10 Pertanyaan Penting

10 Pertanyaan Penting Ingin Kalian Sampaikan Pada Aktivis Penyayang Binatang

Kenapa mau melakukan berbagai tindakan ekstrem demi hewan? Apakah nyawa binatang jauh lebih penting dari manusia? Berikut jawaban dari aktivis asal Denmark tersebut.
Semua foto dari arsip pribadi Casper Hilt. Spanduk di sebelah kiri bertuliskan, “Pikirkan ulang hubungan kita dengan hewan,” spanduk di sebelah kanan bertuliskan, “Kami Ingin Hidup.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Denmark

Casper Hilt adalah pekerja sosial sekaligus aktivis perlindungan hewan asal Ibu Kota Copenhagen, Denmark. Pria 35 tahun ini sekarang menjabat sebagai direktur komunitas Fremtiden er Vegansk (The Future Is Vegan), dan merupakan anggota aktif organisasi pelindungan hewan Anonymous for the Voiceless, Go Vegan, dan Direct Action Everywhere.

Hilt menghabiskan sebagian besar waktunya menggelar demonstrasi dan kampanye yang bertujuan menyadarkan orang Denmark mengenai perlakuan kejam industri peternakan. “Hewan sama seperti manusia. Mereka punya perasaan. Mereka menderita setiap harinya,” katanya kepada VICE. “Orang menganggap saya anggota ekstremis atau fanatik. Mereka juga menganggap saya bertingkah layaknya orang yang sangat suci. Bedanya saya dari orang-orang tersebut yaitu saya paham penderitaan hewan demi kepuasan kita. Saya ingin orang memahami itu.”

Iklan

Saya mewawancarai Hilt demi mengetahui pendapatnya mengenai hak binatang, prasangka terhadap ayam, dan keputusan banyak manusia memelihara hewan.

VICE: Bagaimana perasaanmu kalau ada orang yang mengurus hewan dengan baik, tapi tetap membunuhnya?
Casper Hilt: Kita contohin ke manusia deh ya. Misalnya ada orang yang dibunuh saat mereka masih muda. Pastinya orang-orang enggak akan ngomong, “Paling tidak mereka mati saat masih muda dan bahagia.”

Jadi, menurut kamu nyawa binatang itu sama pentingnya dengan manusia?
Ini pertanyaan sulit. Ada banyak yang harus dipertimbangkan. Menurutmu, hidup orang jahat itu lebih penting dari anjing peliharaanmu atau enggak? Sederhananya sih, hidup manusia itu tidak sepenting hewan, tapi kenyataannya jauh lebih rumit.

Kalau kamu hanya boleh pilih satu, kamu akan menyelamatkan ayam atau bayi?
Waduh, saya enggak mungkin pilih salah satu. Mungkin saya akan menyelamatkan bayi, tapi saya akan berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan keduanya. Saya akan merasa sangat dihantui kalau tidak bisa menyelamatkan mereka.

Apa ada orang yang enggak ingin kamu selamatkan demi hewan?
Ini enggak realistis banget. Tapi, demi menjawab pertanyaan ini, saya ambil contoh babi hutan 2 tahun dan tersangka pembunuhan berantai. Dalam situasi ini, saya enggak hanya melihat siapa mereka, tapi juga apa yang sudah mereka lakukan. Babi hutan tidak mungkin mencelakakan manusia atau sesamanya dengan sengaja, jadi saya lebih pilih hewan. Tapi, pilihan ini tetap menghantuiku.

Iklan

Kamu sering membahas konsep 'spesiesisme' di kampanyemu. Saya pemakan segalanya, saya spesiesis bukan?
Spesiesisme itu kondisi di mana kamu membenarkan pembantaian terhadap spesies lain karena mereka berbeda darimu atau tidak terlalu berhubungan denganmu. Ini akar permasalahan yang ingin saya tuntaskan. Spesiesisme sudah sangat menjalar di kehidupan mereka. Contohnya, kamu akan mati-matian melindungi anjing peliharaanmu, tapi tidak peduli apabila ada babi yang dibunuh agar kamu bisa makan dagingnya. Ini sangat tidak logis—hak hewan tidak begitu penting hanya karena mereka berbeda dari kita. Hampir mirip-mirip dengan seksisme dan rasisme, tapi menurut saya spesiesisme jauh lebih parah.

