Menyambangi Komunitas 'Anarkis' di Pulau Tepian Samudra Pasifik
Semua foto oleh penulis.
anarkisme

Menyambangi Komunitas 'Anarkis' di Pulau Tepian Samudra Pasifik

Anak muda penghuni Poole’s Land di lepas pantai Kanada itu saling bantu, hidup bercocok tanam, hingga buang air organik. Mereka yakin sedang hidup di surga.
Manisha Krishnan
Toronto, CA
31.8.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada.

Bagi penghuni Poole's Land, buang air saja sudah bisa dianggap sebagai bentuk pemberontakan terhadap kemapanan hidup modern.

Pulau seluas 17 hektar ini berupa hutan hujan, letaknya di lepas pantai kawasan Tofino Provinsi British Columbia, Kanada. Tidak ada saluran pembuangan kotoran yang terhubung dengan pulau utama, sejak 1988. Saat ini, ada 100 orang penghuni di komplek perumahan dalam pulau yang berinisiatif membuat "toilet kompos".

Iklan

Artinya mereka buang air besar dalam toilet dengan septik tank pakai bahan pohon cedar. Kayu cedar, menurut Michael Goodliffe, 47 tahun selaku manajer Poole's Land, efektif membasmi kuman. Ketika ditanya apa yang mereka lakukan setelah toiletnya penuh, dia menjawab singkat, "kan ada sekop."

Pintu gerbang menuju kompleks Poole's Land.

"Emangnya gak jijik?" tanya saya. Dia menjawab, "Yang jijik itu kalau kau membuang taimu ke lautan." Jawaban Goodlife itu salah satu kritik terhadap penghuni kota di pulau utama. Selama ini saluran pembuangan kota-kota Kanada memang dikirim ke laut. Dia kemudian menceritakan sebuah kisah aneh tentang salah satu penghuni pulau yang sedang camping. Orang itu, kata Goodlife, tak risih membersihkan toilet sambil mengenakan setelan jas lengkap.

Intinya, penduduk Poole's Land rata-rata memang tidak lazim. Mereka mengenyahkan kebiasaan manusia modern, menganut paham antikapitalisme, dan juga standar sanitasi yang dijunjung tinggi masyarakat urban. Kegiatan mereka setelah malam adalah sibuk nongkrong mengelilingi api unggun.

Pengumuman di dekat pintu gerbang. Dijelaskan sih kalau penghuni tidak akan dapat alkohol gratis.

Tunggu dulu. Sebetulnya Poole's Land itu apa sih?

Saya pertama kali mendengar Poole's Land ketika sedang membaca surat kabar di Kanada. "Ada komunitas di Provinsi Britih Columbia yang membiarkan siapapun tinggal gratis di sana, bahkan tamu yang baru datang akan diberi psikotropika cuma-cuma." Artikel tersebut segera membuat pembaca membayangkan Poole's Land sebagai desa ramah lingkungan, semua orang dipersilakan ikut membangun desa, lalu dibayar dengan sekantung magic mushroom.

Saya menghabiskan sehari di desa tersebut dalam rangka mengetahui apakah semua klaim-klaim media soal mereka benar. Lantas, apa jawabannya? Tergantung siapa yang anda tanya. Semua orang yang saya tanya bilang penduduk Poole's Land tidak lagi dibayar menggunakan magic mushroom. Kenyataan itu mungkin mengecewakan banyak pendatang yang mampir setelah membaca artikel seperti yang saya baca. Selain itu, pendatang yang memutuskan tinggal dipungut bayaran, sebesar CA$10 (setara Rp105 ribu) per malam. Setidaknya, Poole's Land merupakan lokasi peristirahatan murah meriah bagi para pelancong yang melewati daerah Tofino dalam rangka mencari spot surfing, serta menarik buat anak muda yang menghabiskan musim panas kerja sambilan di kota terdekat. Tentu saja, tidak semua penghuni adalah tamu yang ingin mencicipi sedikit rasanya hidup 'anarkis'. Banyak orang sudah bertahun-tahun tinggal di sana. Mereka memandang desa tersebut rumah sejati, serta menganggap penghuni lain sebagai keluarga. Desa ini juga kerap mengundang orang-orang yang terbuang, miskin atau sakit secara mental untuk dirawat oleh para penghuni secara kolektif.

Michael Goodliffe, sosok manajer Poole's Land.

