sepak bola

Pengakuan Mantan Pesepakbola Profesional: Doping di Sepakbola itu Gampang Banget Dilakukan

"Selama aku jadi pemain sepakbola profesional, aku cuma pernah dites doping sekali. Beberapa teman malah enggak pernah dites doping sama sekali sepanjang karir mereka."
9.7.18
Lotfi El Bousidi (kanan) bermain untuk Spanyol (Semua foto oleh Lotfi El Bousid)

Dalam wawancara yang dilakukan beberapa saat lalu, dokter timnas Jerman G, Hans-Wilhelm Müller-Wohlfahrt, mengklaim tak ada kasus doping di sepakbola karena tak membantu sama sekali. Pertanyaan Hans kemudian ditampik oleh Badan Anti Doping Nasional (NADA) Jerman. Nyatanya, NADA bukan satu-satunya pihak yang percaya sepakbola tidak lepas dari penyalahgunaan obat-obatan perangsang prestasi.

Lotfi El Bousidi pernah berprofesi sebagai atlit sepakbola profesional dan pernah merumput di Swiss, Spanyol dan Jerman. Sepanjang karirnya sebagai pesepakbola profesional, Lotfi menemukan kelemahan dalam sistem tes doping. Menurutnya, tes doping dalam sepakbola jauh lebih longgar daripada tes serupa di cabang olahraga lainnya. Dia mengaku bahwa dia dan kawan-kawan satu klubnya jarang menjalani tes doping, sementara atlit cabor lain, seperti pembalap sepeda dan atlet atletik, terus menerus menjalani tes doping.

Iklan

Saat membela Mainz di divisi dua Jerman, Lotfi menyempatkan diri kuliah S2 di jurusan Ilmu Olahraga di Johannes Gutenberg University. Berniat untuk mengedukasi sesama pesepakbola tentang bahaya doping, Lotfi mendedikasikan disertasinya untuk mengungkap apa yang diketahui atlet sepakbola profesional di Jerman tentang obat-obatan perangsang prestasi. Untuk mendapatkan data autentik, Lotfi mewawancarai mantan koleganya dan menemukan fakta nyaris 30 persen pemain di liga divisi dua Jerman saat itu mengaku melakukan doping.

Lantaran tak ada yang berani menuding bahwa salah satu timnas yang tersisa di babak semifinal Piala Dunia 2018 terlibat doping, kami memutuskan untuk ngobrol dengan Lotfi untuk mengetahui segampang apa seorang pesepakbola profesional melakukan doping dan melenggang begitu saja tanpa dikenai hukuman.

VICE: Kenapa kamu memutuskan menulis disertasi tentang doping dalam sepakbola?
Lotfi El Bousidi: Selama aku jadi pemain sepakbola profesional, aku cuma pernah dites doping sekali. Beberapa teman malah enggak pernah dites doping sama sekali sepanjang karir mereka. Aku memutuskan menulis tentang doping gara-gara inget cerita tentang pemain sepakbola tahun ‘80an dan ‘90an. Dulu mereka disuntik segala macam obat-obatan. Sekarang mereka mengalami macam-macam masalah kesehatan ekstrem.

Menurutmu, sebesar apa kemungkinan seluruh pemain di Piala Dunia 2018 bebas dari kasus doping?
Kalau menurutku, hampir enggak mungkin mereka enggak melakukan doping. Di turnamen-turnamen besar, baik itu Piala Dunia atau Liga Champions, setiap pemain dituntut selalu menampilkan performa terbaik mereka. Tuntutannya jauh lebih tinggi dibanding tuntutan untuk bermain brilian di level liga biasa. Makanya, pemain gampang sekali terpancing untuk melakukan doping. Belum lagi, tim mereka sendiri selalu meminta setiap pemain bermain di puncak performanya. Inilah kenapa aku berani taruhan bahwa jika semua pemain Piala Dunia 2018 menjalani tes doping yang benar, banyak yang akan gagal.


Tonton video tentang pengalaman Zinedine Zidane jadi juara piala dunia

Kira-kira berapa banyak pemain yang melakukan doping dalam Piala Dunia tahun ini?
Wah, aku enggak berani berspekulasi tentang jumlahnya ya. Di Bundesliga, lewat riset yang aku lakukan, aku menemukan fakta kalau 15 persen pemain melakukan doping, minimalnya satu kali. Di Spanyol, jumlahnya naik jadi 30 persen. Dan seperti aku bilang tadi tuntutan untuk bermain bagus di Piala Dunia lebih tinggi. Tapi, jangan lupa, kemungkinan tertangkap melakukan doping selama Piala Dunia juga tinggi loh.

