka:


Talim, pemuda Sasak lainnya, saat diwawancarai Jawa Pos mengaku seiring berkembangnya zaman laki-laki dan perempuan di desa tersebut makin lihai saja pacaran. Untuk menemui tambatan hati, biasanya muda-mudi desa meminta izin kepada orang tua untuk mengambil air wudu didampingi saudara kandung. "Di sini, kan, kalau mau wudu harus ke luar rumah. Biasanya kami suka janjian dengan gadis yang kami suka untuk ketemuan di tempat tertentu. Lokasi favorit kami adalah dekat Pohon Cinta," Talim membocorkan trik. Tradisi kawin lari dan culik-menculik dengan patokan pertemuan di sebuah pohon memang terasa begitu romantis. Apalagi ini satu-satunya cara yang diinginkan calon mertua sebelum memberi izin nikah. Namun, bukan berarti semua kisah cinta Suku Sasak lewat kawin lari berakhir penuh restu lho.

Wire Darje, pemuda Sasak berumur 24 tahun, bahkan sampai didenda satu juta rupiah oleh sekolahnya plus ketiban apes kena cakar dan jambakcamer karena melarikan anak mereka.
Kepada Jawa Pos, ia mengaku kisah tak terlupakan itu terjadi karena ia memutuskan menculik dan mengajak kawin lari kekasihnya yang belum lulus SD. Terserah kamu aja deh, Wire!

Oh iya, tambahan fun fact: Pernikahan muda-mudi Suku Sade umumnya masih dilakukan dalam satu garis keturunan. Makum bilang, mereka terbiasa menikah dengan saudara atau sepupu untuk mempertahankan eratnya tali kekeluargaan. Nah ini dia. Para pecinta sepupu seluruh dunia, bersatulah!