Orang-orang seperti Goodliffe, yang sudah bolak-balik bermukim dan meninggalkan Poole's selama beberapa dekade terakhir, membenci sudut pandang media ataupun orang luar yang menuding mereka sebagai "komunitas pemakai narkoba". Dia tidak membantah bahwa zat adiktif menjadi bagian dari kultur komunitas ini dulu. Sampai sekarang nyaris semua orang ngelinting atau sibuk ngisep bong. Saat tinggal sehari di sana, saya melewati sebuah kebun ganja kecil dan menyaksikan orang mengkonsumsi jamur. Suasana desa tersebut mengingatkan saya akan pesta anak-anak kuliahan yang kebetulan aja lokasinya di tengah hutan. Tapi Poole's Land tak hanya soal kebebasan teler. Penduduk desa Poole's Land membebaskan diri mereka dari rutinitas monoton bekerja setiap hari, kewajiban berkeluarga, atau tuntutan harus punya rumah seperti manusia modern lainnya. Salah seorang penduduk, petani 24 tahun bernama Cheyanne membantah dia tinggal di sana biar bisa teler. "Kami bukanlah kaum hippie gila yang make narkoba, justru kami ini segerombolan orang terbuang yang saling membantu." Cheyanne bilang, semua orang yang memutuskan tinggal lama di Poole's Land ingin merasakan,"kehidupan, bukan obat-obatan."

Penghuni Poole's Land bernama Cheyanne dan Thomas Jackson mengawasi kebun.

Lahan di tepian Samudra Pasifik ini dibeli tahun 1988 oleh Michael Poole, seorang hippy pencinta halusinogen. Harganya dulu cuma CA$50.000 saja (setara Rp527 juta). Padahal kawasan hutan lebat ini sangat memukau. Ada pohon cedar, pohon cemara Douglas, telaga, beruang. Bahkan kabarnya singa gunung masih hidup di beberapa titik. Selama berjalan-jalan, saya berusaha tidak tersandung akar pohon. Saya melihat banyak tenda, truk trailer, pondok kayu, rumah pohon, dan van yang diubah jadi rumah. Para penduduk menggunakan satu dapur yang sama, mengambil sayuran dari kebun sendiri untuk memasak makan malam. Dapur itu adalah satu-satunya area yang memiliki sinyal ponsel.

Biarpun pemandangannya indah, lokasi campingnya ga bersih-bersih amat. Ada banyak sampah bertebaran, puntung rokok di mana-mana, dan semua orang bau tubuhnya…hmm, alami banget. Saya melihat handuk tergantung di salah satu rumah kayu penuh bercak-bercak coklat. Kabarnya hanya ada satu shower air panas di seluruh pulau ini, dan itupun tidak sering digunakan.

"Saya belum mandi selama dua tahun—saya menggunakan air laut aja buat membersihkan diri," kata Hubert, seorang surfer 23 tahun dengan rambut gimbal pirang. Hubert pindah ke Poole's tujuh bulan lalu. Sebelum sampai di komunitas ini, dia sudah tiga tahun terakhir tinggal di dalam mobil van. Hubert tidur di sebuah kabin kayu kecil bersama anjingnya. Dia sedang merintis usaha membuat papan surfing. Penduduk Poole's lainnya membantu dia mendirikan sebuah bengkel kerjanya membuat papan selancar.

Tanpa berkedip, Hubert, Goodliffe, dan beberapa lelaki lainnya menunjuk ke sebuah telaga coklat di samping dan mengaku minum dan mandi menggunakan air telaga tersebut (warna coklatnya itu akibat pohon cedar yang mati di dasar telaga.)

Iklan

"Biarpun penampilannya tidak meyakinkan, airnya jernih kayak air hujan kok," kata Josh Pawton, 23 tahun, seorang warga Selandia Baru yang belum lama tinggal di Poole's. Satu orang lain di dekat kami menimpali, "Kami belum pernah kena diare kok."

Matt, lelaki periang berambut coklat berumur 20-an mendeskripsikan Poole's sebagai "komunitas anarkis," yang menurutnya membuat desa ini sangat keren, sekaligus sangat kacau.

"Ada batas tipis antara kebebasan sepenuhnya dengan hidup yang memiliki semacam tujuan."

