Pemalsuan Identitas

Pengakuan 'Faker' Online, Sanggup Memperdaya Orang Agar Mau Pacaran Tanpa Ketemuan

Tren persona fiktif, populer disebut catfish, marak selama kurun 2008-2011. VICE Indonesia menghubungi salah satu pelaku, memintanya menjelaskan alasan mau repot membangun identitas palsu di Internet demi hubungan romantis.
3.4.18
Aku masih ingat hari itu, di bulan Mei 2017, ketika baru menginjakkan kaki di Jakarta setelah seminggu berlibur di Hong Kong. Badanku tiba-tiba terasa sakit. Meriang di pagi sampai sore, dan hilang saat malam. Aku pikir itu cuma karena kecapekan. Tapi sel
Kolase foto dan ilustrasi oleh Dicho Rivan Firman. 

Aku memahami perasaan siapapun itu yang menulis seri twit tentang pacaran sama pemalsu identitas online selama lima tahun. Kasus pengguna Twitter bernama Adora itu ekstrem banget sih, tapi tetap saja aku merasa relate. Kenapa? Karena aku pernah mengalaminya sendiri pada 2009 lalu. Yup, aku juga punya pasangan online seperti Adora yang terperdaya Hilman alias Alina. Si Adora menyebut kekasih virtual yang mempermainkan perasaannya itu sebagai faker.

Iklan

Sebenarnya kalau kalian jeli, praktik macam ini di Internet punya sebutan yang lebih populer karena sudah berulang kali terjadi: catfish. Secara sederhana istilah catfish artinya memancing seseorang menjalin hubungan romantis denganmu, tapi dengan cara memperdaya si doi lewat persona online yang fiktif. Istilah ini dikenal publik berkat film dokumenter berjudul sama garapan sutradara Nev Schulman yang tayang di Sundance pada 2010.

Di masa itu, gampang banget memperdaya orang lewat persona fiktif via Internet. Cuma butuh foto Facebook curian, ditambah kemudahan membuat akun Facebook tanpa verifikasi lebih lanjut delapan tahun lalu membuat pemalsuan identitas semakin mudah saja. Selain itu seorang pemalsu hanya butuh nomor telepon anyar, dan kemampuan meyakinkan lawan bicaramu kalau persona ini adalah sosok yang benar-benar nyata.

Makanya menjalin cinta secara online, seiring semakin murahnya akses Internet pada kurun 2008-2011, ngetren di berbagai negara. Tren serupa terjadi pula di Indonesia. Aku mengalami catfishing saat masih berada di kelas 3 SMP. Awalnya ada adik angkatan di sekolahku yang mengajak berkenalan. Namanya Teresa. Kami segera berteman akrab. Kami kerap betukar cerita. Aku curhat soal keinginan punya pacar, sementara dia balas cerita masalah keluarga dan pertemanan. Tak lama, Teresa menawarkan diri jadi mak comblang, menjodohkanku dengan seorang laki-laki yang untuk artikel ini sebut saja namanya Mister.

Iklan

Persis seperti Adora, aku mulanya yakin-yakin saja si Mister orang sungguhan. Teresa, sobat baruku, bilang Mister adalah sepupunya. Rasa percaya itu sayang tidak bertahan lama. Kecurigaan mulai muncul saat si Mister tak pernah bisa ditemui. Alasannya menolak ketemu macam-macam. Mulai dari harus berobat ke rumah sakit di Australia (oh iya, dia cerita kalau dia punya penyakit jantung) hingga sedang bepergian dengan keluarga besar. Sekadar bisa bertemu sama Mister itu lebih susah daripada mendaftar CPNS. Karena bertambah curiga, aku bikin investigasi kecil-kecilan. Mulai dari mencoba telepon ke nomor "pacar" dan Teresa bersamaan, meminta video call melalui messenger, hingga menanyakan alamat rumah Mister. Barulah dari berbagai usaha tadi aku tahu kalau Mister mencomot foto artis tampan (tapi tak terkenal), mengirimkan kado ke rumah.

Setelah sembilan bulan lamanya aku mengalami siklus curiga-kembali sayang-sesudahnya curiga lagi terbongkarlah semua drama dan permainan peran Mister. Kebohongan Mister tak bisa lagi ditutup-tutupi. Teresa tak lain adalah Mister, dan Mister hanyalah tokoh khayalan yang dia buat demi memacariku. Namun, karena marah setelah Teresa mengaku salah, aku tak mau berkomunikasi dengannya. Aku jadi tidak pernah tahu apa alasan Teresa sampai rela menghabiskan waktu sedemikian lama cuma untuk membangun sosok fiktif dan menjalin hubungan romantis.

Anes (23 tahun) asal Jakarta, lebih beruntung. Setidaknya dia mengetahui apa alasan "si manusia lele" (alias catfish) memperdayainya. Hubungan asmara via dunia maya yang dia jalani tujuh tahun lalu ternyata dijalani bareng teman sekelasnya sendiri. Anes berkenalan melalui Facebook, lalu berlanjut mengobrol lewat SMS dan telepon. Awalnya tidak ada yang mencurigakan. Hubungan itu berjalan selama empat bulan lamanya.

Iklan

“Gue bahagia-bahagia aja waktu itu,” kata Anes. Namun, kecurigaan mulai muncul di bulan ketiga hubungan berjalan. Sebab, ia tak pernah bisa menghubungi nomor pacarnya saat di sekolah. “Makin curiga soalnya pas gue telpon hape cewek gue waktu itu, yang geter malah hape si anak kelas gue ini.”

