kecanduan teknologi

Kata Penelitian, Mahasiswa Lebih Pilih Main HP Daripada Makan

Penelitian tentang kecanduan ponsel pintar memang masih memasuki tahap awal, tetapi kesimpulannya semakin suram saja.
19.11.18
Salah satu kebiasaan di era modern
Foto: BSIP/UIG via Getty Images

Aku mulai benci Senin pagi sekarang. Bukan karena malas kerja, melainkan laporan mingguan dari iPhone-ku yang menunjukkan berapa lama aku menggunakan ponsel di minggu sebelumnya. Aku sadar, kok, kalau kebiasaanku bermain ponsel sangat buruk. Enggak perlu diingatkan segala.

Fitur baru ini tak ada gunanya sama sekali. Aku enggak berubah jadi lebih baik. Yang ada malah kesal dengan iOS 12 (ya, aku mesti buka ponsel dulu buat memastikan iOS-nya).

Memang sudah bukan rahasia lagi kalau kita enggak bisa santai dan sudah menghabiskan banyak waktu menatap layar ponsel. Makalah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Addictive Behaviors membuktikan betapa parah obsesi kita terhadap ponsel.

Menurut ketua peneliti Sara O’Donnell, mahasiswa lebih memilih tidak makan daripada tidak bisa bermain ponsel. Penelitian tersebut diikuti oleh 76 mahasiswa yang berusia 18 hingga 22 tahun. Mereka dilarang makan selama tiga jam dan menggunakan ponsel selama dua jam. Mereka bisa belajar atau baca koran untuk mengisi waktu (aku rasa mereka akan mengingat-ingat kata ‘koran’ selama 20 menit supaya bisa mencarinya di Google nanti pas ponselnya sudah dikembalikan).

Iklan

O’Donnell menggambarkan kegiatan ini sebagai “masa pengurangan sedang.” Setelah menjalani periode ini, mereka akan mengerjakan tugas di komputer kalau mau dikasih waktu untuk bermain ponsel atau memakan makanan ringan favorit mereka dengan porsi 100 kalori. Setiap kali mereka memilih, waktu tambahan untuk menggunakan ponsel atau ngemil meningkat. Menurut University of Buffalo, ada dua hal yang diteliti. Bagian pertama adalah kuesioner yang menanyakan berapa menit yang peserta rela bayar untuk bermain ponsel. Kisaran biayanya $0 hingga $1.120 (setara dengan Rp16 juta) per menit. Bagian kedua mengukur seberapa banyak klik mouse yang mahasiswa bersedia lakukan kalau ingin dapat waktu menggunakan ponsel.

Menurut O’Donnell, penelitian ini bertujuan untuk mengukur apakah penggunaan ponsel dapat “memperkuat perilaku” sama seperti makanan, alkohol, atau obat-obatan terlarang yang bisa membuat orang kecanduan. Jawabannya? Tentu saja bisa.

“Dalam studi ini, kami menyajikan bukti pertama bahwa ponsel bisa memperkuat perilaku seseorang,” katanya. “Ketika mereka dikurangi jatah makan dan main ponselnya, kami menemukan bahwa mahasiswa lebih termotivasi untuk belajar agar mendapatkan waktu menggunakan ponsel. Mereka juga bersedia mengeluarkan lebih banyak uang fiktif supaya bisa bermain ponsel.” (Para peneliti bahkan mengatakan “terkejut” dengan hasilnya.)

O’Donnell mengutarakan bahwa penelitian tentang kecanduan ponsel memang masih di tahap awal, tetapi makalah ini menunjukkan kalau gawai bisa “sangat memperkuat kebiasaan” kita.

Hadeh, aku merasa makin buruk saja kalau ingat laporan mingguannya semakin meningkat. Kayaknya aku benar-benar harus mempertimbangkannya, deh.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard