musik EDM

Mija Adalah Harapan Terakhir Musik EDM

DJ berumur 25 tahun tersebut digadang akan menjadi nama besar dalam dunia musik dance kontemporer, dan juga dunia seni.
22.11.17

Di festival musik Bonnaroo 2014, sebuah kisah yang luar bisa terjadi pada Mija. Beberapa saat sebelum Mija naik panggung, Skrillex mengendarai mobil cart golf dan melihat panggungnya yang ramai dan penuh dengan laser. Dia bergabung dan melakukan set konsekutif deep-house bareng Mija. Video ini langsung viral dan meluncurkan karir menjanjikan talenta baru dalam dunia DJ.

Ini bukan sekedar dongeng—bener kejadian kok—tapi mungkin terlalu Disney untuk menggambarkan seseorang yang penuh daya juang seperti Amber Giles, sekarang 25 tahun, yang nongkrong bareng saya di bulan Agustus lalu di Cafe Zinc di distrik seni Los Angeles. Untuk bisa mendapatkan kisah Mija-bertemu-Skrillex yang lebih dalam lagi, kita harus mundur ke kehidupan Mija ketika dia berumur 18 tahun dan aktif bekerja sebagai promotor musik rave di kancah underground Arizona. Dia biasanya selalu mengantar DJ yang dia buking sendiri dari bandara ke hotel, tapi ketika Skrillex—pra-terkenal—tiba, justru Mijalah yang menjadi pahlawan: “Saya mengantar dia makan sushi, membawa dia ke Hot Topic untuk membeli anting bolong untuk telinganya, dan menjahit celananya yang bolong di bagian selangkangan.”

Iklan

Mija menyeruput es kopinya dengan santai, seakan membantu raja EDM masa depan (dan sohibnya sekarang) adalah hal yang normal dilakukan seseorang yang baru lulus SMA. Tapi ya memang begitu kenyataannya buat dia, dan ini menjelaskan kenapa tiga tahun setelah pindah dari Phoenix ke LA tanpa rencana dan banyak uang, Mija didaulat akan menjadi salah satu nama terbesar dalam dunia musik dance kontemporer, dan juga penggiat seni.

Single andalan dari album self-released debutnya sudah tersedia, tapi bukan berarti dia lantas tidak menghabiskan waktu di dalam studio. Musim gugur lalu, dia mengkurasi dan memimpin tur gila “Fk a Genre”, dengan rotasi lineup yang mencakup A-Trak, Kill the Noise, Anna Lunoi, Lunice, dan banyak lainnya. Kemudian dia sempat meluncurkan clothing line berbau goth dan ramah rave, Made by Mija—menjual produk mulai dari topi beanie, jaket bomber hingga beha. Kemudian ada juga “Time Stops,” sebuah film animasi pendek yang dia tulis bareng sohib kolaboratornya, musisi Ryan Forever. Scoring dalam film ini menggabungkan musik trap, ambient, dan pop dalam bingkai happy hardcore 8-bit.

Musiknya pun memiliki kualitas yang serupa. Misalnya lagu “Secrets,” yang menampilkan sampel vokal versi chipmunk Tegan & Sara ditemani oleh bunyi drum ‘n’ bass, gemuruh robotik, dan dub, atau “Better” yang penuh keceriaan. “Saya selalu menyukai progresi ceria yang manis dan upbeat, tapi di saat yang sama, saya adalah orang yang suram,” jelasnya. “Saya suka kedua sisi tersebut, dan saya berusaha mencari titik tengah dalam musik, atau apapun yang saya lakukan.”

Iklan

Dari kecilpun, Mija selalu berganti-ganti hobi. Masa kecilnya tergolong sulit—Ibunya masih single dan baru berumur 18 tahun ketika melahirkan Mija dan mencari nafkah “mengusir hama dan pekerjaan serabutan lainnya.” Namun tetap saja Mija rajin bernyanyi ketika masih kecil. Dia ingat bernyanyi melalui speaker restoran di umur lima tahun ketika seorang pelayan memberikannya mikrofon. Di umur tujuh tahun, dia bergabung dengan Phoenix Girls Chorus yang sempat tampil di gereja Notre Dame di Paris. Namun dia tidak menyukai masa SMP dan SMA yang dia habiskan di Amerika Serikat. Ibunya memasukkan dia ke sekolah di daerah kaya dengan harapan dia akan mendapat lebih banyak kesempatan, tapi Mija merasa tidak cocok. Jadi dia mencari kaumnya sendiri di tempat lain dan menemukan mereka di pesta-pesta gudang ilegal—yang mulai dia hadiri di umur 15 tahun.

