Kemajuan teknologi

Tiongkok Bernafsu Jadi Negara Pertama yang Mendarat di Sisi Terjauh Bulan

Baru-baru ini, Negera Tirai Bambu itu meluncurkan sebuah satelit komunikasi yang bakal mengorbit bulan. Satelit ini akan menjadi penyambut komunikasi antara wahana pendaratan yang dikirim ke sisi jauh bulan dan bumi.
23.5.18
Foto : Getty Images

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Minggu malam lalu, China National Space Administration meluncurkan sebuah satelit komunikasi dengan menggunakan sebuah roket Long March. Satelit itu akan menempuh perjalanan sejauh lebih dari 450.000 km menuju orbit bulan. Satelit pengorbit bulan itu adalah langkah pertama yang ditempuh oleh Republik Rakyat Tiongkok untuk mewujudkan ambisinya menjadi negara pertama yang berhasil mendaratkan wahana luar angkasa di sisi jauh bulan.

Iklan

Sebagai satelit komunikasi relay pertama di orbit bulan, nama yang diberikan untuk satelit tersebut, Queqiao, sangatlah cocok. Dalam bahasa Indonesia, kata tersebut berarti Jembatan Murai. Nama tersebut mengacu pada burung dalam dongeng tradisional Cina yang membangun jembatan sekali dalam setahun agar dua sejoli yang terpisahkan bisa bertemu. Seperti burung Murai, Queqiao akan bertugas sebagai penghubung antara wahana pendaratan bulan Chang’e-4 pyang rencananya akan diluncurkan menunju sisi jauh bulan tahun ini dengan stasiun-stasiun komunikasi di Bumi.

Kendati berotasi, hanya satu sisi bulan yang menghadap bumi. Ini terjadi karena lama rotasi bulan di atas porosnya sama dengan dengan waktu yang dihabiskan bulan untuk mengitari Bumi. Biar lebih gamblang, silakan perhatikan ilustrasi di bawah ini:

Imbas fenomena ini, yang biasanya dikenal dengan sebutan tidal locking, akan langsung dirasakan oleh Chang'e-4. Wahana pendaratan itu dipastikan tak bisa mengontak stasiun komunikasi di Bumi. Alhasil, wahana itu harus mengandalkan Queqiao untuk meneruskan pesannya hingga sampai di Bumi.

Satelit Queqiao juga membawa sebuah antena yang dikembangkan bersama dengan Netherlands Institute for Radio Astronomy dan akan ditempatkan di orbit bulan, lebih dari 64.000 KM di belakang bulan. Antena tersebut akan dimanfaatkan untuk memelajari pembentukan bintang tak lama setelah Bing Bang dengan memerhatikan sinyal frekuensi rendah yang sudah dideteksi dari Bumi karena interferensi atmosfer Bumi.

Iklan

Nanti, saat wahana Chang’e-4 diluncurkan menuju sisi jauh Bulan tahun ini, wahana tersebut akan membawa ulat sutra dan bibit kentang dan sejumlah instrumen penelitian sains. Chang’e-4 adalah dari rencana besar eksplorasi luar angkasa yang dicanangkan Chinese Space Agency. Salah satu target yang harus dicapai dalam rencana ini adalah pendirian “Istana” bulan di kutub selatan bulan pada 2030.

Peluncuran Queqiao memungkasi sejumlah capaian berarti dalam beberapa bulan terakhir yang dicapai Cina yang berusaha menjadikan dirinya sebagai “ kekuatan besar dalam penerbangan luar angkasa” seperti yang dicanangkan oleh Presiden Xi Jinping. Tahun lalu, China National Space Administration memakai satelit quantum untuk mengirim sebuah foton yang sudah terlebih dahulu dipisahkan dari luar angkasa ke Bumi. Awal Bulan ini, roket pertama bikinan perusahaan swasta Cina diluncurkan dalam rangka ikut meramaikan kancah layanan penerbangan ke orbit Bumi yang masih dimonopoli perusahaan-perusahaan Amerika Serikat seperti SpaceX.

Perkembangan program eksplorasi luar angkasa Tiongkok yang meningkat pesat beberapa tahun belakangan ini memaksa AS untuk mengenjot kemampuan perang luar angkasanya. Pemerintahan Presiden Donald Trump sampai berkeinginan untuk membentuk “angkatan luar angkasa” dan Departemen Pertahanan Negara Adidaya itu menghamburkan budget untuk melatih anggota militernya keahlian berperang di luar angkasa.

Sementara AS mengambil posisi bertahan, negara-negara lain di dunia justru menyambut hangat ambisi Tiongkok menjadi salah satu pemain utama di kancah eksplorasi luar angkasa. European Space Agency misalnya sudah menunjukkan ketertarikannya nebeng roket-roket buatan Cina dan telah membicarakan perihal kerja sama membangun pangkalan di Bulan dengan Negeri Tirai Bambu. Badan Federal Antariksa Rusia, Roscosmos, juga diberitakan dekat China National Space Administratio. Dua agen antariksa tersebut telah banyak bertemu untuk mendiskusikan berbagai misi-misi kerjasama antara keduanya. Sementara itu, NASA, menurut peraturan yang berlaku di AS, dilarang bekerja sama dengan Cina.

Di masa ketika pemerintahan Trump berusaha mengenyahkan beberapa program strategis NASA, rasanya tak aneh jika Negeri Paman Sam dibikin kecut oleh capaian-capaian gemilang program eksplorasi luar angkasa Tiongkok belakangan ini.