Percintaan

Inilah Alasan Ilmiah Cowok Lebih Susah 'Move On' Setelah Putus

Banyak lelaki, sekalipun sudah menua dan menikah, tetap teringat pada mantan masa SMA atau kuliah dulu. Hmm, tragis juga...
19.1.19
Lelaki menyesali hubungan cintanya yang kandas
Foto ilustrasi oleh Simon Josefsson / EyeEm/ Getty Images 

Setiap kali mantan Aryani mem-posting sesuatu di Facebook—biasanya foto keluarganya yang bahagia plus senyum manis yang tak pernah berubah sejak SMA—dada Aryani seakan bergolak. Dia merasa baru saja melongok kehidupan yang lebih baik, dan sayangnya tak pernah dia jalani.

Aryani dan mantannya seumuran—sama-sama baru menginjak kepala empat. Mantan Aryani sudah berkeluarga. Dia tinggal bersama istri dan anaknya. Kelihatannya rumah tangga mereka tenteram-tenteram saja. Aryani sebaliknya harus berjibaku melakoni hidup yang jauh dari kata bahagia. Aryani berpredikat sebagai seorang ibu tunggal dengan seorang anak perempuan. Waktu luang adalah konsep yang asing dalam hidupnya. "Saya tiap hari bekerja sekaligus masih menyempatkan diri untuk sekolah," katanya. "Saya enggak punya waktu luang. Mau ngopi-ngopi sama orang lain saja sulit. Tiap kali saya terpikir mantan saya, saya merasa jadi pihak yang kalah." Aryani dan mantannya sama-sama tumbuh dewasa di sebuah kota kecil dan keduanya menjalin cinta selama empat tahun lamanya. Mantan Aryani adalah atlet, bertanggung jawab, terampil dan sangat mencintai keluarganya.

Iklan

"Mereka rutin makan spaghetti bareng saban minggu malam," kenang Aryani. "Mantan saya bisa memasak. Dia bisa mengganti minyak goreng sendiri. Pokoknya, semuanya dia kerjakan secara mandiri."

Dulu Aryani dan mantannya beda kampus. Aryani merayunya agar masuk universitas dekat tempatnya belajar, jadi mereka bisa tetap bersama. Sayang, Aryani lantas naksir kakak teman dekatnya. Begitu lelaki itu single, Aryani langsung meninggalkan mantannya yang ganteng dan jago olahraga. Sekarang, Aryani mengakui keputusannya waktu itu sangat impulsif, khas keputusan perempuan muda yang tak berpikir panjang.

Setelah itu, kehidupan asmara Aryani berjalan bak lirik-lirik lagu cinta yang sendu: pacarnya mati muda karena lymphoma. Dia berusaha balikan, sayang sang mantan sudah punya pasangan baru. Dia mulai merasakan penyesalan karena sudah meninggalkannya. Aryani lantas menikah—dua kali pada umur 23 dan 31. Kedua perkawinannya berakhir dengan perceraian.

"Semua yang belum saya nikmati dalam sebuah hubungan asmara, sebetulnya bisa saya alami dengan mantan," Katanya. "Kami sangat nyambung. Saya enggak pernah merasa secocok itu dengan orang lain. Jika kami dulu tak putus, kami mungkin punya rumah, kebun dan sejumlah anak." Aryani punya bayangan detail tentang rumah tangganya seandainya mereka bersama. Dia membayangkan membagi pekerja rumah dengan mantannya.

Aryani memang tak mau lepas dari kenangan sang mantan. Lelaki itu melintas dalam benak Aryani tiap hari, tepatnya tiap kali postingan Facebook-nya mampir di berandanya.

Iklan

Menyesali hubungan asmara yang kandas ternyata lebih lazim dan intens dibanding jenis penyesalan lainnya, menurut para psikolog. Manusia dari kebangsaan manapun mengalami trauma menyakitkan tersebut. "Kebanyakan manusia menjalani lebih dari dua hubungan percintaan saat usia menginjak 30 tahun," kaya Craig Eric Morris, seorang antropolog dari Binghamton University yang meneliti kesedihan akibat putus cinta. Rata-rata, salah satu hubungan yang pernah dijalani seseorang dalam hidupnya akan "berakhir dengan sangat menyakitkan, sampai memengaruhi kemampuan mereka untuk melanjutkan hidup. Tiap manusia pernah mengalaminya."

Merujuk salah satu penelitian Morris, 90 persen dari responden yang ia teliti mengaku pernah mengalami trauma emosional—seperti rasa marah, depresi dan kecemasan—serta truma fisik macam pusing, insomnia, dan penurunan berat badan setelah putus. Dalam sebuah penelitian yang diikuti responden lebih tua, Morris menemukan kesedihan jangka panjang akibat cinta yang kandas lazim ditemui, namun, mayoritas dialami laki-laki.