Matt mengatakan desa ini bebas dari prasangka antar penduduk. Seakan ingin membuktikan omongannya, dia menceritakan kisahnya bertemu seorang perempuan yang merasa sanggup mengontrol cuaca dengan pikirannya; seorang yang sanggup masuk ke galaksi lain; dan seorang lelaki yang mengaku bekerja untuk organisasi peretas Anonymous. Si 'peretas' itu kemudian memberi Matt pasport bodong dan berbagai peralatan kamera mahal miliknya.

Biarpun terdengar seperti surga hippie, Poole's memiliki reputasi yang buruk bagi penduduk di kota besar terdekat.

Beberapa tahun lalu, kabarnya desa ini menjadi rumah bagi seleb video viral, Kai, alias Caleb Lawrence McGillvary, yang sempat dituntut atas pembunuhan.

"Seringkali apabila anda melamar pekerjaan dan mengatakan anda tinggal di Poole's, habis sudah peluang anda. Karena faktor kebersihan, kalau anda seorang pelayan dan bos anda tahu anda tinggal di dalam hutan…" kata lelaki berumur 25 tahun, Adam, yang tinggal di kota seberang pulau. Warga lain memiliki semacam persepsi bahwa Poole's dihuni para kriminal. "Kalau sepedamu ilang, pergi aja ke Poole's Land, nanti juga ketemu."

Maddy Tesmer, 19 tahun, selama ini tinggal di van, sebelum tinggal di Poole's Land.

Goodliffe, yang tumbuh di komunitas terpencil dekat Danau Manitoba, Kanada, mengatakan berulang kali Poole's bukanlah surga penjual narkoba. Kenapa dia tampaknya ingin sekali mengubah reputasi desa itu, dia menjawab, "Karena persepsi negatif orang luar merendahkan integritas tempat ini. Tujuan berdirinya komunitas Poole's Land adalah menjaga keselamatan orang, bukan untuk menjual narkoba."

Goodliffe mengatakan dia pernah mengusir penghuni karena membawa narkoba ke desa atau karena memberikan zat halusinogen ke pengidap gangguan mental, yang sangat mungkin berbahaya.

Iklan

"Saya ini anak dari seorang ayah yang mengonsumsi LSD sepanjang hidupnya. Saya sudah melihat efek jangka panjangnya. LSD bisa menyebabkan gangguan mental."

Karena itulah, dia mengatakan Poole's merupakan lokasi alami dan sangat cocok untuk merawat pengidap gangguan mental. Siapapun yang mengidap ganggaun jiwa pasti diterima, dan ongkos tinggalnya murah.

"Orang-orang macam itu tidak punya uang dan mencari sebuah komunitas," kata Goodliffe, sembari menceritakan salah seorang penduduk yang mengidap skizofrenia paranoid.

Saya bertanya ke Goodliffe apabila dia merasa aneh tinggal bersama segerombolan orang berumur 20'an? Dia bilang justru merasa akan lebih tidak nyaman tinggal di sebuah masyarakat konservatif di luar sana.

"Orang seumuran saya ingin punya rumah, berkeluarga dan bekerja kantoran delapan jam sehari. Saya tidak mau jadi seperti mereka," ungkapnya. "Buktinya banyak orang yang tinggal di kota justru merasa kesepaian dan terisolasi."

Pesta api unggun di Poole's Land.

Tidak semua orang di Poole's Land berniat tinggal dalam jangka panjang. Thomas Jackson, pria berumur 23 tahun dari Ontario, baru tinggal di desa selama tiga minggu namun sudah berencana hengkang. (Dia bilang toilet di kompleks 'anarkis' ini terlalu jorok.) Jackson menambahkan yang membuat Poole's Land spesial adalah tidak adanya jaringan sinyal telepon. "Seakan kamu memasuki peradaban manusia puluhan tahun lalu," katanya. "Semua orang di sini saling ngobrol."

Jackson menemani saya berjalan melewati hutan menuju satu rumah pohon yang dijuluki "Pyramid." Dia berhenti, lalu nyeletuk, "tinggal di lokasi terpencil atau gaya hidup hippie macam ini, ujung-ujungnya kamu tetap bertambah tua. Semua orang pasti merasakan stres dalam hidup. Kamu tidak bisa kabur."

Memang sih, mustahil kita sepenuhnya kabur dari kewajiban dalam hidup. Tapi mungkin Poole's Land bisa menjadi rumah kedua bagi mereka yang ingin mencobanya.

Follow Manisha Krishnan di Twitter.