Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.
Pada 1993, Linda Baker, dokter gigi di Los Angeles, merasa sudah muak dan lelah “menjalani penantian dan serangkaian peristiwa menuju sumpah sehidup semati .” Dia memutuskan mengatasi sendiri masalahnya ini, dan mengundang tujuh puluh lima kawan terdekatnya untuk menyaksikan dia jalan di altar di sepanjang sebuah bar di Santa Monica. Saat itu, dengan wewenang yang dimiliki kawan aktornya Ron Commins, dia menikahi diirnya sendiri.
Videos by VICE
Tak lama berselang setelah dua dekade, di mana sologami menjadi sebuah fenomena yang menarik perhatian media. Pada 2014, Sasha Cagen, penulis buku Quirkyalone: A Manifesto For Uncompromising Romantics, mengucapkan ikrar dengan dirinya sendiri pada sebuah pernikahan di Buenos Aires. Cagen bersikukuh bahwa sologami yang dia lakukan bukan perkara selibat atau menyerah pacaran; alih-alih ini adalah upaya mengalahkan suara dalam diri yang mengatakan bahwa dia tidak akan benar-benar bahagia tanpa seorang laki-laki. “Bagi saya, ini soal merasa cukup sendirian,” ujarnya pada Broadly.
Jika laporan yang belum lama terbit bisa dipercaya, banyak perempuan generasi millennials memilih menikahi diri sendiri daripada harus mencari pasangan idaman di Tinder (capek engga sih?). Anak-anak muda ini muak dengan desakan orangtua dan sanak keluarga dan kawan-kawan yang sudah menikah dan menjengkelkan. Mereka membakar majalah Modern Bride, lalu mengumpulkan kawan-kawan perempuan sebagai saksi sumpah, “Dengan cincin ini, saya menikahi diri sendiri.”
Sejujurnya, sulit sekali membayangkan berapa banyak jomblo yang telah berlabuh pada klub sologami; mereka yang melakukan sologami mengaku mereka menerima pertanyaan seputar hal tersebut dari media dibandingkan dengan orang-orang yang tertarik dengan sologami itu sendiri. Seperti yang kita bayangkan, sologami tidak diakui sebagai ikatan pernikahan resmi di Amerika Utara, Britania Raya, dan Uni Eropa, atau orangtua kebanyakan. Namun penganut sologami tak keberatan. Gerakan ini soal merengkuh upacara pernikahan dan di waktu bersamaan menolak “tirani berpasangan.”
Ketika Cagen menikahi dirinya sendiri, dia menemukan bahwa mengadopsi nilai-nilai traidisional sebuah pernikahan—gaun, sumpah, cincin, dan tamu-tamu—membantunya mendeklarasikan janji yang dia sebutkan di ruang privat ke ranah publik. “Menjalani ritual sebenarnya lebih berpengaruh dari sekadar duduk di kamar dan menulis di buku harian bahwa saya akan mencintai diri sendiri, atau bahkan dari menulis surat cinta untuk diri sendiri,” ujar Cagen. “Ketika kamu membuat ritual, kamu membuat sumpah. Sumpah tersebut jadi memiliki nilai dan kedalaman, seperti pernikahan.”
Sejak Cagen menggelar pesta sologami, sebuah industri kecil vendor, planner, dan dekorasi mulai membuat upacara sologami terasa sama pentingnya dengan pernikahan antar dua manusia. Di Kyoto, sebuah layanan sologami untuk para jomblo menawarkan perubahan tambilan, photoshoot, dan sebuah upacara kecil-kecilan seharga $2,500 (sekitar Rp33 juta). (Lucunya, paket ini termasuk pilihan menyewa laki-laki “sebagai dekorasi”, berusia 20 hingga 70 tahun, untuk berpose bersama para jomblo di hari istimewa itu.) Mereka yang tak bisa berpergian dapat menjalani kurus sepuluh minggu dengan seorang coach yang telah menikahkan para jomblo di Burning Man selama bertahun-tahun: “Ini adalah era di mana kita bisa menghidupi hidup kita sebaik-baiknya,” tulisnya pada situs web. Bagi mereka yang memerlukan cincin pernikahan, sebuah situs bernama “I Married Me” menawarkan perhiasan tersebut seharga $25 hingga $300 (Rp331.000 – Rp 4 juta), tergantung seberapa mahal kamu menilai diri sendiri.
Walau kaum queer dan lelaki gay bisa mendapatkan keuntungan yang sama dari upacara pernikahan sologami, Cagen mengatakan kebanyakan peserta dalam lokakaryanya adalah kaum perempuan straight. “Menuruku, sebenernya sologami bakal menguntungkan bagi kaum LGBTQ—khususnya karena sologami bisa menyembuhkan diri setelah mengalami trauma, pelecehan dan cecaran dari kaum homofobik—tapi mereka sepertinya belum mendapatkan tekanan untuk memilih sologami seperti perempuan straight jadi aku pikir tren sologami belum ramai di kalangan LGBTQ,” ujarnya
