Sistem Patungan Agar Musisi Lokal Tak Terjebak Jalan Buntu Penjualan Album dan Merchandise

Berikut obrolan VICE bersama pendiri situs crowdfunding kolase.com. Dia optimis dapat menyediakan solusi bagi musisi yang selama ini kesulitan merilis karya atau menggelar acara live bagi fans.
30.4.18
Salah satu konser yang digelar lewat platform kolase.com. Foto dari arsip Raden Maulana.

Mengajukan pertanyaan "apakah era rilisan fisik sudah lewat?" dalam kancah musik Indonesia sekilas terasa basi. Asumsi tersebut dibangun mengingat generasi yang terlahir setelah dekade 90'an menganggap musik adalah produk gratis, sementara membeli CD, kaset, ataupun vinyl musik lebih menyerupai pilihan manasuka. Atau, jawaban jalan tengahnya: pola bisnis musik "legal" sekarang sepenuhnya bertumpu pada layanan streaming. Masalahnya, streaming berulang kali diberitakan tidak bisa menjadi sumber pemasukan layak bagi musisi.

Namun bagi kolase.com, situs crowdfunding lokal yang fokus menjembantani relasi mutualistis seniman dan audiens, menyepelekan pertanyaan di atas adalah kekeliruan. Walau baru beberapa bulan lahir, beberapa proyek seni (lebih tepatnya musisi) di Kolase.com berhasil mengumpulkan dana tidak sedikit. Album kedua dari Fourtwenty serta upaya solois Tulus mendukung konservasi gajah di Taman Nasional, masing-masing memperoleh dana dari penggemar di kisaran Rp50 juta sampai Rp100 juta.

Eksperimen pembiayaan yang digagas Raden Maulana, founder Kolase.com, cukup menarik. Dia lebih dari satu dekade berkarir di industri musik Indonesia, termasuk menjadi manajer dari band beranggotakan musisi kugiran kancah Jakarta seperti Neurotic. VICE mengajaknya ngobrol soal potensi crowdfunding menjadi bentuk baru hubungan yang lebih sehat antara fans dan seniman.

Raden optimis dengan masa depan skema yang dia usung. Meskipun belum sepenuhnya menggantikan proses pembelian produk fisik, baik album ataupun merchandise, setidaknya melalui crowdfunding para penggemar dapat mendukung seniman favoritnya secara lebih sehat. Dia pun optimis skema ini dapat diperluas ke ranah film, game, penulisan buku, konser, hingga proyek sosial lainnya.

Berikut cuplikan obrolan antara VICE dan Raden mengenai situasi crowdfunding musik di Tanah Air saat ini:

* Disclaimer: Raden Maulana pernah menjadi kibordis tidak tetap dan tetap di grup Sajama Cut, band penulis artikel ini, sepanjang kurun 2006 hingga 2008.

VICE: Halo. Menurut elo apakah penikmat musik Indonesia sekarang betulan sudah siap mendukung musisi selain dengan cara membeli album?
Raden Maulana: Kita mikir, bosen enggak sih dari jaman dahulu fans-fans musik cara dukungnya cuma beli album doang? Apalagi jaman sekarang sudah digital dan serba instan. Kata dukungan pun juga jadi luas saat ini, modal “nge-like, comment, follow” di Instagram atau di social media lainnya kalo ada musisi yang posting juga itu bisa dikatakan dukungan. Apalagi anak-anak jaman sekarang mereka harus ngerasain pendekatan dua arah sama artisnya. Anak yang di katakan millenials kelahiran 2000'an tuh mereka maunya instan, mereka mau ngerasa jadi trendsetter di setiap hal yang baru, dan memiliki rasa a part of history dari hal yang mereka sukain.

Proyek Kolase yang paling berhasil sejauh ini apa saja?
Nominalnya yang campaigner dapatnya dari kisaran Rp8 juta sampai dengan Rp100 Juta. Terhitung sejak kita mulai live per tanggal 1 Februari hingga April 2018, kita mengantongi Rp339 jutaan, hasil dari delapan campaign yang berhasil dan 10.000 lebih subscribers.

Apa yang membedakan sehingga campaign bisa berhasil dan ada yang kurang dapat sambutan?
Sejauh ini proyek-proyek yang berhasil itu ketika si artis atau campaigner berkampanye semaksimal mungkin. Namanya juga campaign, ya harus kampanye semaksimal mungkin. Kalau diam, malu, gengsi, enggak usah bikin campaign.

Bisa enggak elo kasih contoh proyek yang berhasil berkat sikap proaktif dari para musisi dalam mempromosikan crowdfunding yang mereka jalankan?
Yang berhasil dan aktif mempromosikannya itu Fourtwenty, Last Goal Party, Thirteen, Tulus, Alseace 2018 (pensi sekolah Al Azhar BSD), Elephant Kind (Proyeknya Bam Mastro & Softanimals), dan masih banyak lagi. Mereka gencar promosiin campaign mereka di sosmed masing-masing dan mereka juga unik buat campaignnya, kaya projek dari masing-masing personil Elephant Kind itu unik banget dan alhasil berhasil.

Gimana sih proses promosi yang perlu dijalanin musisi? Apakah cukup rajin posting di media sosial doang?
Hal terpenting dalam membuat campaign adalah ide kreatif yang semenarik mungkin, enggak cuma “mau bikin album ah!” Enggak bisa gitu! Kalau bisa, elo perlu tanya dulu sama fans di polling Kolase.com, kira-kira mau dibuatin apa. Jadi jelas maunya fans elo apa. Jangan elo bikin album, padahal fans maunya buat showcase atau yang lainnya.