Ada cara mengenali seorang pemain yang melakukan doping?
Cara yang pastinya tentunya cuma lewat tes doping. Penonton bakal sangat kesusahan—bukannya enggak bisa loh ya—mengenali mana pemain yang bersih dan mana yang menggunakan obat-obatan. Gampangnya gini deh, kalau sepanjang penyelenggaraan Piala Dunia semua anggota sebuah tim tetap bugar, apalagi kalau mereka melalui pertandingan sengit, aku sih langsung khawatir (kalau mereka melakukan doping). Di level setinggi Piala Dunia, tingkat kebugaran pemain harusnya sama. Enggak ada yang jauh lebih bugar dari lainnya.

Iklan

Beberapa orang mungkin masih ingat Dr Eufemiano Fuentes, yang tersangkut kasus doping besar-besaran di cabang bersepeda. Dia terang-terangan mengaku pasiennya enggak cuma pembalap sepeda. Pemain sepakbola profesional juga memanfaatkan jasanya.

Tapi, ada yang bilang kalau doping enggak ngaruh-ngaruh amat di kompetisi sepakbola
Menurutku sih, doping itu baru ngaruh kalau dilakukan sebelum turnamen besar seperti Piala Dunia daripada kalau dilakukan selama kompetisi berlangsung. Dalam turnamen besar, frekuensi pertandingannya padat. Pemain cuma punya sedikit waktu untuk memulihkan diri. Tapi, ada beberapa cara yang bisa dilakukan sebelum turnamen untuk membiasakan badan agar terbiasa memulihkan diri lebih cepat dan memperlambat datangnya rasa lelah—termasuk cara mengusir rasa sakit. Masalahnya, metode ini sangat berisiko bagi tubuh. Bisa-bisa tubuh tahu enggak tahu kapan harus istirahat.

Pemain itu sebenarnya selalu sadar enggak sih kalau mereka melakukan doping?
Enggak mesti sih. Salah satu temuan yang paling mencengangkan dari proses penulisan disertasiku adalah banyak mantan kawan satu timku enggak tahu obat-obatan apa saja yang masuk daftar obat terlarang. Jarang juga yang mau repot-repot bertanya apa sih obat-obatan yang diberikan pada mereka, bahkan sampai mereka terbukti melakukan doping. Malah, mereka mungkin enggak pernah mendengar nama obat yang bikin mereka tersangkut kasus doping.

Iklan

Sepanjang karirmu, kamu pernah dikasih obat-obatan yang mencurigakan?
Seingatku sih enggak. Tapi, aku enggak tahu pasti ya.

Apa pemain melakukan doping secara mandiri atau mereka dapat bantuan dari tim dokter dan pelatih mereka?
Sejumlah pemain yang aku wawancarai mengaku pernah membeli steroid di pasar gelap sendirian. Tapi, mereka ini adalah pemain yang ingin cepat pulih setelah kena cedera parah.

Apa yang kamu ingin capai lewat disertasi kamu?
Pada dasarnya, aku ingin mengedukasi kolega-kolega sesama pemain sepakbola profesional tentang risiko doping karena kebanyakan mereka masih awam perihal doping. Terus, pesepakbola profesional itu seharusnya jadi contoh. Semenjak risetku diterbitkan, VDV (persatuan pesepakbola profesional Jerman) mulai menunjukkan perhatian lebih pada edukasi dan pencegah doping.

Apa yang kamu lakukan agar-agar pemain yang kamu wawancarai mau berterus terang tentang doping?
Aku kenal baik dengan mereka jadi mereka nyaman ngomong blak-blakan. Aku juga hanya melakukan survei di negara tempat dulu aku pernah bermain dan punya banyak kenalan. Yang penting adalah mereka menganggapku sama seperti mereka. Kalau enggak ya, mereka enggak nyaman ngomong blak-blakan. Setelah itu, aku harus bisa menyakinkan nama mereka akan dirahasiakan dan tak ada yang bisa melacak mereka dari jawaban-jawaban yang diberikan selama survei.

Paolo Guerrero, kapten timnas Peru, nyaris absen di Piala Dunia tahun ini gara-gara terbukti positif doping karena mengonsumsi teh mengandung kokain. Apakah pemain yang gemar pesta obat-obatan nyaris pasti terbukti positif doping?
Ya iyalah. Malah sebenarnya, ikut pesta obat-obatan itu lebih merusak imej daripada ketahuan doping. Makanya, sebagian besar pemain sepakbola profesional menghindari penggunaan obat-obatan untuk bersenang-senang.

Kamu masih bisa menikmati sepakbola meski banyak pemainnya melakukan doping?
Iya dong. Cintaku pada sepakbola enggak pernah luntur.