Bertemu Kim Jong Un, Momen Pembuktian Trump Sebagai Negosiator Genius atau Calon Gagal Total

Presiden Trump sepakat menemui Kim Jong Un bulan depan. Perkembangan yang tidak diduga negara manapun, mengingat kedua pemimpin itu sempat saling menghina dan mengancam perang nuklir.
12.3.18
Foto ilustrasi oleh VICE News/Getty Images.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Tak ada angin tak ada hujan, akhir pekan lalu Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku setuju bertemu Kim Jong-un, pemimpin Korea Utara, di lokasi netral. Mereka bakal menegosiasikan penghentian proyek senjata nuklir Korut yang selama ini mengancam negara-negara di Asia Pasifik. Apa-apaan nih? Bukannya Trump dan Kim Jong-un tahun lalu sibuk berantem ya?

Faktanya, pertemuan itu betul-betul akan dilaksanakan. Banyak negara segera melontarkan pernyataan, baik mendukung maupun mengkritik keputusan Trump. Pemerintah Indonesia salah satu yang mendukung ide pemimpin Negeri Paman Sam tersebut. "Indonesia menyambut baik upaya-upaya semua pihak, ke arah perbaikan situasi di semenanjung Korea," kata Arrmanatha Nasir, juru bicara Kemenlu kepada media. Pemerintah Jepang dan Cina juga menyambut baik rencana pertemuan pemimpin AS dan Korut.

Adapun pengamat politik di AS menilai keputusan Trump berisiko menjadi blunder politik paling serius bagi perdamaian dunia.

Konferensi Tingkat Tinggi antara Donald Trump dan Kim Jong-un diperkirakan terjadi sebelum akhir Mei. Pertemuan yang terburu-buru ini menimbulkan banyak pertanyaan: Bagaimana nantinya dialog keduanya akan berlangsung? Apa yang akan terjadi di meja perundingan? Apakah hal ini akan menjadi bumerang atau justru membuka peluang perdamaian abadi di Semenanjung Korea?

Satu-satunya orang yang mungkin mempunyai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah Daniel Russel, mantan pejabat Kementrian Luar Negeri yang sepanjang karirnya berurusan dengan rezim Korea Utara. Russel terakhir menjabat sebagai diplomat kenamaan di Asia Timur, di bawah pemerintahan Obama. Sebelumnya, dia membantu membimbing dua mantan presiden dalam proses kunjungan ke Pyongyang.

Yang pertama adalah mantan presiden Jimmy Carter. Pertemuannya yang kontroversial dengan kakek Kim Jong Un pada 1994 penuh ketegangan saat Carter membungkus kesepakatan yang meredakan krisis tersebut, menjanjikan bantuan dengan syarat pembekuan nuklir, namun pemerintahan Clinton cemas karena merasa tidak diikutsertakan. Pada 2009, Clinton bertemu dengan ayah Kim Kong Un untuk menegosiasikan pembebasan dua wartawan. Russel mempersiapkan keduanya sebelum pertemuan-pertemuan tersebut.

Russel meninggalkan posisinya di Kementrian Luar Negeri pada bulan Maret lalu untuk kemudian bergabung pada Asia Society Policy Institute sebagai Diplomat in Residence. Kami ngobrol-ngobrol dengan Russel pada Jumat lalu, untuk membahas rencana Trump. Percakapan kami diedit sedikit supaya ringkas dan terang.

VICE News: Apakah pertemuan Trump dengan Kim Jong Un ini ide yang bagus?
Daniel Russel: Menurut saya, separuh dunia menganggap pertemuan ini semacam hail Mary [istilah American Football untuk tindakan putus asa dengan kemungkinan berhasil yang kecil-red] yang terburu nafsu. Separuh dunia lainnya memandang pertemuan ini sebagai potensi menyelesaikan permasalahan pelik yang selama ini mengalami kebuntuan: nuklir Korea Utara. Semua orang berharap KTT ini akan berhasil menghasilkan terobosan, tapi orang-orang yang telah memerhatikan selama bertahun-tahun dan mengamati kebangkitan dan kejatuhan upaya-upaya sebelumnya, saya rasa, cukup skeptis.

Mengapa selama ini presiden-presiden AS tidak berkunjung ke Korea Utara atau menemui pemimpin Korea Utara?
Di satu sisi, menempatkan presiden Amerika Serikat sebagai pemecah masalah untuk menggelar KTT dengan seorang oposisi biasanya merupakan puncak dari proses diplomatik yang cukup panjang dan ketat, alih-alih langkah pertama.

