Begini kondisi nyaris semua hunian di kampung 6 de Maio.
Carlon, 35 (kiri), lahir di Tanjung Verde. Orang tua Carlon membawanya ke Portugal ketik dia masih dua tahun. Dia telah bekerja sebagai tukang cukur rambut di 6 de Maio selama 18 tahun.
Banyak lelaki muda di 6 de Maio yang memiliki senjata api.
Graffiti geng di tembok 6 de Maio
Sekelompok laki-laki berolahraga di bekas bangunan rumah yang telah digusur pemerintah daerah
Dua lelaki sedang berkelahi di samping rumah yang sudah hancur. Mereka berdua adalah “penembak jitu” yang tugasnya memperingatkan warga akan kedatangan polisi atau geng musuh. Perkelahiannya disebabkan oleh seorang sniper yang tidak becus kerja.
Seorang laki-laki sedang memegang parang yang sempat dimiliki ayahnya dulu.
Lelaki ini memiliki bekas jahitan akibat tembakan di perutnya.
Saat dia masih 15 tahun, lelaki ini dimasukkan ke lembaga pemasyarakatan remaja. Pada usia 18, dia dipenjara karena membajak mobil. Dia kembali masuk penjara saat berusia 25 tahun, karena menyerang seorang staf toko perhiasan.
Seorang penduduk tampak merawat tanaman ganjanya.
Seorang laki-laki memandikan bayinya yang masih enam bulan.
Mobil polisi sedang berpatroli di sekitar kawasan itu.
Wilson, 24, bercita-cita menjadi petinju profesional. Dia mendirikan gym di sebuah rumah yang sudah ambruk.
Sejumlah warga asyik bermain poker di malam hari.
Seorang lelaki menyaksikan rumah yang dihancurkan eskavator.
Penduduk 6 de Maio sedang berpesta.