Kecurigaan yang muncul dua bulan terakhir pun benar adanya. Anes mengajak bicara langsung si ‘pelaku’. Saat itu, motif pemalsuan identitas ini didasari dari rasa suka yang mendalam, tetapi dia yakin akan sulit berbalas, karena mereka sama-sama perempuan.

Lantas, apa sih motivasi seseorang tega memperdaya orang lain dengan cara menyaru sebagai "ikan lele"? Aku menghubungi salah satu pelakunya.

Namanya Jessica (24), panggilannya Acha. Dia tinggal di Bekasi. Setelah ramai cerita Adora-Alina-Hilman di Twitter, Jessica mengaku bisa memahami kenapa Alina harus sampai memperdaya orang yang dia sukai memakai persona online. Dia sendiri menjadi seorang faker pada 2011. Motivasi Acha tidak sama persis dengan Alina yang harus menyamar jadi orang lain karena yang disukainya sama-sama perempuan. Dalam tipu dayanya, Jessica tetap menjadi perempuan, namun identitasnya sepenuhnya berbeda demi mengelabui lelaki incarannya.

“Aku pernah jadi Alina. Bedanya, yang aku kerjain adalah temenku sendiri yang aku kenal dekat. Sampai sekarang, yang tahu kejadian ini cuma aku, dia yang aku kerjain, dan satu sahabatku yang baru aku beri tau awal tahun ini,” kata Jessica. Menurut Jessica, dia memakai metode catfsih karena sering menjadi "pacar pelarian" dari laki-laki yang dia sukai itu.

Iklan

“Jadi tujuannya dulu tuh selain iseng, bosen aja jadi ban serep mulu.”

Untuk memuluskan niatnya, Jessica menghubungi ‘korban’ melalui pesan singkat dan Facebook palsu. Dengan dalih salah nomor, Jessica meminta maaf dan mengajak ‘korban’ berkenalan. Seperti halnya proses mendekati seseorang, Jessica terus melancarkan pesan singkat dan meningkatkan intensitas percakapan. Hubungan ‘asmara’ itu berjalan dua bulan lamanya. Sampai suatu ketika, korban mulai curiga kalau pacar dunia mayanya ini bukan sosok nyata.

“Dia mulai ngeh aku kerjain pas mulai sering tilpunan gitu soalnya kadang suka ada adek aku manggil gitu jadi kayaknya dia denger,” ungkap Jessica. Moment of truth pun dimulai. Jessica mengaku bahwa dirinya yang selama ini menjadi ‘pacar’ korban. Ia juga menjelaskan seluruh identitas yang ia buat adalah identitas palsu. “By call apa SMS gitu, enggak ketemu langsung.”

Psikolog Kasandra Putranto saat dihubungi VICE, menyebutkan alasan seseorang melakukan pemalsuan identitas online karena merasa dirinya yang asli kurang diterima. Mereka rela menjadi sosok berbeda yang lebih sesuai dengan harapan orang lain, supaya dapat menjadi bagian dari suatu kelompok atau diterima secara sosial.

“Pemalsuan identitas, semisal penampilan fisik, masa lalu, data diri, dan lain-lain akan selalu ada selama kondisi seseorang tidak sesuai dengan tuntutan yang ada,” kata Kasandra kepada VICE. Terlebih, kehadiran teknologi yang tak membutuhkan keaslian diri seseorang dapat disalahgunakan sebagai alat penipuan, seperti dalam kasusku, Anes, Jessica dan Adora di Twitter.

Iklan

“Kecanggihan teknologi akan dimanfaatkan dan disalahgunakan oleh individu dengan karakter manipulatif. Sebaliknya teknologi juga akan semakin memberikan kesempatan bagi seseorang untuk semakin manipulatif,” tambahnya.

Penjelasan serupa juga diberikan Chris Fullwood, pakar psikologi cyber dari University of Wolverhampton. Dia bilang, identitas fiktif terbangun karena budaya online itu sendiri. Di masa ketika kita semakin mudah mengambil dan membagikan swafoto lewat media sosial (atau bahkan mencuri foto orang lain), maka konsep identitas dunia maya bertambah cair. "Kita tidak lagi memiliki identitas yang stabil dan tunggal di masa sekarang," ujarnya. "Kita terbiasa menyajikan kepribadian berbeda untuk lingkungan dan individu yang berbeda-beda."

Sekarang sih makin sulit memperdaya orang dengan cara-cara lama tadi. Pengguna medsos semakin canggih melacak identitas orang yang baru dikenalnya di dunia maya. Namun peluang kita dikelabui persona fiktif tetap terbuka. Laporan terbaru menunjukkan adanya tren pemakaian identitas palsu via aplikasi kencan semacam Tinder.

Sekali lagi, sebagai sesama korban manusia ikan lele, aku tetap memahami kalau masih ada saja orang di masa sekarang jatuh dalam perangkap tipu daya persona fiktif. Kalian mungkin saja bisa mempelajari ciri-ciri orang yang berkomunikasi itu tak nyata, bila selalu mencari alasan saat diajak ketemuan, agak aneh cara menerima teleponnya, atau foto-fotonya cenderung selalu profesional. Tapi balik lagi, ini bukan perkara kecanggihan teknik manipulasi foto atau mengakali medsos dan aplikasi kencan. Sasaran manusia ikan lele adalah perasaanmu. Hanya kamu yang bisa membentenginya.

Aku pun sekarang sadar, dulu bisa terperdaya sama kekasih online lantaran kepalang cinta. Apalagi, Alex Turner dkk juga sudah memperingatkan, cinta bukan cuma membutakan, tapi juga sanggup membuat kalian sekaligus tuli terhadap semua bahayanya.