Hal-hal yang diharapkan seorang presiden, baik yang dulu ataupun yang sekarang, ketahui termasuk sejarah upaya-upaya sebelumnya; bukan hanya pandangan kita atas apa yang terjadi, tetapi juga pandangan dan ingatan Korea Utara atas apa yang terjadi. Harapannya adalah mereka paham kosakatanya—saat Korea Utara mengatakan ini, yang sebenarnya mereka maksud adalah itu. Saat mereka membahas soal kebijakan yang antagonis, itu merupakan kode atas keberadaan militer AS di Korea Utara.

Sebaiknya dijabarkan, ini lho yang diinginkan Kim, dan ini adalah tujuan-tujuan dia. Sebaliknya, menganai pokok-pokok yang ditawarkan AS, presiden sebaiknya paham bahwa, tak seperti dugaan, beberapa hal mungkin tidak begitu menarik atau kredibel bagi warga Korea Utara. Terutama karena mereka tidak percaya pada kita. Ada banyak hal yang sebaiknya seorang presiden sudah khatam dan paham saat mempersiapkan pertemuan yang sepenting ini. Tentunya, setiap presiden memiliki gayanya masing-masing. Saya yakin Presiden Trump akan banyak belajar.

Jenis perencanaan seperti apa yang diperlukan supaya pertemuan seperti ini berhasil? Persiapannya seperti apa?
Tidak ada yang normal soal hal ini. Ini bukanlah pendekatan yang umum atau biasa. Saya rasa kita belum pernah menyaksikan warga Korea Utara secara resmi mengutarakan sebuah penawaran atau memperjelas tawaran-tawaran mereka. Kita mengetahuinya secara sekunder lewat warga Korea Selatan, yang amat tidak biasa. Fakta bahwa keputusan sebuah kebijakan yang sangat penting diumumkan di Gedung Putih oleh sang penasihat keamanan nasional negara lain, alih-alih penasihat keamanan nasional Amerika Serikat, mengukuhkan bahwa ini bukan hal yang biasa.

Tawaran-tawaran Korea Utara selalu diajukan dengan beberapa peringatan dan catatan kaki yang signifikan, sebagiannya eksplisit dan sebagiannya lagi tersembunyi. Sejauh ini, belum ada tawaran apapun kecuali ambiguitas sekunder. Kita tidak ingin menjadi korban sinisme, dan kita tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengubah hubungan [antara AS dan Korut]. Tapi, kami juga tidak ingin menjadi korban dari sebuah langkah pertama penuh risiko, untuk mengurangi tekanan pada rezim Korea Utara.

Presiden Trump telah menjelaskan berulang kali bahwa usulan-usulan yang saru atau tidak dapat dilaksanakan, yang suatu hari mungkin bisa mendenuklirisasi Korea Utara tidak akan berhasil. Kini, terserah Trump bila dia ingin bertemu dengan Kom Jong Un untuk mencoba meraih kesepakatan atas sebuah proses yang bisa mengarah pada denuklirisasi yang dapat diverifikasi, yang tidak dapat diubah, yang selama ini diupayakan AS.

Bagaimana kira-kira Trump akan dipersiapkan atau dilatih oleh tim diplomat sebelum pertemuan dengan Kim Jong Un?
Pertemuan ini akan berlangsung mengikuti naluri presiden: Prinsip pertama di sini adalah untuk menjaga komunikasi yang baik dan persatuan yang kuat antara Washington dan Seoul dan juga sekutu dan mitra kami yang penting di Jepang, serta memastikan pemerintah Cina dan juga Rusia tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan. Persatuan dan koordinasi adalah pekerjaan nomor satu.

Prinsip kedua: Meskipun hal-hal dalam pertemuan ini bertentangan dengan nalurinya, saya akan menjabarkan padanya tindakan-tindakan yang paling sejalan dan relevan berdasarkan rekam jejak pendahulunya. Bahwa Jimmy Carter melakukan tindakan-tindakan yang berlawanan dari keinginan presiden pendahulunya, pada momen-momen penuh friksi, ketegangan, dan ancaman. Ada orang-orang yang menyerukan aksi militer melawan Korea Utara. Korea Utara kemudian meningkatkan ancaman-ancaman mereka. Dia mengunjungi Korea Utara untuk menguji anggapan bahwa dia bisa membantu menyelamatkan citra mereka melalui pertemuan tatap muka. Pada pertemuan tersebut, dia menunjukkan rasa hormat dan berupaya menggunakan keterampilan personal dan diplomatisnya untuk meredakan situasi.