“Saya kaget sekali bahwa ada komunitas di luar sana yang memiliki ideologi yang tidak pernah saya dapat dari keluarga atau tempat saya tinggal. PLUR [Peace Love Unity Respect—ideologi yang diasosiasikan dengan kultur rave] banget deh,” jelas Mija sambil tertawa. “Di umur itu ketika kami baru mulai mengerti dunia, rasanya ideologi ini terasa sangat relevan. Kamu ingin menjadi bagian dari sesuatu, bagian dari sebuah pergerakan.”

Namun Mija sempat terpukul ketika dia sempat dikeluarkan dari sekolah selama setahun. Memang akhirnya dia kembali dan lulus sekolah, tapi dia juga terpilih sebagai “Lulusan yang Kemungkinan Besar Akan Berakhir di Jalanan”, mungkin karena hobinya mengenakan celana rave dan mengusung rambut kuncir berwarna pink. Coba tebak siapa yang tertawa sekarang? Tidak hanya mendapat nilai A, dia juga menjadi seorang pengusaha yang lihai dalam waktu senggang.

Mija harus berbohong tentang umurnya demi mendapatkan pekerjaan full-time pertamanya, tapi ketika akhirnya dia sudah legal secara umur untuk bekerja (16), dia sudah bekerja sebagai supervisor di sebuah toko lukisan tembikar dan meyakinkan bosnya untuk membelikan dia Heelys (jenis sneaker beroda yang populer digunakan oleh raver setempat). Di umur 17 tahun, dia menggunakan sepatu tersebut untuk mendistribusikan pamflet ke acara pesta yang dia adakan dan menghasilkan $10.000 semalam, katanya, atau kadang kehilangan uang dalam jumlah yang besar juga ketika berinvestasi di event orang lain. Setelah beberapa saat, Mija memutuskan bahwa dia ingin mengumpulkan uang dengan cara bermain musik.

Setelah lulus pada 2010, dia mulai ngeDJ di malam hari sambil kuliah fashion dan bekerja di toko sablon kaos. Kemudian dia diminta ngeDJ dua kali seminggu di Sheraton di pusat kota Phoenix dengan bayaran yang besar. Dia akhirnya keluar dari semua pekerjaannya, dan sekitar seminggu sebelum Boonaroo 2014, dia membeli software produksi Ableton, keyboard Akai, dan sepasang monitor studio untuk memulai transisinya sebagai seorang produser. Di saat itu, “Skrillex mengatakan, ‘Elo mesti pindah ke LA.’ Dan gue bilang, “OK! Let’s do it!’”

Kehidupan di pusat kota LA—berantakan, fashionable, urban, nyeni—cocok dengannya. Sehari-hari, dia hobi skate (short cruiser), bermeditasi (dengan app Headspace), melukis, merokok (Turkish Royals), membaca puisi (Rupi Kaur), dan juga menulis. Banyak tetangganya adalah produser DJ seperti Ghastly, Jauz, dan Kayzo. Ada banyak sekali gudang yang bisa dijadikan lokasi pesta. LA terasa seperti rumah bagi Mija. Tapi menemukan soundnya sendiri sebagai musisi, terutama bagi DJ yang membenci batas genre, membutuhkan usaha yang keras.

“Saya sadar kamu bisa menjadi produser paling keren secara teknis, tapi kalau lagu-lagumu tidak menimbulkan emosi, ya percuma,” jelas Mija. “Saya tidak jago menulis track ‘banger’ karena memang tidak sesuai dengan saya. Musik yang saya hasilkan sekarang bahkan bukan musik dance. Saya menggunakan vokal saya sendiri, les piano, dan semakin sering bermain musik. Ini bukan sepenuhnya musik DJ. Ya beginilah saya.”

Sejauh ini, hasilnya bagus-bagus aja. Satu lagu yang saya dengar, “Bad For U,” dari EP How to Measure the Distance Between Lovers, terasa seperti musik blues masa depan, menggabungkan efek-efek ala Oneohtrix Pont Never dengan bass-scape Burial dan keindahan Björk.

Daripada sekedar mengulang template EDM yang feel-good, Mija mengatakan dia berusaha mengangkat emosi lain: rasa kecemasan. Tidak heran bahwa tato favoritnya adalah baris pertama dari puisi Charles Bukowski “Dinosauria, We,” yang terletak di lengan kirinya. “Born like this, into this,” bunyinya, menyiratkan bahwa kiamat manusia adalah sesuatu yang sudah ditakdirkan. Mengingat ambisi Mija yang unik—kombinasi dari entropi dan mental tangguh DIY—dan juga selera humornya yang makabre, rasanya tato tersebut sangat pas menggambarkan perjalanan hidupnya hingga sekarang.