Riset Morris juga memperlihatkan pihak yang berinisiatif mengakhiri hubungan asmara biasanya tak begitu berkubang dalam kesedihan dibandingkan pasangannya yang diputusin. Kendati begitu, kedua pihak umumnya merasa sedih dan menyesali akhir hubungan mereka, biasanya di titik yang berbeda dalam hidup masing-masing. "Pihak yang memilih putus duluan biasanya lebih sedih di awal," ujar Morris, sembari menambahkan kalau diam-diam pihak yang minta putus tetap berduka, meratapi kandasnya cinta mereka.


Tonton dokumenter VICE mengenai fenomena maraknya bisnis penyewaan lelaki untuk perempuan single di Jepang:


Hubungan asmara berakhir tragis adalah sumber penyesalan mendalam—dibandingkan cobaan hidup lainnya—menurut sebuah riset yang digelar pada 2011, oleh tim psikolog dari University of Illinois di Urbana-Champaign. Para peneliti ini bertanya pada narasumber yang mewakili penduduk Amerika Serikat tentang penyesalan paling mendalam. Ternyata, kebanyakan responden menilai hubungan percintaan (19 persen) adalah penyesalan terbesar dalam hidup, baru disusul penyebab-penyebab lainnya seperti persoalan keluarga (17 persen), pendidikan (14 persen), karir (14 persen), dan masalah keuangan (10 persen).

Amy Summerville adalah Kepala Regret Lab, Miami University, sebuah unit riset yang mendalami penyesalan verbal. Jenis penyesalan kayak gini manifestasinya kata-kata semacam: “coba dulu aku enggak melakukan ini-itu" dan efek-efeknya terhadap kehidupan manusia. Ungkapan-ungkapan macam ini dalam kajian psikologi disebut sebagai “counter-factional thinking.” "Contohnya ketika kamu berangan-angan bahwa situasi yang kamu alami bisa lebih baik dan memikirkan faktor-faktor yang berkaitan lainnya," kata Summerville.

Iklan

Summerville mengatakan putus cinta memiliki tiga karakteristik penyesalan mendalam yang kerap muncul seketika. Pertama, orang cenderung memeram penyesalan akibat kehilangan kedudukan sosial dan penerimaan dari orang lain, bentuknya bisa dipecat dari pekerjaan hingga berakhirnya hubungan pertemanan. "Lazimnya, orang memang cenderung menyesali apapun yang bisa merongrong sense of belonging (rasa memiliki)," kata Summerville. Hubungan asmara dalah sumber dari berbagai kebutuhan psiko-sosial di atas.

Karakteristik kedua, manusia secara alamiah gampang menyesali kondisi yang semestinya bisa mereka kontrol. Kecelakaan mengerikan atau musibah yang diakibatkan perilaku orang lain cenderung tak begitu memicu penyesalan dibandingkan insiden yang dipicu tindakan atau yang kita ambil.

Dalam sebuah hubungan percintaan, dua individu berkomitmen pada serangkaian keputusan yang panjang. "Tiap manusia memiliki dorongan untuk mengambil kendali,” kata Summerville. Tentunya, pilihan-pilihan yang kita ambil memiliki konsekuensi sampai hubungan itu berakhir. Ini yang membuat setiap tindakan selama dalam hubungan asmara bisa memicu penyesalan daripada hubungan yang mirip dalam keluarga.

Terakhir, kita sering meratapi perasaan was-was atas tindakan di masa lalu. Terutama saat kita sedang diterpa kesusahan hidup. Kalian bisa merasa menyesal karena pernah nakal semasa remaja dan bikin orang tua kita jantungan. Tapi penyesalan itu akan hilang dengan sendirinya ketika kita sudah sepenuhnya dewasa, menjalani hubungan yang berbeda dengan orang tua kita serta memiliki perilaku khas orang dewasa.

Iklan

Bagi banyak orang, urusan percintaan ibaratnya pencarian terus-menerus. Kita toh selalu dihadapkan dengan pertanyaan mencari pasangan baru atau berusaha bahagia dengan pasangan kita saat ini. Alhasil, tatkala hidup sedang berat-beratnya, kita tergoda menengok ke masa lalu, mengingat sosok mantan "yang seharusnya hidup bersama kita"—atau versi ideal dari orang itu.

Gabungkan ketiga karakteristik tadi—rasa memiliki, dorongan mengontrol, serta usaha terus-menerus mencari definisi hubungan ideal—niscaya kita akan menemukan sumber rasa penyesalan mendalam yang kita derita.

Pada 2015, Morris dan kolaboratornya dari University College London, mempublikasikan sebuah riset skala besar meneliti orang dewasa dari semua kalangan umur—termasuk komunitas gay—terkait respons saat mengalami kesedihan gara-gara putus cinta. Penelitian itu digelar untuk menambal lubang penelitian-penelitian tentang putus cinta sebelumnya. Dulu, penelitian macam ini terlalu fokus sama responden mahasiswa, seakan yang bercinta di dunia ini cuma anak kuliahan saja. Survei yang lebih mutakhir ini melibatkan 5.705 peserta yang tersebar di 96 negara, dengan umur rerata responden adalah 27 tahun.

Sekali lagi, rasa sakit emosional dan psikosomatis, ternyata berlaku secara universal setelah putus cinta. Manusia dari bangsa manapun mengalami gejala psiklogis yang serupa. Tapi muncul benang merah, begitu para periset membahas tentang proses penyembuhan dan efek jangka panjang putus cinta dengan para peserta.

Iklan

Ada dua perbedaan yang mencolok di antara gender. Perempuan cenderung melakukan refleksi setelah putus cinta dan lekas move on. “Para peserta perempuan mengaku mereka bicara dengan kawan, kerabat serta pemuka agama (setelah putus cinta)," kata Morris. "Saat curhat, mereka ngomong seperti ‘kejadiannya udah lama sih’ atau ‘Aku sih belajar dan ini hikmahnya'."

"Perempuan jarang ngomong ‘Dia lelaki terbaik dalam hidupku dan aku belum bisa berdamai dengan kenyataan bahwa kami putus'." Intinya erempuan cenderung lebih enteng meninggalkan masa lalu, meski prosesnya perlahan.

Saat peneliti dari Inggris ini juga ngobrol panjang sama setiap responden laki-laki. Para lelaki itu terkesan lebih menyesali gagalnya percintaan tersebut, beda dari responden perempuan. “Tak ada satupun pria yang ngomong ‘Ah itu sih udah lewat, sekarang aku jadi cowok yang lebih baik,’” kata Morris. Mereka sering berangan-angan dan menyebut bahwa mantannya adalah kekasih terbaik yang pernah mereka miliki. Jika saja mereka masih bersama, mereka tak akan mencari pasangan yang tepat saat ini.

Beberapa cerita responden terasa lumayan ekstrem: satu orang lelaki kehilangan pasangannya akibat cinta segitiga. Kepada Morris, lelaki itu mengaku sering bermimpi ditelan bayangan hitam besar. Menurutnya, bisa jadi itu representasi lelaki yang menyerobot kekasihnya, menghantui sisa hidupnya bahkan setelah mengambil belahan jiwanya.

Iklan

Seorang lelaki uzur asal inggris, peserta penelitian lainnya, mengaku terus memikirkan pacarnya di masa SMA dulu hari hingga ini. Hal itu ia lakukan diam-diam, meski sudah beristri dan anak-anaknya beranjak dewasa. Kadang, dia membayangkan sang pujaan hatinya di masa lalu kembali memasuki hidupnya,

Morris menduga gejala ini terjadi karena menurut tradisi lelaki bertugas sebagai pihak yang memulai hubungan asmara. Belum lagi, ekspektasi dari tatanan sosial agar lelaki setia pada satu pasangan, mengingat fungsi mereka sebagai pencari nafkah dan kedudukannya dalam pergaulanl. Alhasil, putus cinta atau kehilangan pacar terasa lebih menusuk buat lelaki. "Pedihnya putus bertambah parah bila punya nilai penting dalam hubungan sosial," katanya.

Ini juga menjelaskan kenapa sekelompok lelak yang diteliti Morris rela menjalani hubungan rebound. Itulah cara cepat untuk mendapatkan kembali status sosial mereka. Bahkan setelah mafhum bahwa hubungan cinta bisa begitu menyakitkan, Morris yakin kebanyakan orang pada akhirnya bisa mengatasi patah hati mereka—bahkan mereka yang terus menyesali kegagalan cinta di masa lalu. Bagaimana dengan kasus lelaki tua asal Inggris yang terus memikirkan pacar SMA-nya? Morris bilang pria itu hidup bahagia dan khayalannya itu tak bikin dia stres. Fantasi lelaki tua itu tentang pacar SMAnya berfungsi bak lamunan yang menyenangkan.

Keith Markman, guru besar psikologi dari Ohio University yang mendalami counter-factional thinking, menilai ada perbedaan berarti antara fantasi kangen mantan dengan rasa marah yang “menyusupi pikiran orang.” Dalam penyesalan yang berkaitan dengan hubungan asmara, orang umumnya punya pikiran nostalgia yang indah.

Pola pikir macam itu bisa jadi bagian dari cara pandang sehat tentang cinta. “Orang biasanya berpura-pura menyesel setelah hubungan percintaan mereka kandas,” kata Markman. "Mereka biasanya berangan-angan dan sengat sentimental. Yang mereka miliki adalah kerinduan mendalam dan nostalgia. Kenangan macam ini kadang bisa menguntungkan kok."

Selain membantu seseorang agar tak mengulang kesalahan yang sama dalam hubungan baru, penyesalan terkait hubungan cinta terdahulu dapat berfungsi sebagai pengingat agar apa saja yang bisa dialami dalam hubungan percintaan. Putus cinta “terasa sangat menyedihkan bagi semua orang,” kata Morris. Tapi, putus cinta nyaris dialami semua orang “hingga kita bisa menemukan cara menghadapinya. Kalau tidak, tak akan banyak orang menjalin kasih di muka Bumi ini.”

Fakta keras bahwa orang tak berhenti pacaran saat berusia 30—setelah mengalami manis dan pedihnya cinta seperti digambarkan dalam lagu-lagu Morrisey—adalah bukti bahwa penyesalan setelah putus cinta itu nyata tapi dapat diatasi.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic