konflik Israel-Palestina

Sejarah Panjang Unjuk Rasa Warga Palestina Merayakan Momen Hari Tanah

Kekerasan tentara Israel pada warga Palestina sudah rutin terjadi. Namun kerusuhan saat Hari Tanah diperingati akhir Maret lalu, yang menewaskan 18 orang, punya konteks berbeda.
06 April 2018, 6:52am
Foto kiri: tentara Israel yang berpatroli di wilayah Palestina oleh JACK GUEZ/AFP/Getty Images. Foto kanan: Warga melempar batu ke arah militer Israel dalam peringatan hari tanah. Foto oleh Mustafa Hassona/Anadolu Agency/Getty Images

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US

Jumat pekan lalu, tentra Israel menembaki ratusan pengunjuk rasa yang berkumpul di dekat perbatasan antara Gaza dan Israel. 18 orang dinyatakan tewas dan 700 lainnya menderita luka-luka. Demonstrasi itu digalang untuk memeringati “Hari Tanah”, perayaan tahunan mengenang perlawanan sipil rakyat Palestina. Rekaman video kejadian menunjukkan pengunjuk rasa ditembak dari jarak jauh oleh tentara Israel, kendati tak ada satupun yang membawa senjata atau berusaha melarikan diri.


Tonton video dokumenter VICE soal perjuangan rakyat Palestina di Tepi Barat melawan pendudukan Israel:


Insiden ini mengundang kecaman dari berbagai LSM, salah satunya Human Rights Watch—yang menyebut tindakan tentara Israel "melawah hukum” dan “penuh perhitungan.” Bernie Sanders juga ikut berang dan segera berkomentar lewat akun Twitter pribadinya, “pembantaian demonstran Palestina oleh tentara Israel di Gaza adalah sebuah peristiwa tragis. Adalah hak semua orang untuk melakukan unjuk rasa guna mewujudkan masa depan lebih baik tanpa harus ditanggapi dengan respon yang bengis.”

Pemerintah Israel berdalih bahwa pihaknya hanya membela diri, mengklaim bahwa para demonstran punya kaitan dengan Hamas dan mereka mulai melempar bom molotov serta batu, serta beberapa barang lainnua. Kepala Divisi Hubungan Luar Negeri Likud, Partai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Elli Hazan, bahkan dengan berani menggap bahwa “keseluruhan 30.000 demonstran” adalah “target sah” tentara Israel.

Setelah diverifikasi, apa yang dikatakan Hazan tak berdasar. Beberapa saat sebelum unjuk rasa berlangsung, seorang pejabat Israel mengunggah sebuah video yang oleh beberapa pakar dianggap sebagai vidoe persiapan tentara Israel menyambut unjuk rasa memperingati Hari Tanah. Tampak tentara Israel mengisi dan menembakkan peluru senapan snipernya disertai caption dalam bahasa Arab yang memperingatkan warga Palestina agar menjauhi daerah perbatasan.

Lantaran jumlah korban jiwa yang tinggi dan kebengisan tentara Israel, insiden ini muncul meski cuma selewat dalam liputan media barat tentang konflik antara Israel dan Palestina yang sudah berjalan sealam beberapa dekade. Meski demikian, bagi rakyat Palestina, Hari Tanah bukanlah peristiwa sepele.

Ini adalah salah satu titik penting sejarah panjang perlawan sipil rakyat Palestina. Untuk mendapatkan sudut pandang yang tepat untuk memahami asal-usul peringatan 'Hari Tanah', serta nilai historis dari salah satu insiden paling berdarah dalam konflik di Palestina, kami ngobrol bersama Noura Eraka. Dia adalah pengacara hak asasi manusia berdarah campuran Amerika—Palestina. Eraka sedang menyiapkan buku yang rencananya dia beri judul Justice for Some: Law as Politics in the Question of Palestine.

