FYI.

This story is over 5 years old.

media sosial

YouTuber Skotlandia Divonis Bersalah Karena Mengajari Anjing Pug Salam Salut Nazi

Mark Meechan, atau “Count Dankula,” mengaku kalau videonya cuma guyonan. Malang, pengadilan Skotlandia tetap memvonisnya bersalah karena videonya dinilai kelewat ofensif. Makanya bray, jangan sembarangan bikin konten YouTube atau meme di internet.
Dicuplik dari YouTube

Seorang pria yang mengajarkan seekor pug melakukan salam ala Nazi tiap kali mendengar kalimat macam “gas the jew” dan "Sieg Heil” dinyatakan bersalah karena telah melakukan tindakan yang “kelewat ofensif” oleh pengadilan Skotlandia dan kini tengah menunggu vonis dijatuhkan.

Mark Meechan, seorang pria berumur 30 tahun, mengunggah video Buddha, seorang anjing pug, ke kanal YouTubenya “Count Dankula” pada April 2016. Video tersebut sampai saat ini telah ditonton lebih dari tiga juta kali. Namun, setelah beberapa penonton video melaporkan konten kebencian dalam videonya, polisi segera menangkap Meechan lantaran dianggap telah menyebarkan ujaran kebenciran. Selasa lalu [19/3], pengadilan Airdrie Sheriff memvonis Mechan bersalah karena dianggap “kelewat ofensif” menurut Undang-Undang Komunikasi Inggris tahun 2003.

Iklan

Mechan mengklaim bahwa video tersebut diunggah dengan satu tujuan: bikin pacarnya, Suzanne Kelly, sang pemilik pug, keki. Kelly sendiri mengonfirmasi kepada Daily Record bahwa video tersebut “memang dibuat agar saya keki jadi pacar saya tak bilang-bilang sampai videonya viral. Pacar saya enggak nyangka kalau videonya bakal viral.”

Jika Meechan diputuskan bersalah atas kejahatan kebencian, menurut Undang-Undang Komunikasi, Meechan bakal dihukum kurungan selama enam bulan dan membayar sejumlah denda.

Sheriff Derek O'Carroll, hakim yang memimpin sidang pembacaan vonis Meechan di Scottish Sheriff Appeals Court, mengatakan bahwa alasan Meechan dan pacarnya cuma sebuah omong kosong belaka. “Dalam pandangan saya, video ini sudah kelewat kurang saja, “ kata O’Carroel, menurut Daily Record. “Dalih video ini cuma kelakar belaka bukanlah tongkat sihir yang mengubah segalanya. Pengadilan ini menghormati kebebasan berbicara, tapi kebebasan tersebut dibarengi dengan tanggung jawab.” Meechan sendiri sadar bahwa videonya sangat ofensif dan bermaksud menggunakan konten anti-Yahudi dalam video itu untuk memancing penonton melihat isi kanal pribadinya yang lain, ujar sang Sheriff.

Sampai saat ini, Meechan belum membalas permintaan wawancara kami.

YouTube sendiri pada dasarnya penuh dengan video ujaran kebencian dan propaganda neo-Nazi dan kebanyakan jauh lebih ofensif dari video pug mengangkat salah satu kakinya. YouTube mengklaim tengah berupaya menghapus konten-konten kebencian dari platformnya. Namun, yang jelas, kasus Meechan mengajarkan satu hal: mengunggah kelakar berbau konten kebencian punya konsekuensi tersendiri.

Sidang kasus Meechan menarik perhatian dan dukungan dari kaum kanan ekstrem. Bahkan, Infowars menyempatkan diri meliput kasus ini dan membela “kebebasan berpendapat” Meechan. Mantan pemimpin English Defence League Tommy Robinson (nama sebenarnya Christopher Lennon), secara pribadi hadir dalam sidang untuk memberi dukungan pada Meechan.

Seperti hikmah yang kita tarik saat Harvard menolak pendaftarkan 10 calon mahasiswanya, meme tak cuma sekadar meme.