Kuliner

Orang Yang Rutin Mengonsumsi Makanan Sehat Berjasa Membantu Planet Bumi

Penelitian terbaru menyimpulkan, dengan mengurangi konsumsi daging kita dapat mengurangi emisi karbon industri peternakan yang selama ini memicu pemanasan global.
Narendra Hutomo
Diterjemahkan oleh Narendra Hutomo
11 Desember 2017, 7:20am

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Tahun lalu, pemerintah Amerika Serikat menyatakan warganya mengkonsumsi terlalu banyak kalori. Negeri Paman Sam menyarankan penduduknya mengurangi sodium, biji-bijian, gula, lemak jenuh, dan daging—soal daging ini terutama disarankan banget kepada para lelaki dewasa ataupun anak laki-laki. Dokumen pemerintah AS itu penting untuk didiskusikan bersama negara-negara lain. Dalam penjelasan tersebut, disampaikan bahwa ada faktor eksternal seperti norma sosial dan budaya mempengaruhi pilihan makanan orang. Sayangnya dokumen tersebut tidak mengatakan apa-apa tentang makanan dapat mempengaruhi faktor-faktor di luar kesehatan seseorang-terutama terhadap lingkungan.

Salah satu yang paling menarik, makanan rupanya bisa berdampak pada kerusakan lingkungan. Seriusan.

Begini faktanya: Planet Bumi punya masalah dengan orang-orang yang banyak makan daging, terutama daging sapi. Jangan lupa, daging sapi diproduksi dari peternakan yang butuh lahan luas. Dibutuhkan dua kali lipat penggundulan lahan hutan untuk memberi makan manusia yang mengonsumsi daging daripada memberi memberi makan para vegetarian sedunia. Data ini tentu saja buruk, mengingat penggunaan lahan dan penggundulan hutan berkontribusi terhadap 40 persen kenaikan emisi global karbon dioksida. Menurut penelitian lain yang diterbitkan tahun lalu, seandainya setiap orang menjadi vegetarian, maka umat manusia berpeluang mengurangi emisi gas rumah kaca yang disebabkan rantai produksi makanan sebesar 63 persen.

Tentu saja tidak realistis jika kita mengharapkan semua orang di dunia beralih ke konsumsi nabati dalam semalam. Kalau kamu menyukai daging dan peduli terhadap lingkungan, haruskah kamu memilih salah satu pilihan tersebut? Menurut Paul Behrens, peneliti dan asisten profesor perubahan energy dan lingkungan di Universitas Leiden di Belanda, jawabannya adalah tidak.

Mengacu pada hasil penelitian Behrens dan rekan-rekannya, disimpulkan jika orang-orang di negara-negara berpenghasilan tinggi bersedia mengikuti anjuran pola makan yang direkomendasikan pemerintah mereka, tindakan tersebut dapat mengurangi dampak emisi gas rumah kaca, polusi saluran air, dan penggunaan lahan hingga 24,8 persen, 21,3 persen, dan 17,6 persen secara berturut-turut. (Panduan diet di Indonesia selama ini belum spesifik, cuma "empat sehat lima sempurna". Bandingkan sama AS yang menyarankan penduduknya mengkonsumsi "berbagai makanan protein, termasuk makanan laut, daging dan unggas tanpa lemak, telur, kacang polong, kacang-kacangan, biji-bijian, dan produk kedelai.")

Tapi penelitian tadi menyimpulkan kalau kebijakan negara maju tak perlu serta merta ditiru Indonesia. Di negara-negara berpenghasilan rendah seperti India dan Indonesia, panduan diet jarang sekali dirumuskan pemerintah, karena orang lebih jarang mengkonsumsi daging, unggas, dan telur yang memadai (atau mendapatkan cukup kalori pada umumnya). Dampaknya, kata Behrens, mengikuti diet yang direkomendasikan pemerintah justru akan meningkatkan emisi—walaupun emisi global secara bersih di seluruh 37 negara yang diteliti akan tetap turun.

