Disko Luar Angkasa

Ulah Perusahaan Selandia Baru Kirim Bola Disko ke Orbit Memicu Kemarahan Astronom

Bola disko diberi nama 'Humanity Star' itu diniatkan sebagai satelit kemanusiaan. Sayangnya, lembaga astronomi menganggap bola ini sekadar sampah orbit.
26.1.18
Sumber foto ilustrasi: Rocket Lab/Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Akhir pekan lalu, perusahaan luar angkasa asal Selandia Baru, Rocket Labs, berhasil meluncurkan muatan ke orbit planet bumi menggunakan roket elektron. Beberapa benda yang diluncurkan ke luar angkasa itu adalah satelit komersial dan "Humanity Star", sebuah bola disko kerlap-kerlip yang memiliki desain geodesik.

Humanity Star adalah satelit kemanusiaan, semacam instalasi seni yang menurut Rocket Lab memang diniatkan untuk terlihat indah saat beredar di orbit Bumi. Berdasarkan keterangan resmi Rocket Lab, “satelit yang terang dan berkedip-kedip” ini dapat dilihat dengan mata telanjang jika langit sedang bagus pada malam hari. Tujuan lain mengirim bola disko ke luar atmosfer, menurut perusahaan tersebut, adalah mengajak orang agar selalu mengagumi keindahan luar angkasa, "sekaligus merenungkan posisi umat manusia di alam semesta."

Iklan

Oke, jadi niatnya lumayan puitis. Agar manusia merenung. Pola pikir seperti Rocket Labs jarang dimiliki oleh perusahaan lain yang bergerak di bidang antariksa. Sayangnya, walau niatnya menarik, astronom dan pekerja lembaga penelitian luar angkasa tak menyambut baik gagasan bola disko mengelilingi bumi. Sebagian, seperti Richard Easther, mengecam keras ulah perusahaan Selandia Baru tersebut.

Astronom profesional maupun peminat astronomi berbondong-bondong menumpahkan kekesalan mereka lewat Twitter terhadap satelit bola disko buatan Rocket Lab yang dianggap cuma mengotori orbit. Direktur Museum Otago yang mendalami temuan astronomi, Ian Griffin, lebih jauh menyebut bola disko di luar angkasa sebagai vandalisme lingkungan. "Selandia Baru menjadi negara pertama yang sengaja mengotori kosmos tanpa tujuan, macam anak remaja meniban tembok pakai graffiti."

Redaksi Motherboard berusaha menghubungi manajemen Rocket Labs untuk memahami niat mereka mengirim bola disko. Sampai artikel ini dilansir, belum ada respons dari mereka.

Sebagian pembaca mungkin berpikir astronom-astronom itu kurang santai atau lebay. Cuma bola disko saja kok dipermasalahkan. Jangan lupa, kecaman mereka berdasar lho. Ada beberapa isu penting dalam hukum pengelolaan luar angkasa, yang melibatkan banyak negara, seringkali tak dipahami banyak pihak. Isu ini makin penting, mengingat makin banyak perusahaan swasta yang bisnisnya adalah mengirim satelit ke orbit rendah bumi. Asal kalian tahu, belum ada aturan yang disepakati bersama mengenai batas terendah satelit boleh mengorbit.

Supaya kalian tidak lupa, sampah angkasa itu problem yang nyata, dan sampai sekarang belum bisa ditangani dengan baik oleh negara-negara maju yang memiliki program antariksa. Jumlah sampah angkasa terus meningkat saban hari. Rocket Lab sih mengklaim bola disko itu akan segera terbakar habis di orbit setelah sembilan bulan. Artinya ini satelit yang berada di orbit rendah dekat atsmosfer. Masalahnya, ada banyak satelit di lintasan yang sama, tapi punya manfaat ilmiah penting, tidak sekadar bola disko yang kerlap-kerlip.

Masalah selanjutnya datang dari pendekatan Rocket Lab mempromosikan perusahaannya dengan bola disko di luar angkasa. Sampai sekarang, Perserikatan Bangsa-Bangsa belum bisa sepakat mengatur bagaimana tata cara dan etika promosi di luar planet bumi. Beleid yang sudah ada barulah Perjanjian Bulan, yang melarang semua negara anggota PBB mengklaim teritori di satelit planet kita itu sebagai wilayah mereka.

Sampai ada perjanjian yang mengatur lebih rinci tata cara proyek komersial di luar angkasa, maka tindakan Rocket Labs masih sesuai koridor hukum. Itulah yang memicu kegalauan astronom. Tanpa aturan, maka kita tidak bisa melakukan apapun ketika ada konglomerat punya ide menambang asteroid atau mengirim mobil sport mereka ke orbit Planet Mars.