Kedua, elo buat keterangan di halaman kolase.com lo sendiri itu detail sedetail-detailnya dan semenarik mungkin. Ketiga, aktif tuh promosiin campaignnya selayaknya elo berkampanye jadi presiden. Harus pol-polan.

Artinya musisi harus mau repot mendidik basis penggemarnya untuk memberi dukungan materiil ya?
Pola kayak ini juga ngasih penggemar edukasi bagaimana cara baru untuk mengapresiasikan musik. Enggak cuma minta “bang minta link download bang.” Jadi kita gerak sama-sama supaya sistem di industri berubah. Gambaran yang gue lihat tuh dari dulu sampe sekarang kaya Warteg, musisi tuh produksi dulu baru dijual, laku gak laku kita gak ada yang pernah tahu. Jadi enggak mubazir dari berapa banyak lagu yang kebuang cuma-cuma, dan apalagi udah enggak jelas laku atau enggak, dibajak pula. Sedih kan jadi musisi, gimana mau buat lagu kalau perut laper.

Sejauh ini, projek tipe apa aja yang paling banyak mendapat reaksi positif di situs Kolase? Gue sempat denger penikmat musik malah lebih responsif mendanai konser ya?
Paling banyak itu acara Live, seperti showcase, terus pensi, dan medium event lainnya. Kayanya enggak cuma di Indonesia ya, di luar negeri juga sama kok.

Karena sebuah acara live itu mendapatkan

experience

sendiri yang ga bisa di rasain ketimbang elo nonton live di youtube. Penonton bisa merasakan euforia dan bisa nyanyi atau dance bareng-bareng.

Di luar negeri, setahu gue ada situs crowdfunding mencoba hal serupa, intinya memberi insentif agar fans musik mendukung musisi, tapi banyak yang kurang berhasil. Apa yang membuat elo yakin Kolase punya strategi berbeda?
Gue belum pernah denger sih platform crowdfunding lokal selain Kolase.com yang fokus di bidang musik di Indonesia, kecuali di luar negeri. Setahu gue, crowdfunding di luar yang gagal fokus ke [pendanaan] film dan sekarang udah shutdown. Itu gue pernah pelajarin, intinya film tuh butuh waktu lama dalam produksi, kedua sutradara yang memiliki followers banyak juga masih bisa kehitung, ketiga produksinya tuh lumayan besar untuk membuat sebuah film yang proper, dan paling sedihnya disaat itu antusias di film lokal juga ga sebesar musik.

Apa yang dihadirkan Kolase supaya fans mau mengeluarkan uang yang cukup signifikan untuk mendukung karya musisi favoritnya?
Kolase sampai berhasil meyakinkan para fans-fansnya karena kita mengutamakan trust, sistem pembayaran dan refund yang mudah, sistem pengiriman juga sudah bekerjasama dengan perusahaan express logistik, dan kita juga mencarikan sponsor untuk campaigner, dan terpenting penyaringan yang ketat untuk campaign yang kita approve atau layak di publish.

Ide membangun Kolase ini apakah muncul dari latar belakang elo di industri musik dalam negeri?
[Tertawa] Elo tau lah, kita pernah seband dulu. Sebenernya latar belakang di keluarga gue gak ada yang bermain musik, apalagi sebagai musisi. Jadi [memilih profesi musisi] agak dipojokin. Kaya lagi acara keluarga, itu hal yang paling males tuh. Jadi musisi di mata keluarga gue pekerjaan yang kata orang Jawa, enggak ada juntrungannya. Dari awal gue punya band diem-diem itu sewaktu SMP, masih zamannya main di Poster, M-Club, samapi Marimba. Beranjak gue remaja punya Band The Aftermiles, bantuin Sajama Cut juga, terus sempet di Alexa juga sebagai additional player.


Tonton video variety show dari VICE Indonesia, 'Musik Tanpa Batas', menampilkan bakat-bakat terbaik dari musisi berbagai genre dalam situasi tak terduga:


Elo akhirnya stop bermain di musik kan?
[Iya] semenjak orangtua menyuruh gue kerja dan enggak boleh ngeband lagi. Gue kerja kantoran sebagai akuntan beberapa tahun. Gue sempat mau buktiin sama keluarga gue kalau musik itu bisa kasih nafkah. Alhasil setelah gue keluar kerja kantoran dan me-manage band itu ternyata sulit dan akhirnya gagal. Setelah bertapa yang cukup lama, akhirnya gue membuat ide Kolase.com. Gue bisa membantu para musisi-musisi dalam berkarya, dan juga mengubah sistem di industri musik yang udah ada menjadi lebih baik di Kolase.com.

Menurut elo sistem crowdfunding ini akankah semakin lumrah di kancah musik Indonesia? Apa saja kecocokan dan ketidakcocokan sistem ini dengan mentalitas penggemar musik dalam negeri?
Mudah-mudahan ya, dan seharusnya bisa sih. Karena tren crowdfunding di luar itu sudah cukup lama. Menurut gue enggak bisa sekadar dibilang cocok atau tidak sih, karena kalau kita bedah, sebenarnya tanpa disadari secara konvensional dan organik sudah berjalan sebelum adanya crowdfunding atau patungan online.

Contohnya: anak-anak sekolah yang mengumpulkan dana untuk pensi, mereka jual bunga atau ngamen, itu kan sebenernya crowdfunding. Atau yourraisa, penggemarnya Raisa, mereka patungan dan memberikan ide agar Raisa bikin konser. BIP pernah juga buat albumnya dengan cara begitu; ERK dengan side project Pandai Besi-nya, udah ada juga kan. Bedanya cara saat ini dikemas secara digital.