Cagen pertama kali menulis Quirkyalone—semacam perayaannya atas pilihannya untuk sendiri—pada tahun 2013, suatu masa ketika perempuan lajang mendapatkan tekanan untuk memandang kencan sebagai sebuah kerjaan yang ajeg dan imej tentang perempuan lajang kesepian sedang ramai-ramainya di media “waktu saya menulis buku itu, tengah ada semacam kepanikan pada mereka yang sudah berumur 35 tahun tapi belum kunjung menikah.” ujarnya. “Jadi, menua dan hidup melajang adalah pilihan menyeramkan, jauh lebih menyeramkan dari sekarang.”
“Menggunakan ritual pernikahan standar sebagai inspirasi, mereka yang memilih menikahi dirinya sendiri sebenarnya tanpa sadar menegaskan kekuatan pernikahan tradisional, padahal yang ingin mereka lakukan adalah melawan wacana tersebut.”
Bella DePaulo, penulis Singled Out: How Singles Are Stereotyped, Stigmatized, and Ignored, and Still Live Happily Ever After, percaya pria atau perempuan yang melajang kerap digambarkan sebagai manusia kesepian yang tersiksa. Namun, dia juga tak melihat sologami sebagai intervensi culture jamming terhadap industri pernikahan yang rumit. Malah, dengan mempertahankan keriuhan dan kemeriahan pesta pernikahan tradisional, penganut sologami sebenarnya malah mendukung pranata pernikahan standar. “Menggunakan ritual pernikahan standar sebagai inspirasi, mereka yang memilih menikahi dirinya sendiri sebenarnya tanpa sadar menegaskan kekuatan pernikahan tradisional, padahal yang ingin mereka lakukan adalah melawan wacana tersebut,” ujarnya.
DePaulo berargumne bahwa sologami justru memunculkan stereotip terburuk kaum lajang—bahwa mereka adalah orang yang asik dengan dirinya sendiri—meski beberapa penilitian menunjukkan bahwa mereka yang memutuskan hidup tanpa pasangan umumnya tak senarsis kawan-kawan mereka yang punya pasangan. “Kaum sologami itu lebih royal, mereka sering menyisihkan waktunya untuk orang lain dan rasa sayang mereka pada orang tuanya yang memasuki usia senja lebih besar.” ujarnya menyitir hasil penelitian yang digagas oleh Bureau of Labor statistics and the journal of Social Science & Medicine.
Kendati memandang sologami berlawanan dengan etos yang diyakini oleh mereka yang memilih melajang, DePaulo berpikir bahwa pesta perkawinan tradisional juga harus kita kritisi dengan serius. “Coba deh pikirkan, bukannya pernikahan dan pasangan tradisional harusnya bikin kita keki?” tanyanya. “Untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan tradisional, kamu harus mengosongkan jadwal jalan-jalanmu di akhir pekan atau malah harus mengambil cuti seminggu penuh dan terbang ke tempat yang jauh. Ini kan mahal gila! Belum lagi, mereka juga ngarep kalau kamu bawa hadiah! Terus kenapa kita tak menganggap ini sebagai sebuah perayaan yang egois?”
DePaulo menggarisbawahi bahwa mayoritas kritik terhadap penyelenggaran sologami munculdari fakta bahwa “orang lain kelewat percaya bahwa seorang yang menikah dengan orang lain punya hidup yang lebih baik dan jika kamu menikah, kamu akan jadi lebih sehat, lebih bahagia dan lebih superior dari sisi moral.”
“Kita sudah lama diwanti-wanti dari dulu bahwa seorang yang menjomblo bakal menderita dan kesepian. Yang dia inginkan cuma menemukan pasangan dan langsung ke KUA—dan jika menemukan orang yang mereka cari, dia dalam sekejap berubah menjadi seorang yang jauh lebib bahagia dan sehat,” jelasnya. “Sekarang, susah sekali hidup dengan berpatokan pada definisi pernikahan dan hidup melajang seperti ini.”
Pendapat bahwa menikahi diri sendiri memang punya potensi menjungkirbalikan industri pernikahan yang rumit sekaligus memberikan rasa tenang bagi para jomblo “ngenes” terdengar sedikit lebat. Di saat yang sama, kamu bakal kepalang sinis bila menganggap usaha seseorang untuk mencapai aktualisasi diri yang maksimal sebagai gejala kenarsian semata. DePaulo sendiri bahkan mengakui bahwa dia tak berpikir dua kali untuk datang jika diundang dalam pernikahan sologami. “Aku selalu suka melihat orang mengartikulasikan apa yang penting dan berarti bagi dirinya.” ujarnya.
More
From VICE
-

-

Seinfeld -

Screenshot: Insomniac Games -

Screenshot: Warhorse Studios