Artikel ini pertama kali tayang di Edisi Privacy & Perception dari VICE MAGAZINE. Esai ini merupakan hasil kolaborasi VICE dengan redaksi Broadly. Kamu bisa membaca artikel lainnya di sini.
Saya menghabiskan hampir seluruh masa remaja di media sosial. Waktu saya masih 11 tahun, saya bergabung di MySpace menggunakan tanggal lahir palsu. Saya juga membuat akun di Bebo, dan Facebook setelah berpacaran. Saya mendaftar di Tumblr saat berusia 15 dan bergabung bersama para remaja pembangkang lainnya.
Videos by VICE
Dua minggu setelah saya berulang tahun ke 19—kira-kira empat bulan setelah saya pindah rumah dan berkuliah—saya didiagnosis menderita penyakit jangka panjang Crohn. Kemudian saya bergabung di Crohnology, jejaring sosial bagi pengidap penyakit Crohn.

Masa remaja saya jadi berantakan setelah mengetahuinya. Saya harus melakukan berbagai pengobatan, mulai dari memasukkan steroid lewat infus sampai melakukan diet. Selain itu, saya harus rutin kontrol ke dokter.
Masih belum jelas apa penyebabnya, tetapi rusaknya sistem kekebalan tubuh bisa menjadi faktor. Saya sering sakit perut, berat badan terus menurun, mengalami diare, dan mudah lelah. Sayangnya, belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini.
Saya beralasan kalau penyakit yang diidap membuat bentuk tubuh berubah. Saya merasa lebih percaya diri dan menerima kenyataan setelah memposting foto tersebut.
Saya jauh lebih terbuka di Crohnology. Saya menggali berbagai informasi pengobatan dan rencana pemulihan di forum-forum yang ada. Perbedaannya sangat mencolok. Di satu situs, saya menjadi inspirasi dalam merawat diri dan memperjuangkan keadilan sosial. Sedangkan di situs lainnya, saya meminta nasihat dari pria tua soal pengobatan yang cocok untuk kondisi saya.
Penyakit ini tidak mudah diobati. Lama-kelamaan saya merasa terganggu dengan orang-orang yang memperlakukan saya seperti orang sakit meskipun saya sudah bersikap baik-baik saja.
Saya kehilangan banyak teman saat menginjak 21 tahun. Teman serumah berhenti mengajak main setelah mengetahui saya sakit. Saya juga memblokir mantan sahabat karena bergurau kotoran anjing yang ada di jalanan itu adalah kotoran saya—mereka tahu kalau saya sering diare. Pada akhirnya saya berhenti membahas soal penyakit Crohn.
Saya keluar dari Tumblr, menutup akun Crohnology dan membuat akun Instagram saat pindah ke London. Di Instagram, saya hanya memposting foto yang tampaknya sehat-sehat saja. Saya tidak pernah membahas soal penyakit Crohn lagi.
Saya tidak menunjukkan kondisi sebenarnya: sedang kesakitan dan tidak bisa bangkit dari tempat tidur karena kelelahan. Feed Instagram saya penuh kepura-puraan.
Berkat Instagram, tidak ada lagi orang yang menilai saya dari penyakit yang diderita. Saya harusnya bersyukur karena lebih beruntung dari penyandang disabilitas. Penyakit saya tidak tampak, sehingga orang lain tidak akan tahu kalau saya sedang sakit.
Walaupun ada ruginya berpura-pura seperti itu, tapi setidaknya orang lain berhenti memperlakukan saya layaknya orang sakit.
More
From VICE
-

-

Picture by CJ @ weknowwhatyoudidlastnight -

Insta360 Luna Ultra – Credit: Insta360 -

(Photo by Tim Mosenfelder/Getty Images)