Kejahatan Anak

Siswa SMK di Manado Tikam Guru sampai Tewas Gara-Gara Ditegur karena Merokok di Sekolah

Kelakuan pelajar ini enggak bisa dibenarkan sama sekali, contoh gejala frustrasi agresi. RIP pak guru....
Siswa SMK di Manado Tikam Guru sampai Tewas Gara-Gara Ditegur karena Merokok di Sekolah
Kolase oleh VICE. Ilustrasi pisau untuk menusuk [kiri] dari foto Tauseef Mustafa/AFP; ilustrasi rokok via Pixabay / lisensi CC 3.0

Senin kemarin (21/10) Alexander Pengket datang ke sekolah untuk bekerja seperti hari-hari biasanya sebagai guru Agama Katolik di SMK Ichtus, Kota Manado. Pagi itu, Alexander memergoki tiga siswanya merokok di lingkungan sekolah. Pria berusia 54 tahun tersebut lantas menegur ketiganya karena memang tidak diperbolehkan merokok (emang ada sekolah yang membolehkan siswanya merokok?) di lingkungan sekolah.

Iklan

Melihat kejadian itu, guru lain berinisial AD menyuruh ketiga siswa ini untuk pulang. Ketika ketiganya menurut dan pergi dari sekolah, ternyata ada satu dari tiga siswa tersebut yang mendendam atas teguran Alexander.

FL (16), sang siswa yang ternyata tidak terima aktivitas merokoknya dihentikan paksa, kemudian datang lagi ke sekolah setelah sempat pulang. Bedanya, kali ini dia membawa serta pisau dan emosi yang tak terbendung.

Melihat Alexander sedang keluar dari parkiran motor karena bersiap-siap pergi untuk mengajar di sekolah lain, FL langsung menerjang dan menikam tubuh sang guru. FL lantas kabur, sedangkan Alexander langsung dilarikan ke RS AURI sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Kandou.

"Saya dengar langsung teguran itu. Tidak ada yang kasar. Kan tugas guru menegur siswanya agar menjadi lebih baik. Ngeri, penganiayaan dilakukan saat Pak Alexander di atas motor di jalan raya depan sekolah. Dia dicegat kemudian ditusuk," ungkap Agustin Dumanang, staf Tata Usaha SMK Ichtus yang berada di lokasi saat kejadian, kepada Kumparan. "Saya lihat langsung. Kejadiannya berlangsung cepat dan kami semua benar-benar kaget waktu itu."

Sembilan tikaman membuat Alexander sempat kritis. Pukul 8 malam, warga Desa Sasaran, Kabupaten Minahasa, tersebut dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit. Sedangkan FL diamankan beberapa jam setelah kabur.

“Kami minta kerja sama dari orang tua pelaku untuk membantu mencari dan menyerahkannya. Sekitar empat jam usai kejadian, pelaku diserahkan keluarganya dan langsung kami amankan,” ucap Kapolsek Mapanget AKP Muhlis Suhani kepada Sindo News.

Iklan

Kasus ini menjadi perhatian Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Utara dr. Grace Punuh. “Saya sudah ada di sekolah, ketemu kepala sekolahnya. Setelah pertemuan ini akan disampaikan apa langkah dinas pendidikan. Yang pasti kasus ini sudah ditangani pihak kepolisian,” ujar Grace kepada Tribunnews.

Dimintai pendapatnya soal kasus ini, Psikolog Orley Chariti Sualang mengatakan kejadian pembunuhan anak di bawah umur bisa dijelaskan dengan Teori Frustrasi Agresi.

"Frustrasi adalah perasaan sakit hati, kecewa akibat terhalang ketika mencapai suatu tujuan. Semakin tinggi frustrasi yang dialami, maka semakin tinggi pula perilaku kekerasan atau agresi yang dilakukan. Pelaku (memutuskan) melakukan kekerasan karena mengobservasi dan mempelajari dari lingkungannya. Bisa dari keluarga dan teman," kata Orley kepada Tribunnews.

Penikaman brutal ini, menurut Orley, menandakan bahwa FL sangat frustrasi terhadap teguran sang guru dan menganggap penikaman sebagai solusi atas sakit hati yang dialaminya.