Anime

Peran Besar Sosok Perempuan Tangguh Di Setiap film Studio Ghibli

Inilah alasan banyak karakter utama perempuan ciptaan studio Ghibli sukses menginspirasi kita semua.
24.8.17
Cuplikan adegan Spirited Away via YouTube

Artikel ini pertama kali tayang di i-D.

Mei 1984, film petualangan Nausicaä of the Valley of the Wind yang digambar langsung oleh Hayao Miyazaki, diputar di bioskop-bioskop Jepang. Film ini rilis di tahun yang sama ketika Rose Petal Place produksi Ruby-Spears diputar pertama kalinya di jaringan sinema AS. Tapi dua film ini punya dua tokoh utama yang berbeda 180 derajat: Rose Petal Place menampilkan protagonis perempuan berambut pink dengan suara indah yang hobinya mengurus kebun. Nausicaä justru dibintangi oleh seorang putri mengenakan masker gas yang bisa berkomunikasi dengan serangga mutan raksasa demi menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran. Apabila karakter Rose Petal bisa digambarkan sebagai sosok cantik dan sopan, Nausicaä adalah karakter yang penuh rasa kasih sayang dan berani, pintar dan menginspirasi. Dia memiliki semua karakteristik tipikal seorang pahlawan, hal yang jarang terjadi dengan karakter perempuan.

Iklan

Di luar kerajaan beracunnya di dalam layar kaca, Nausicaä menjadi teladan di Jepang. Karakternya menjadi stereotipe bagi karakter-karakter film berikutnya dari Studio Ghibli, studio animasi yang dibantu didirikan oleh Miyazaki kurang dari setahun setelah Nausicaä tayang. Studio ini nantinya menciptakan berbagai karakter protagonis perempuan tidak sempurna, yang menunjukkan kita bahwa perempuan juga bisa menjadi sosok pahlawan. "Banyak film saya memiliki karakter utama perempuan yang kuat," kata Miyazaki saat diwawancara The Guardian pada 2013, "perempuan berani, mandiri yang tidak ragu-ragu berjuang demi apa yang mereka percayai. Mereka butuh teman, atau pendukung, tapi tidak pernah seorang juru selamat. Perempuan manapun bisa menjadi seorang pahlawan sama seperti lelaki."

Princess Mononoke (1997) semakin menekankan perubahan paradigma ini. Tidak ada sosok tipikal putri menderita yang perlu diselamatkan, tapi justru, seorang prajurit perempuan yang menunggangi dewa-serigala dan menyerang sebuah desa tambang yang mengancam keasrian dan kelestarian hutan magis tempat dia bernaung. Karakter San tidak hanya saleh, tapi juga mandiri dan kuat. Ketika dia pertama kali bertemu Ashitaka, seorang pangeran muda yang terhormat, dia tidak langsung naksir atau ingin dicium. Dia justru menatapnya, dengan wajah berlumuran darah dan menyuruhnya pergi.

Di film ini, sang pangeran dan putri juga tidak jatuh cinta, sebuah pilihan keluar dari tipikal kisah cinta tradisional yang menjadi inti banyak film kartun lainnya (Snow White dan Prince Ferdinand, Sleeping Beauty dan Prince Charming, Ariel dan Prince Eric, Belle dan The Beast, Aladdin dan Jasmine, Pocahontas dan John Smith, semuanya berakhir bahagia). Di satu adegan, ketika Ashitaka memuji kecantikan San, dia justru terkesiap dan mundur. "Kenapa, San?" tanya si dewa-serigala. "Perlukah kucabik habis mukanya?" Nantinya dalam film, San dan Ashitaka menjadi teman dekat, dan bekerja sama mengalahkan gerombolan penambang dan memulihkan hutan, tapi di akhir film, mereka berpisah. "Ashitaka, kamu sangat berarti buatku," kata San kepadanya, "Tapi aku tidak bisa memaafkan manusia atas semua dosa mereka." "Aku mengerti," jawab Ashitaka. "Kamu bisa tinggal di hutan dan aku akan membantu mereka membangun kembali Irontown. Aku akan selalu dekat."

Iklan

"Saya menjadi skeptis tentang peraturan tidak tertulis bahwa ketika seorang lelaki dan perempuan muncul di film yang sama, sudah pasti akan terjalin asmara," jelas Miyazaki. "Saya justru ingin menampilkan hubungan yang sedikit berbeda, dimana keduanya saling menginspirasi untuk terus berjuang hidup—kalau saya sukses melakukan ini, mungkin saya bisa menggambarkan ekspresi kasih sayang yang sesungguhnya."

