Bukan Iklan Nih

Pilihan Minuman Soda Menggambarkan Kelas Sosialmu Lho

Enggak nyadar ya? Milih Pepsi atau Coca-Cola itu enggak sekedar selera perorangan. Setidaknya itu terbukti di AS.
28.4.18
Foto ilustrasi via wikimedia commons

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES

Pada 1984, raksasa minuman ringan, Coca-Cola dan Pepsi, memasuki persaingan luar angkasa, masing-masing berlomba supaya produknya lah yang pertama kali dikonsumsi oleh kru pesawat ulang alik Challenger. Rivalitas keduanya adalah sebuah kampanye pemasaran yang sangat mahal dan menegaskan komitmen Pepsi maupun Coca-Cola dalam rangka mendominasi dunia. Nampaknya planet Bumi pun tidak cukup menampung ambisi dua perusahaan itu.

Iklan

Kedua merek ini akhirnya sukses mendaratkan minuman mereka ke tangan para astronot, setelah susah payah berkutat dengan sains yang ribet untuk mencari cara mengkonsumsi minuman bersoda di luar angkasa. Hasilnya? Konsumen tidak terbuai, dan kru mengabarkan bahwa keduanya terasa tidak enak dalam situasi gravitasi nol. Tapi detail macam itu tidak penting lagi. Usaha gila Pepsi dan Coca-Cola bukan tentang produknya lagi, tapi lebih didasari pertarungan supremasi soda yang kini sudah berlangsung selama lebih dari 120 tahun.

Sementara raksasa industri minuman berkarbonasi saling beradu, kompetitor lainnya yang lebih kecil mulai bermunculan. Para kompetitor ini tidak bertujuan melihat produk mereka diminum oleh selebriti, tapi untuk mengambil area kultur yang berbeda namun tetap penting. Apabila Coca-Cola dan Pepsi mengejar dominasi global, brand-brand alternatif ini membahas isu kelas sosial dan identitas pribadi. Mereka dikenal sebagai Coca-Cola generik atau off brand cola.

Coca-cola generik ini seolah mewakili para konsumernya. Kulkas berisikan minuman soda generik ini memberi kesan penghuni rumah yang miskin dan aneh. Minuman ini ditawarkan seharga 60 sen dari mesin penjual otomatis di luar supermarket Kmart, tempat orang-orang membeli pakaian pabrikan murah. Teman-temanmu yang kaya sudah pasti tidak menyimpan minuman-minuman ini dalam dapurnya.

Namun minuman soda generik ini juga sebuah berkat, bukan karena rasanya yang biasa banget, tapi karena mereka mewakili semacam semangat perlawanan bagi mereka-mereka yang tidak selalu punya akses ke hal-hal yang lebih baik kualitasnya. Ini adalah jenis minuman yang kamu tengguk diam-diam di tempat parkir setelah menyelesaikan kegiatan ekstrakulikuler hingga sore di sekolah. Setelah habis, kamu mengisap rokok pertamamu, dan membuang abunya ke dalam kaleng.

Pepsi dan Coke, dengan segala aspirasi pasar besarnya, tidak menciptakan kenangan khusus. Mereka adalah produk bagi orang-orang yang ingin bahagia; orang-orang yang hidupnya tertata, orang-orang yang populer dan ambisius.

Coca-cola, sebaliknya, ditujukan bagi orang-orang yang tidak ambil pusing. Mereka cocok bagi mereka yang ingin mengkonsumsi gula, soda, menikmati hidup, dan tidak berpikir macam-macam. Mereka yang menolak dibungkam oleh kode-kode sosial tidak terlihat dan menyediakan makanan dan minuman murah dalam acara ulang tahun anak mereka sendiri.

Para konsumer ini acuh tidak acuh akan penilaian orang tua lain, karena mereka sadar mereka menjalani kehidupannya sendiri, bukan kehidupan yang dijual ke mereka. Dan mereka akan membilas rasa kepuasan itu dengan sekaleng coca-cola murah. Off-brand.