Kamu spesiesis, tapi mungkin kamu tidak sengaja memilih untuk jadi seperti itu. Kita terlahir di masyarakat yang mengira pembantaian hewan wajar-wajar saja.

Kenapa kamu pernah menyamakan memakan daging dengan Holocaust?
Saya jarang melakukan itu. Saya mau klarifikasi kalau saya tidak bermaksud menyamakan orang Yahudi dengan hewan. Bukan itu maksud ucapan saya sebenarnya. Saya menyamakan perlakuan terhadap orang Yahudi saat Perang Dunia II dengan perlakuan terhadap babi di zaman sekarang. Saya rasa keadaannya sama-sama kejam—yang membedakan adalah korbannya dan tingkat kesadaran pelaku dalam melakukannya.

Kalau kamu menganggap produksi daging babi itu sama kayak aksi genosida, seharusnya isu ini lebih kencang dari kampanye kalian yang lain dong?
Saya memikirkan itu setiap hari. Sebagai aktivis, kamu akan sering merasa ragu terhadap diri sendiri. Kamu selalu bertanya-tanya tindakanmu sudah cukup atau belum. Seorang vegan saja tidak mungkin mengubah dunia, tapi jumlah kami semakin bertambah setiap harinya. Saya yakin tidak lama lagi kami akan bisa melakukan perubahan.

Iklan

Apa pendapatmu soal aktivitas memelihara hewan?
Enggak ada salahnya kalau kita memelihara hewan karena pengin mengakhiri penderitaan mereka. Tapi, kalau kamu beli hewan peliharaan untuk menemanimu, itu sama buruknya kalau kamu beli mereka untuk hiburan atau dimakan. Lebih baik adopsi anjing, daripada beli di breeder. Breeder itu kejam; mereka lebih mementingkan keuntungan daripada kesejahteraan anjing yang mereka jual.

Membiarkan hamster hidup di kandang itu sama enggak ya dengan mengurung anak di luar rumah?
Kurang lebih sih sama saja, karena ini membuat mereka merasa tertekan, takut dan sedih. Bedanya, kalau manusia memiliki kemampuan kognitif untuk mengharapkan dan membayangkan kebebasan. Kalau hewan tidak bisa. Hewan lebih sengsara saat dikurung karena mereka tidak bisa menghentikannya. Coba pilih deh, kamu lebih baik dikurung tapi masih tahu cara bebasin diri atau enggak?

Apa kamu pernah membunuh hewan?
Saya sering memancing ikan waktu masih kecil dulu. Saat itu, saya mengira mancing ikan kegiatan yang menyenangkan. Tapi, saya tidak pernah suka bau dan rasanya. Saya baru sadar betapa parah memancing ikan pas saya sudah remaja, jadi saya berhenti melakukannya.

Saya menyesal pernah membunuh hewan dan memakan daging dulu; apalagi kalau mengingat saya masih mengonsumsi susu, keju, dan telur saat masih jadi vegetarian. Saya lebih pilih jadi babi yang masa hidupnya singkat daripada jadi sapi yang dieksploitasi bertahun-tahun. Makanya saya jadi aktivis sekarang karena saya sangat menyesal dengan kelakuan saya dulu. Saya kecewa dengan diri sendiri kalau ingat-ingat pernah membunuh hewan demi kepuasan pribadi.

Iklan

10 Pertanyaan Penting adalah kolom VICE Indonesia untuk mengajak pembaca mendalami isu sekilas nampak remeh, padahal bikin penasaran. Baca juga wawancara dalam format serupa dengan topik dan narasumber berbeda-beda di tautan berikut:

10 Pertanyaan Penting Buat Polisi Spesialis Pembakar Narkoba

10 Pertanyaan Penting Buat Dokter Spesialis Sunat di Jakarta

10 Pertanyaan Penting Untuk Pengusaha Judi Online Tanah Air