Dari semua makanan, daging sapi memiliki dampak terbesar terhadap pemanasan global. Membesarkan sapi utuk diproses menjadi daging sapi membutuhkan 28 kali lebih banyak tanah, 11 kali lebih banyak air, dan lima kali lebih banyak gas rumah kaca daripada makanan berbasis hewani lainnya seperti ayam, babi, dan susu. Behren mengatakan bahwa pupuk dan kotoran sapi juga masuk ke sungai dan menyebabkan alga beracun yang membunuh tanaman dan ikan. Plus, dia menambahkan bahwa "ternak memiliki proses pencernaan di perut mereka yang melepaskan banyak metana, yang merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat.” Yup, kentut sapi berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Untuk membantu planet Bumi, anda tidak perlu sepenuhnya tak lagi makan daging. Anda—cuma butuh, ya, sedikit aja lah mengubah pola konsumsinya. "Mengubah diet dapat mengurangi emisi gas rumah kaca kita secara dramatis, terutama jika kita mengurangi konsumsi daging dan susu, karena makanan ini saja berkontribusi hingga 20 persen dari total emisi kita," kata David Cleveland, profesor riset program studi lingkungan di University of California, Santa Barbara.

"Sebagian besar informasi tentang makanan yang didapat orang berasal dari industri makanan nirlaba, yang mendorong orang untuk memilih makanan yang buruk untuk kesehatan dan lingkungan mereka, sehingga penting untuk mengatur informasi itu," imbuh Cleveland.

Mengonsumsi daging sapi terlalu sering meningkatkan risiko diabetes dan kematian dengan sebab apapun. Konsumsi daging berlebih dapat memperparah penyakit jantung. Mengurangi daging merah dan daging olahan tidak hanya dapat meningkatkan kesehatan Anda dan mengurangi emisi dari pertanian—dimana menurut penelitian Cleveland yang diterbitkan tahun ini di Climatic Change, itu juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dari sistem perawatan kesehatan. Ini adalah situasi win-win-win, katanya.

Kita tidak bisa membicarakan industri peternakan tanpa membicarakan aspek kesejahteraan hewan. Terutama karena dalam banyak kasus, cara memelihara hewan yang lebih manusiawi dampaknya bagi lingkungan. (Tentu saja, hal yang paling manusiawi adalah untuk tidak memakan mereka sama sekali.)

Sapi yang bahagia makan dari dan tinggal di padang rumput, tapi mereka menghasilkan lebih banyak metana dan menggunakan lebih banyak lahan, daripada sapi yang dibesarkan dalam kandang. (Behrens mengatakan itu sebabnya produksi daging sapi membuat porsi emisi yang lebih besar di negara-negara seperti Brasil dan Australia, di mana lebih banyak sapi makan rumput.)

"Ada banyak masalah kesejahteraan hewan," katanya. "Orang-orang ingin mengkonsumsi daging dari sapi yang dirawat secara 'manusiawi' karena mereka ingin bersikap baik terhadap hewan, tapi orang-orang ini juga kadang melupakan dampak lingkungan dari pola peternakan ramah hewan seperti itu." Lalu apa solusinya? Kurangi fokus terhadap bagaimana daging diproduksi dan lebih fokuslah mengurangi konsumsi daging.

Dibutuhkan perubahan gaya hidup total untuk berubah dari gaya hidup karnivora ke pemakan semuanya-yang-berbasis-kedelai (percayalah susah banget memang. Karena saya seorang vegetarian). Setidaknya penelitian Behrens menunjukkan bahwa Anda tidak perlu melakukannya—Anda dapat memberi dampak positif pada lingkungan dengan mengikuti diet yang lebih sesuai dengan model Reducetarian yang mendorong Anda untuk mengkonsumsi lebih sedikit daging.

"Jika anda bersedia mengikuti anjuran pola makan dari negara-negara berpenghasilan tinggi, anda akan mendapatkan kesehatan pribadi dan kesehatan lingkungan yang lebih baik," kata Behrens. "Mengubah kebiasaan seperti ini memang bukan hal sederhana. Bagi negara yang sudah berlebih mengonsumsi daging, adanya anjuran diet secara nasional adalah satu langkah menuju kemajuan."