Faktanya adalah dia mendapatkan kesepatakan pada titik itu. Kesepakatannya sederhana; kedua pihak sepakat untuk menekan tombol jeda kemudian untuk terlibat dalam proses negosiasi serius. Kerangka kerja yang disepakati tersebut menghentikan program nuklir dan mewajibkan inspeksi dan verifikasi terhadap Korea Utara dengan imbalan sejumlah bantuan ekonomi tertentu.

Imbalan yang diminta Korea Utara atas pembekuan program mereka—belum lagi atas penutupannya—kemungkinan sudah bertambah sejak saat itu. Dan dengan cara yang sama, mengingat banyak janji-janji yang dilanggar Korea Utara, AS hampir pasti akan menuntut pengaturan verifikasi yang cukup instruktif, yang artinya ini tidak akan jadi mudah.

Apakah menurutmu Korea Utara bersungguh-sungguh akan merelakan senjata-senjata nuklir mereka? Apa yang harus diberikan AS supaya hal tersebut terjadi?
Sumber saya soal niat sesungguhnya Korea Utara adalah Kim Jong Un sendiri. Pada 1 Januari dalam pernyataan Hari Tahun Baru yang dia buat, pernyataan yang sama saat dia menggantungkan dahan zaitun Olimpiade dengan usulan mengenai tim gabungan dan pertemuan antara Korea Utara dan Korea Selatan, dia menjelaskan seterang-terangnya bahwa dia akan mempertahankan [senjata nuklir], bahwa dia akan mempertahankan pedang dan perisainya dan menyimpan persenjataannya.

Kita belum mendengar kabar dari Kim Jong Un yang berlawanan dengan komitmennya itu. Pola yang dia tunjukkan, perilaku serta pernyataannya, jelas-jelas menyiratkan bahwa dia teguh dalam keyakinannya bahwa dia berhak menyimpan persenjataan nuklir dan kemungkinan akan tiba masanya dua kekuatan nuklir yang sah dan lengkap, AS dan DPRK, bisa duduk bersama dan membahas pengurangan senjata dan kontrol masing-masing.

Hipotesis yang sebaiknya menjadi landasan operasi adalah bahwa langkah pertama Korea Utara bertujuan untuk meringankan sebagian tekanan sanksi dalam jangka pendek. Tentunya, hal tersebut menempatkan Korea Utara pada posisi yang lebih baik dari sekarang, untuk membuka semacam jalan damai untuk melihat apa yang dapat ditawarkan AS, Korea Selatan, dan yang lainnya, demi sebuah masa damai dan tenang yang sementara.

Setelah mereka memperhitungkan bahwa mereka tidak akan mendapatkan lebih lewat pencitraan dan saat ilmuwan-ilmuwan rudal mereka kembali dan berkata, “OK, kami siap untuk melakukan peluncuran rudal balistik berikutnya untuk menguji ICBM generasi selanjutnya, lalu kita kembali ke fase provokasi yang telah kita saksikan sebelumnya. Itulah pola tradisional Korea Utara.

Apakah ada kemungkinan gaya komunikasi Trump yang tidak lazim bisa berhasil dalam negosiasi dengan Kim Jong-un?
Itu adalah pertanyaan yang kita cuma bisa temukan jawabannya kalau situasinya sudah berlalu. Kita tidak mungkin tahu jawabannya sekarang. Untuk urusan yang lebih umum, inkonsistensi dan unsur tidak bisa diprediksi, adalah kualitas yang sangat bermanfaat bagi seorang petarung jalanan atau gerilyawan. Jarang sekali hal-hal ini menjadi atribut yang kita ingin lihat pada pemimpin negara adikuasa.

Apakah kita bisa menilai apakah ungkapan-ungkapan kontradiktif seperti “Little Rocket Man akan dihancurkan total” lalu “Dia pintar kok dan kami punya chemistry,” atau “fire and fury” lalu “OK, saya akan menemuinya bulan depan,” bahwa itu adalah kunci rahasia yang akan memecahkan masalah nuklir Korea Utara? Saya benar-benar gak tahu.