Ilustrasi CD mixtape
Gambar ilustrasi oleh Hunter French
Nostalgia Musik

Mengenang Tradisi Bikin CD Mixtape, Hadiah Terbaik Buat Gebetan di Masa Lalu

CD mixtape sudah berubah wujud jadi playlist, tapi format baru ini tak mampu menandingi perasaan haru yang muncul ketika kalian membuat dan menerimanya dari gebetan.
Drew Schwartz
Brooklyn, US
HF
ilustrasi oleh Hunter French
AN
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
12.11.19

Saat aku masih enam tahun, aku minta kakak perempuan membuatkanku CD mixtape. Aku ingat memberikan daftar lagu yang kuinginkan, tapi sekarang sudah lupa judulnya apa saja (selain lagu Uncle Kracker “Follow Me”). Kakak menyuruhku bayar ratusan ribu, dan aku menurut saja. Aku dulu mengira harganya wajar untuk 18 lagu. Aku belum tahu kalau harga CD kosong sebenarnya enggak seberapa. Selain itu, lagunya mungkin bajakan dari 4shared atau mp3boo. Aku kira cuma orang tertentu yang bisa bikin mixtape. Padahal, aku bisa saja minta bantuan kakak laki-lakiku pakai komputer di ruang tamu.

Iklan

Semuanya tak berarti bagiku. Satu-satunya yang aku pedulikan cuma mixtape itu sendiri, bukan musiknya. Aku sering mendengar kakak-kakakku nyebut kata mixtape. Bagiku, istilahnya ajaib. Mixtape kedengaran keren dan edgy abis. Mixtape mungkin sudah jadul sekarang, tapi momen ketika aku menerima CD perak bertuliskan “DREW’S MIX” sangat mendebarkan.

18 tahun kemudian, semakin sedikit orang yang bikin mixtape. CD kompilasi mungkin memberikan perasaan nostalgia akan masa lalu, tapi enggak ada yang serius membuatnya lagi. Koleksi CD yang masih kita punya mungkin sudah baret-baret. Atau mungkin juga kita enggak punya pemutar CD sekarang. Makanya mixtape tersebut tak pernah dimainkan lagi. Sebagian dari kita mati bersama dengan tersingkirnya CD mixtape.

Seiring beranjak dewasa, aku lebih suka bikin mixtape. Aku membuatnya untuk semua mantan gebetan pas SMP. Aku sibuk memasukkan, menghapus dan menyusun urutan lagu yang menyiratkan perasaanku kepada mereka. Aku lalu memasukkan CD kosong ke dalam komputer, dan menunggu dengan sabar sampai proses burningnya selesai. Aku berdoa jangan sampai ada yang salah, karena enggak siap mengulang dari awal lagi. Masalah baru datang setelah CD-nya kelar diburning. Memangnya berani kasih CD itu ke gebetan?

Ada puluhan CD mixtape yang aku bikin. Aku memberikannya ke teman, sepupu sampai ayah. Suatu malam natal, aku dan kakak laki-laki sibuk ngeburning enam CD buat ayah, supaya dia bisa mendengarkannya di mobil. Aku juga berhasil memacari gebetan gara-gara mixtape. Dia yang paling sering menerima CD mixtape dariku. Aku memahami hubungan kami lewat kompilasi lagu tersebut. Saat kami masih saling suka, lagu yang aku masukkan “Adorable One” milik Lee Moses dan “The Man in Me” - Bob Dylan. Saat hubungan kami bermasalah, mixtape itu berisi “Blues Run the Game” oleh Jackson C. Frank dan “Hard to Find”-nya The National.

Iklan

Aku terakhir kali bikin CD mixtape pada 2014 buat orang yang sama. Aku masih belum sanggup mendengarkan 21 lagu itu, karena mengungkapkan alasanku harus merantau serta betapa aku merindukan dan mencintainya. Lagu-lagunya disusun sedemikian rupa supaya dia menangkap pesan dariku.

Saat itu, medianya sudah kuno. Aku membuat playlist tadi di Spotify, dan membeli semua lagunya di iTunes supaya bisa diburning ke CD. Ketika pertama kali ditemukan, CD kosong disebut-sebut sebagai pengganti kaset karena penggunaannya semudah membalikkan tangan. Dengan CD, kita bisa memindahkan lagu dari mana saja. Pada 2008 ketika Spotify diluncurkan, Santa Clara Consulting Group menunjukkan penjualan CD kosong mencapai $1,19 miliar (Rp16 triliun) secara global. Tetapi pada 2013, Spotify mulai merambah ponsel sehingga penjualan CD anjlok menjadi 368 juta Dolar AS (Rp5,1 triliun). Tak ada statistika penjualan pada 2019, menunjukkan perusahaan yang mendata penjualannya sudah enggak aktif. Kebanyakan laptop keluaran terbaru enggak memiliki slot CD. Album mixtape kini tinggal menjadi kenangan.

Cara kita menikmati musik sudah berubah selama 10 tahun terakhir, tetapi belum ada yang bisa menandingi perasaan yang muncul ketika kita membuat atau menerima CD mixtape. Sensasi bikin playlist di Spotify dan mengirim tautannya tak sama seperti memberikan CD fisik ke seseorang. Saat masih zamannya bikin mixtape, kita cuma bisa memasukkan hingga 20 lagu. Makanya kita harus benar-benar mempertimbangkan lagu apa saja yang ingin dimasukkan, beserta urutannya. Sekali CD-nya diburning, kamu enggak bisa mengubahnya. Kamu juga enggak bisa memberikannya diam-diam, menyertakan surat, atau memberanikan diri untuk kasih langsung ke orangnya.

Bikin CD mixtape menunjukkan betapa kamu peduli dengan mereka, tetapi benda ini sudah langka sekarang. Melihat koleksi lama bisa membawamu kembali ke masa-masa kamu menerimanya, dan mengingatkan kamu akan dirimu yang dulu. Pada masa berlimpahnya lagu yang bisa diputar kapan saja, CD mixtape mengingatkanmu betapa kecilnya dunia saat itu. Menyadarkan kamu betapa besar dunia sekarang ini.

Beberapa minggu lalu, aku tanya ke mantan pas SMA gimana nasib mixtape buatanku. Dia bilang ayahnya menemukan CD itu saat membersihkan mobil, dan menyimpannya di kantong plastik. CD mixtape buatanku masih ada di laci kamarnya. Dia enggak pernah memutarnya lagi karena sudah enggak punya pemutar CD.

Follow Drew Schwartz di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US