Asmara, dalam film-film Studio Ghibli, diganti dengan penemuan jati diri—dan tidak hanya terjadi dengan karakter putri atau prajurit. Kebanyakan karakter utama film Ghibli adalah perempuan muda yang insekur, berusaha mencapai kemandirian, dan membangun jalur mereka sendiri dalam hidup guna menemukan jati diri sesungguhnya. Pada film Kiki's Delivery Service (1989), misalnya, seorang penyihir berumur 13 tahun yang sedang dalam pelatihan harus meninggalkan rumahnya dan hidup sendiri selama setahun demi menjadi penyihir sejati. Kiki yang keras kepala dengan penuh semangat terbang menggunakan sapu ajaibnya, tapi tidak lama kemudian kehilangan kekuatan magisnya. "Dulu tanpa mikir pun, saya bisa terbang," ingatnya di sebuah adegan film. "Sekarang saya berusaha menengok ke dalam diri dan mencari tahu bagaimana saya dulu melakukannya." Dalam Howl's Moving Castle (2004), ketika seorang penyihir mentransform Sophie menjadi perempuan tua berumur 90 tahun, sang karakter menempuh petualangan demi menghapus kutukan tersebut. Dia memanjat naik ke benteng terbang, berteman dengan setan api, meniru penyihir dan menghentikan sebuah perang, Ketika dia mulai merasa percaya diri, barulah kerutan di wajahnya mulai menghilang.

Dengan fokus menemukan jati diri—dan bukan seorang pangeran ganteng—karakter seperti Kiki dan Sophie terasa seperti perempuan nyata. Disney, sebagai perbandingan, seringkali menciptakan karakter perempuan yang dianggap menarik oleh lawan jenisnya secara tradisional: mata besar, bulu mata yang lentik, hidung yang kurus, bibir tebal, dan rambut panjang. Disney juga kerap menjadikan karakter remaja perempuan sebagai obyek seksual—misalnya Jasmine, yang harusnya baru berumur 15 tahun dalam film Aladdin. Di film tersebut, dia mengenakan pakaian yang menonjolkan perutnya yang rata dan lekukan tubuh "wanita".

Karakter Studio Ghibli memang imut, tapi tidak pernah sempurna. Si studio bahkan pernah menggambarkan beberapa karakter mereka sebagai "membosankan." Sementara di film pemenang Academy Award, Spirited Away (2001) misalnya, Chihiro memiliki mata besar dan hidung kurus, tapi dia terlihat seperti anak kecil. Dia memiliki muka yang bulat dengan pipi tembem, dan rambutnya diikat ekor kuda. Dia juga mengenakan pakaian yang sesuai dengan umurnya: baju garis-garis hijau dan putih, celana pendek pink dan sepatu sneaker butut berwarna kuning. "Ketika saya menonton karya Miyazaki, saya merasakan sesuatu yang berbeda," tulis jurnalis Gabrielle Bellot, yang laporannya dimuat The Atlantic. "Untuk pertama kalinya, saya melihat representasi perempuan yang terasa nyata dan nyambung, tapi tetap mistik."

Bellot, yang merupakan seorang perempuan transgender, melanjutkan: "Penggambaran kecantikan perempuan yang kolot di film animasi Barat dan banyak anime Jepang bisa membuat orang-orang seperti saya semakin tidak bisa relate. Tapi film-film Miyazaki mengingatkan saya nilai yang nantinya banyak disadari banyak perempuan: menjadi perempuan itu bukan perihal mengikuti stereotip-stereotip superfisial. Ini bukan tentang penampilanmu atau bagaimana kamu bersikap, tapi tentang jati dirimu."

Inilah yang membuat karya Studio Ghibli luar biasa kuat: karakter-karakternya terasa nyambung. Bukankah kita semua tidak yakin dengan diri sendiri di umur-umur yang sama? Karakter-karakter Ghibli mempertanyakan jati diri mereka, menyempatkan diri merenung, kemudian menyadari potensi diri masing-masing. Pakem macam ini adalah perjalanan yang menginspirasi. Film-film ini menyebarkan pesan bahwa perempuan bisa menjadi siapapun yang mereka mau—atau mungkinkah kamu sudah terinspirasi menjadi sosok semacam itu?