Aku jadi salah satu yang pertama datang sebelum tur dimulai.
Daud memamerkan jimat andalannya. Tapi ya udah, gitu aja enggak ada yang ajaib selama kami jalan.
Bisnya cuma numpang lewat doang. Serem? Ya iyalah. Aku mulai mikir kenapa harus ikut tur ini.
Karena enggak lihat apa-apa, peserta pada asyik foto-foto aja. Termasuk di Toko Merah, di Kalibesar, Jakarta Barat, yang katanya jadi lokasi pembantaian warga Tionghoa.
Daud minta izin ke penghuni TPA Jeruk Purut sebelum mengajak peserta tur keliling.
Katanya sih di puncak Museum Fatahillah itu sedang ada mahluk halus. Kalian yang indigo, memang benar?
EMF meter ini dipakai panitia tur untuk memantau mahluk halus
Sebats dulu di perlintasan Bintaro yang kesohor itu. Kalau ada kereta lewat pas kami nongkrong di sini, jadi horor beneran.
Kata salah seorang penjaga di situ, gedung itu bakal ‘dipotong’ hingga menjadi 12 lantai saja. Tentu saja kami tidak diperbolehkan masuk karena di depan gedung 28 lantai itu bergeletakan alat-alat berat dan bahan material. Daud tak banyak bicara di depan Menara Saidah. Cuma memandang ke atas.Hampir setiap hari gedung itu kebanjiran pengunjung yang pengin melihat atau merasakan hal ganjil. Akhir September lalu, sempat ada laporan beberapa driver ojol yang kerap mendapat order fiktif di Menara Saidah. Entah orang iseng atau betulan gaib.
Menara Saidah ya udah gitu doang. Sepi dan gelap. Wkwkwkwk….

