Kedewasaan

Generasi Sekarang Menurut Psikolog Baru Dewasa di Usia 24

Tak perlu kaget bila gen Z yang sudah kuliah sekalipun betah berlama-lama nongkrong sama ibu dibanding kakak-kakak mereka.
23.1.18
Screenshot via YouTube.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D

Rata-rata di Indonesia, lelaki maupun perempuan dianggap dewasa setelah menginjak usia 17 tahun. Pada usia inilah, kita akhirnya diperkenankan punya KTP dan menikmati hak-hak orang dewasa, seperti memberikan suara pada pemilu. Akan tetapi menurut sebuah penelitian psikologi terbaru, manusia sebetulnya belum bisa dianggap dewasa meski sudah 18 tahun. Jerawat mungkin tak lagi menghiasi wajah dan tanda-tanda akil balik sudah nongol semua, tapi kita baru benar-benar secara mental disebut dewasa sesudah menginjak usia 24 tahun.

Iklan

Sejujurnya, isi penelitiannya cuma jadi pembenaran apa yang selama ini ortu kita curigai. Penelitian yang berjudul “Age of Adolescence” itu dikeluarkan oleh the medical journal Lancet Child and Adolescent Health.

Di dalamnya, tercantum pendapat sekelompok psikolog yang mengatakan masa-masa remaja kini lebih panjang karena terjadi pergeseran tuntutan sosial dan perubahan kondisi ekonomi. Makin sedikit muda-mudi berusia awal usia 20an yang ikut melakoni syarat-syarat tradisional menjadi dewasa, seperti mencicil KPR, menikah, punya pekerjaan tetap dan punya anak. Para penulis penelitian ini juga menyalahkan tingginya paparan terhadap media pada anak muda dari demografi Generasi Z. Peneliti berpendapat, “kekuatan sosial yang tak pernah ada sebelumnya, termasuk media pemasaran dan digital, memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan dan kewarasan manusia selama beberapa tahun terakhir.”

Media saat ini gemar sekali menggambarkan millenial sebegai generasi yang terhambat perkembangannya. Tak ayal, hasil penelitian ini bakal memperparah penggambaran itu. Sebelumnya, NPR baru-baru ini menayangkan sebuah segmen berdurasi 20 menit guna mengupas fenomena “man-child”; New York Times pernah mengidentifikasi generasi millenials sebagai radikal pembenci kapitalisme. Sementara Pew Research secara gamblang mengungkap makin maraknya fenomena laki-laki dewasa yang masih tinggal seatap sama orang tua.

Kesimpulan penelitian “Age of Adolescence” berargumen batasan umur dewasa yang baru, “penting dalam pembentukan kerangka hukum, kebijakan sosial dan sistem pelayanan masyarakat.”

Tentu saja, kita sebaiknya mengamini saja hasil penelitian tersebut. Pasalnya, dunia orang dewasa yang kian menakutnya saja dan penuh tuntutan. Artinya, penelitian ini memungkinkan kita berlama-lama jadi remaja—terus ngeles dari tuntutan-tuntutan manusia dewasa.