VICE: Halo Eraka, Bisa tolong jelaskan situasi yang memicu konflik saat perayaan Hari Tanah tahun ini?
Noura Eraka: Sebelum sampai ke sana, kita harus kembali melihat sejarah perang Arab—Israel pada 1948. Kita juga perlu jeli memantau apa yang dilakukan pemerintah Israel saat itu. Delapan puluh persen dari populasi asli Palestina dipaksa angkat kaki dari wilayah yang kelak menjadi Israel. Mereka kemudian dilarang kembali dan tak mendapatkan kesempatan rehabilitasi. Israel sendiri menganggap aksinya mutlak diperlukan untuk menciptakan demografi mayoritas Yahudi. Akibatnya, semua pengungsi Palestina dianggap sebagai ancaman bagi keberlangsungan hidup penduduk Israel. Para penduduk yang tak ikut digusur—jumlahnya mencapai 160 ribu—harus menjadi pengungsi internal setelah penerapan undang darurat militer selama 18 tahun, dari 1948 hingga 1966. Dalam sudut pandang ini, walaupun tak dianggap sebagai ancaman demografis, rakyat Palestina ini dianggap sebagai klaim kedaulatan bangsa Yahudi—dan untuk memastikan kedaulatan ini tetap ada, kamu harus mengikis, menolak dan menghapus keberadaan populasi asli yang lebih dulu punya klaim kedaulatan.

Terdapat banyak sekali dalih hukum yang digunakan untuk menyerobot tanah miliki rakyat Palestina antara tahun 1948 dan unjuk rasa Hari Tanah pertama di wilayah yang kini menjadi Israel. Benar begitu?
Dalam kerangka rezim militer, Israel hanya menjalankan program penarikan tanah yang digalang dalam empat tahap. Pada 1960, sekitar dua juta dunum dari lahan pribadi milik rakyat Palestina dirampas tanpa ganti rugi dan ditandai sebagai pemukiman Yahudi, entah itu yang diprakarsai Jewish National Fund atau di bawah Otoritas Tanah Israel lewat apa yang mereka sebut sebagai administrasi tanah negara.

Setelah 18 tahun memberlakukan darurat militer, penduduk Palestina dalam wilayah Israel secara teknis diberi kewarganegaraan Israel dan membentuk partai politik, apakah ini yang memicu muncul unjuk rasa modern di wilayah Gaza?
Pada 1976 , Abnaa’ al Balad (Anak-anak Negeri)—sebuah partai politik secara tegas tidak mengakui keberadaan Israel—mendeklarasikan Hari Tanah sebagai cara memprotes penyerebotan lahan orang-orang Arab yang diubah sepihak jadi pemukiman Yahudi di dalam wilayah Israel. Pada hari unjuk rasa digelar, enam pengunjuk rasa tak bersenjata—yang punya kewarganegaraan Israel ditembak mati tentara. Inilah yang terus diperingati saban tahun.

Apa makna merayakan Hari Tanah di zaman sekarang, di tengah blokade yang dilakukan oleh Israel dan Mesir, serta memburuknya kondisi ekonomi di Gaza?
Hari Tanah hanyalah salah satu dari insiden kekerasan ekstrem di sana. Di sisi lain, peringatan Hari Tanah menegaskan fakta rakyat Palestina menolak batas demarkasi arbitrer yang berusaha diwujudkan oleh Israel guna memisahkan Gaza, Tepi Barat, pengungsi, dan rakyat Israel. Dalam benak penduduk Palestina, mereka yang ada di sana adalah satu bangsa dan pembatasan tersebut adalah sesuatu yang kejam. Namun, dalam fragmentasi inilah, semua kebijakan Israel terhadap penduduk Palestina diniatkankun untuk menghapus, memiskinkan dan melokalisasi mereka. Prinsipnya, jika mereka tak bisa mengusir penduduk Palestina, Israel akan menempatkan mereka di sebuah kawasan yang sangat kecil—ini yang jelas-jelas terjadi di Tepi Barat.

Hal yang sama juga berlaku di Jalur Gaza, yang merupakan konsentrasi terbesar penduduk Palestina. Sebenarnya, kalau dilihat lagi, konsentrasi macam ini sebenarnya juga ditemukan di kawasan Israel. Makanya, kita kini bisa melihat sendiri bagaimana Israel memaksa populasi warga Palenstina di Gurun Negert angkat kaki. Israel berusaha menampung mereka dalam sebuah perkampungan urban. Konsentrasi penduduk Palestina terbesar bisa dijumpai di bagian Utara Galilea.

