Kecerdasan buatan

Kecerdasan Buatan Nantinya Bisa Memahami Rasa Sakit dan Penderitaan Seseorang

Direktur Teknis Pixar, Alonso Martinez, menilai AI adalah alat terbaik agar manusia berempati. Pecandu narkoba, contohnya, sering sulit menceritakan rasa sakitnya. Nah kecerdasan buatan bisa menerabas hambatan tadi.
31 Januari 2018, 6:31am
Foto ilustrasi rasa sakit oleh djile / Shutterstock.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, dua tahun belakangan terjadi krisis penyalahgunaan obat-obatan penenang, atau opioid. Masalah ini diperhatikan publik, setelah media berulang kali mengangkatnya, sehingga isu opioid menjadi perbincangan di medsos maupun dunia nyata. Tapi ya begitu saja, sekadar terjadi perbincangan. Orang-orang enggan bertindak lebih supaya krisis opioid legal yang diresepkan dokter bisa berakhir.

Banyak masalah sosial yang nasibnya sama seperti opioid. Penting untuk ditangani, tapi orang merasa cukup hanya dengan membicarakannya. Menyadari ada masalah bukan berarti kita paham betul apa yang dibicarakan. Apalagi kalau isunya penyalahgunaan obat. Orang sering tidak tergerak, karena kita jarang membahas rasa sakit. Biasanya, perbincangan mengenai opioid memakai sudut pandang masyarakat yang telah dikelabui versus industri farmasi yang buas. Kita berpikir rasa sakit korban itu sebenarnya tidak terlalu penting dibahas.

Padahal, rasa sakit merupakan masalah yang nyata dalam kasus penyalahgunaan obat-obatan. Orang tidak pernah membahas rasa sakit pacara pecandu, karena kita tidak tahu bagaimana sebaiknya membicarakan isu tersebut. Sebagian besar rasa sakit sulit dipahami dari sudut pandang empati. Tidak mudah memang mendeteksi apakah seseorang sedang kesakitan atau tidak. Dalam bidang kedokteran, rasa sakit adalah gejala yang selalu harus diukur dengan pengandaian atau skala—tidak pernah bisa presisi. Cara utama mengetahui gejala sakit biasanya meminta pasien menyebutkan tingkat kesakitan dari satu sampai 10.

Sakit ataupun penderitaan manusia rupanya menjadi topik yang paling ramai diperbincangkan dalam acara Re-Work AI Assistant Summit di San Francisco pekan lalu. Alonso Martinez adalah pembicara yang tidak biasa mengangkat isu rasa sakit ini. Martinez berprofesi sebagai direktur teknis Pixar Animation Studios dan ia bukanlah ahli perancang robot yang andal.

Presentasinya di acara itu tidak teknis sama sekali. Alih-alih, ia mempresentasikan sebuah karya ilmiah yang membahas tentang penderitaan. (Perlu dicatat bahwa sudut krisis opioid ini adalah pandanga saya pribadi, namun bisa menjadi contoh terbaik membahas sakit dalam konteks 2018.) Martinez ingin pengertian tentang penderitaan manusia diperbaru dan diperbaiki dari sudut pandang ilmiah. Pengertian yang baru sebisa mungkin tidak terlalu bergantung pada subjektivitas antara manusia dan lebih memanfaatkan kecerdasan buatan.

Martinez menunjukkan bila kita memiliki pendekatan teknologi yang sangat akurat terhadap kuantifikasi sakit. Bentuknya berupa pemindaian MRI. Sayang cara ini sangatlah mahal, tidak terjangkau kebanyakan orang. Kita juga bisa menganggapnya tidak diperlukan apalagi sekarang sudah zamannya mesin dapat menguraikan data yang terpendam untuk membangun model prediktif dari hal yang tadinya tidak bisa dihitung. Misalnya seperti tingkat penderitaan yang tercermin dalam ekspresi wajah seseorang.

Martinez tidak berusaha mengubah cara kita memahami penderitaan. Ia lebih memfokuskan argumennya, bahwa kita dapat memahami rasa sakit lebih baik. Kemampuan ini juga bisa berarti hal menarik lainnya. “Melalui data, kita akan memahami diri sendiri sebagai manusia,” ujarnya.

Martinez menaruh harapan pada perwujudan style transfer dan Go playing AI, dua kemampuan yang ia anggap sebagai perangkat komputer yang dapat menunjukkan kreativitas secara nyata. Kreativitas yang nyata ini merupakan bentuk pembelajaran, atau pembelajaran melalui penemuan. Apabila perangkat komputer dapat melakukan ini, maka mereka bisa mulai memahami pengalaman manusia bahkan sampai hal yang tersulit sekali pun. Seperti perasaan hati kita misalnya.

Presentasinya berlangsung selama 15 menit, tapi bisa saja diselesaikan berhari-hari. Topik rasa sakit dan kecerdasan buatan membutuhkan lebih banyak orang seperti Martinez. Orang yang tertarik menggunakan AI untuk mendekatkan kita dengan pengalaman manusia, bukan menjauhkannya.