mental health

Daripada Relaksasi, Jogging Ternyata Bisa Bikin Kita Lebih Fokus

Menurut sebuah penelitian terbaruu, olah raga dalam durasi singkat ternyata bisa meningkatkan kemampuan kognitif manusia.
Orang-orang lari di jalanan kota
Tomaz Wozniak/Unsplash

Kalau kalian ingin memastikan jika otak kalian berfungsi dengan baik, kira-kira cara mana yang bakal kalian tempuh: relaksasi selama 15 menit atau lari selama 15 menit? Sebuah penelitian terbaru terhadap 101 mahasiswa S1 menyimpulkan kita sebaiknya menempuh opsi kedua.

Sejumlah bukti yang berhasil dikumpulkan memperlihatkan bahwa olah raga aerobik ringan dalam tempo singkat—seperti jogging dan jalan kaki selama 15 menit—bisa secara seketika meningkatkan fungsi mental kita, terutama dalam hal kecepatan dan attentional control. Sejumlah penelitian juga telah menyimpulkan bahwa aktivitas yang sama bisa memiliki dampak positif pada mood kita, termasuk di antaranya membuat kita merasa lebih energik bahkan di saat-saat yang tak terduga. Dalam sebuah laporan penelitian terbaru, sejumlah periset yang dipimpin oleh peneliti Fabien Legrand mencoba menjembatani kedua temuan ini guna meneliti apakah dampak emosional dari kegaiatan olahraga singkat bisa memberikan keuntungan kognitif bagi para pelakunya.

Iklan

Para peneliti meminta para peserta riset untuk merangking seberapa energik mereka dan menginstruksikan mereka mengerjakan dua tes kognitif (salah satunya adalah Trail Making di mana peserta harus menarik garis antara angka dan huruf secepat dan seakurat mungkin). Setelah itu, setengah dari jumlah peserta keluar dari ruangan untuk berjogging selama 15 menit sementara setengah peserta lainnya berelaksasi dengan durasi yang sama. Dua menit setelah sesi jogging dan relaksasi ini berakhir, peserta diminta kembali menilai seberapa bertenaga mereka dan kembali mengerjakan tes kognitif.

Ternyata, peserta penelitian yang melakukan jogging—alih-alih relaksasi—menunjukkan peningkatan performa dalam tes Trail Making Test yang dibuat untuk mengukur mental speed dan attentional control. Selain itu, peningkatan kemampuan kognitif ini disertai perasaan energik yang menunjukan—walau belum sepenuhnya membuktikan—bahwa berlari bisa menggenjot kemampuan kognitif pelakunya lewat perasaan subyektif bahwa diri mereka lebih energik. Sebagai bandingan, peserta yang menjalani relaksasi justru mereka yang kurang energik dalam sesi kedua penelitian itu.

Penelitian ini jelas punya sejumlah kekurangan. Di antaranya, sesi relaksasi berlangsung di dalam ruangan sementara jogging dikerjakan di luar ruangan. Hal ini sepenuhnya disadari oleh para peneliti. Malah, sembari menegaskan pentingnya penelitian yang lebih lanjut, Legrand dan timya mengatakan bahwa “meningkatkan rasa bugar bisa saja memediasi hubungan antara olah raga aerobik singkat dan sejumlah aspek fungsi kognitif manusia.”

Paparan penelitian ini pertama kali terbit di British Psychological Society Research Digest . Baca artikel aslinya di sini .