Apa yang membuat unjuk rasa tahun ini mudah memicu tindakan keras tentara Israel?
Tahun ini, penduduk Palestina di kawasan Gaza—sebagai bagian dari perjuangan akar rumput—memutuskan untuk menggelar long march besar-besaran dari tanggal 30 Maret sampai 15 Mei mendatang. Selain memeringati Hari Tanah, kegiatan kali ini juga dilaksankan untuk mengenang Nakba atau malapetaka bagi Palestina yang terjadi pada 15 Mei 1948. Inilah konteks dari apa yang terjadi minggu lalu—dan semua ini tak tiba-tiba muncul begitu saja. Warga Palestina menggelar unjuk rasa setiap tahun di seluruh penjuru dunia, namun tahun ini berbeda karena satu, pesertanya sangat banyak serta dua, peringatan yang paling besar digelar di Gaza, daerah yang dijaga ketat oleh Israel dengan pengepungan dan pemblokiran laut.


Baca wawancara VICE dengan penduduk Tepi Barat dan Israel yang sama-sama lelah dengan semua pertikaian selama ini:

Pemerintah Isreal menolak mengakui bukti-bukti bahwa para pengunjuk rasa tak bersenjata. Mereka malah menegaskan campur tangan Hamas dalam unjuk rasa kemarin, apakah pembenaran ini sebenarnya punya dasar?
Satu-satunya cara agar alasan Pemerintah Isreal masuk akal adalah jika kamu menerima anggapan penduduk Palestina selalu membahayakan nyawa orang Yahudi, hanya dengan menampakkan diri. Siapapun yang waras tahu kalau pola pikir Israel tak masuk akal. Ini mirip seperti kita berusaha mati-matian memasukan sebuah persegi dalam sebuah lingkaran—semua tak berasal. Jelas-jelas tak ada ancaman mematikan dalam unjuk rasa minggu lalu. Tak ada satupun ancaman yang diarahkan ke penduduk Isreal. Unjuk rasa itu adalah perwujudan gerakan akar rumput yang dikooptasi partai politik yang punya prinsip non-kekerasan karena mereka sadar akan kehilangan lebih banyak jika mengambil jalan kekerasan.

Media arus utama internasional rutin meliput insiden di Palestina, tapi melupakan konteksnya, apa benar begitu?
Siklus media arus utama tak dirancang memahami apalagi merespon berbagai macam unjuk rasa besar-besaran yang digalang warga sipil. Penyebabnya adalah karena media arus utama hanya terpaku pada satu jenis diskursus kekerasan. Alhasil, makin susah bagi mereka untuk memisahkan mana kekerasan yang diperkenankan oleh hukum dan mana yang tidak dalam konsteks Palestina karena kita tak lagi berada dalam momen-momen anti kolonial. Palestina (khususnya Gaza) muncul sebagai salah satu koloni terakhir—bukan satu-satunya yang tersisa—dan kini tenggelam dalam kerangka perang global melawan terorisme yang mengaburkan sejarah panjang dan kaya yang menempatkan perlawanan rakyat Palestina sebagai perlawanan terhadap kolonialisme.

Pihak berwenang Israel menampik bahwa Gaza tengah dikepung oleh Israel—salah satu point penting dalam saga panjang melawan Israel, bagaimana pendapatmu tentang ini?
Seperti sudah jelas sekali kalau Israel mengepung Gaza. Ada jalan masuk dan keluar di Jalur Gaza lalu ada pula Garis pantai Mediterrania. Israel mengontrol empat dari lima titik itu, serta seluruh garis pantai. Mereka juga menerapkan peraturan yang melarang warga Palestina berenang lebih dari tiga mil laut dari garis pantai. Mesir hanya menguasai satu titik masuk, Perbatasan Raffah. Masalahnya, Mesir mengontrol titik ini sebagai bentuk kongkalikong dengan Israel. Sejak 2007, telah terjadi penutupan semua titik masuk dan keluar Gaza termasuk daerah pantainya. Jadi, bisa disimpulkan, bahwa kawasan Gaza dikepung oleh Israel lewat jalan darat dan melalui blokade laut. Saking kuatnya kontrol Israel atas Gaza, mereka bisa mengatur asupan kalori penduduk Palestina di sana. Dalam sehari, mereka hanya boleh makan sebanyak 200 kalori, hanya beberapa tingkat dari kelaparan.

Kalau ini bukan pengepungan atau blokade laut, lalu apa dong namanya. Ini sama saja seperti bilang bawah itu atas, atas itu bawah dan perang itu perdamaian.

Follow Patrick Hilsman di Twitter.