FYI.

This story is over 5 years old.

Terorisme

Dampak Kabar Kematian Bahrun Naim Bagi Jaringan Teror Indonesia

Pria asal Solo pendiri jaringan Katibah Nusantara ini dikenal berkarisma dan aktif merekrut calon teroris. Tokoh panutan baru sel teror lokal diyakini akan beralih.
Foto oleh Reuters Stringer.

Kabar tewasnya militan ISIS asal Solo, Jawa Tengah Bahrun Naim di Suriah santer terdengar di beberapa media lokal sejak pekan lalu. Bahrun dikabarkan tewas dalam serangan di Abu Hammam—sebuah desa yang terletak 352 km dari Aleppo—November lalu. Kabar tersebut berawal dari screenshot yang dengan cepat beredar di WhatsApp dan media sosial.

Baik pihak keluarga maupun kepolisian belum bisa mengonfirmasi kabar tersebut. Kapolri jenderal Tito Karnavian mengatakan bahwa kabar tersebut bisa saja merupakan upaya untuk mengelabui penegak hukum, seraya menambahkan bahwa polri harus mengecek kebenaran laporan tersebut melalui Interpol dan aparat di negara terkait.

Iklan

"Polri harus cari sumber resmi yang akurat, bisa dari counterpart kami di luar negeri yang memiliki akses di sana,” ujar Tito dikutip media lokal.

Bukan kali ini saja kabar tewasnya militan asal Indonesia di Suriah berembus. Militan asal Pasuruan, Jawa Timur Salim Mubarok at Tamimi alias Abu Jandal, yang mendanai serangan bom Thamrin pada 14 Januari 2016, pernah dua kali dikabarkan tewas pada November 2016. Maret tahun ini, Bachrumsyah, salah seorang perekrut handal, juga dikabarkan tewas dalam serangan bom bunuh diri yang gagal mengenai sasaran di kota bersejarah Palmyra. Namun hingga kini, Polri belum bisa memastikan kebenaran laporan-laporan tersebut.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia Ridlwan Habib mengatakan proses verifikasi kabar tersebut tampaknya sulit dilakukan, mengingat kondisi di Suriah yang menyulitkan pengumpulan data dan informasi. Ridlwan kembali mengingatkan beberapa rumor soal tewasnya beberapa militan Indonesia hingga saat ini belum terverifikasi.

“Kabar kematian Bahrun masih fifty-fifty,” ujar Ridlwan kepada VICE Indonesia. “Jadi Polri
harus hati-hati menyikapi berita tersebut.”

Pendapat berbeda diberikan oleh Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones saat dihubungi VICE. Dia mengatakan kabar kematian Bahrun hampir pasti benar. Menurutnya selama ini belum pernah ada kabar palsu soal tewasnya militan di Suriah maupun Irak. Apalagi kabar kematian Bahrun beredar di saluran komunikasi resmi para militan, bukan dari situs pihak ketiga. "Belum ada contoh di mana dengan sengaja orang Indonesia dilaporkan meninggal padahal tidak benar. Jadi, saya yakin kemungkinan besar (informasi kematian Bahrun) ini benar," ucapnya.

Iklan

Bahrun, kelahiran Pekalongan 6 September 1983, pergi ke Suriah pada 2014 setelah sempat dijatuhi vonis hukuman penjara selama 2,5 tahun pada 2010 karena menyimpan peluru dan senjata api. Pria bernama lengkap Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo alias Abu Rayyan tersebut termasuk salah satu pendukung ISIS pertama di Indonesia, jauh sebelum aparat dan media mencium jejaring terorisme yang terhubung ke ISIS.

Ia diketahui terhubung dengan jaringan di Jawa Tengah terutama dengan sel Tim Hisbah di Solo yang terdiri dari preman lokal yang ingin berjihad atas nama agama. Rata-rata anggota Tim Hisbah dulunya sering terlibat pertikaian antar geng dan lebih suka melakukan sweeping di tempat hiburan malam.

Lulusan jurusan teknik komputer Universitas Sebelas Maret tersebut diduga terpapar radikalisme saat bergabung bersama Hizbut Tahrir di bangku kuliah dan sempat mengikuti pengajian ustaz garis keras Aman Abdurrahman. Sebelum berangkat ke Suriah, pada 2013, Bahrun getol membangun kontak dengan beberapa militan Indonesia yang bertempur bersama ISIS lewat media sosial. Bahrun lantas dipercaya sebagai perekrut militan lokal yang ingin bergabung bersama ISIS.

Nama Bahrun mendadak kembali muncul dalam radar kepolisian karena diduga mengotaki dan mendanai empat teroris dalam serangan bom Thamrin. Hal tersebut dibantah Bahrun dan para pengamat terorisme, yang mengatakan bahwa serangan tersebut diorkestrasi oleh Aman Abdurrahman dengan sokongan dana dari Abu Jandal.

Iklan

Maka, bisa dibilang ada skenario utama yang akan dihadapi aparat antiteror. Jika benar Bahrun tewas bagaimana dampaknya dengan jejaring sel terorisme di Indonesia?

Pengamat terorisme Al Chaedar mengatakan jejaring terorisme akan terimbas dan lumpuh sementara akibat kematian Bahrun. Para militan kehilangan pemasok dana dan panutan. Menurutnya Bahrun adalah sosok manipulatif, yang dengan intensitasnya berkomunikasi lewat media sosial dapat mempengaruhi mereka yang tertarik dengan konsep jihad penuh kekerasan dan mengejar syahid.

Dian Yulia Noviyan—ditangkap Densus 88 pada 10 Desember 2016 karena menyimpan 5 kg bom untuk menyerang Istana Negara—mengaku rajin berkomunikasi dengan Bahrun yang kerap memberikan arahan.

“Jaringan di Indonesia akan kehilangan kontak langsung dengan Suriah,” kata Al Chaedar lewat pesan singkat kepada VICE Indonesia. “Untuk sementara sel-sel terorisme akan berusaha membangun kontak baru atau berhubungan dengan militan Filipina pasca Marawi.”

Kapolri jenderal Tito Karnavian sempat menyamakan Bahrun dengan Riduan Isamuddin alias Hambali—yang kerap dijuluki Osama bin Laden dari Asia—kini ditahan di Guantanamo, Kuba karena keterlibatan dalam serangkaian serangan bom mematikan di Indonesia pada awal 2000.

Selama di Suriah, Bahrun sebenarnya belum pernah menyusun serangan mematikan yang hebat. Pasalnya sejak awal terjun ke terorisme, Bahrun tak memiliki keahlian menyusun strategi serangan. Serangan yang diotakinya hanya terbatas dalam aksi teror di Solo, tanpa pernah berhasil melancarkan aksi skala besar.

Iklan

Dalam laporan IPAC berjudul Disunity Among Indonesian ISIS Supporters and the Risk of More Violence, Bahrun dikabarkan ingin melancarkan serangan melebihi teror bom Thamrin tapi belum sempat terealisasi. Keinginan tersebut semata-mata muncul untuk merebut pengaruh di antara sel-sel militan. IPAC menyatakan bahwa adanya persaingan antara Bahrun, Bachrumsyah, dan Abu Jandal memperebutkan pengaruh di antara militan Asia juga menjadi faktor tingginya serangan lone wolf di Indonesia pada 2015-2016.

Agustus 2016 Bahrun bersama Gigih Rahmat Dewa, militan anggota sel Katibah Gonggong Rebus di Batam, merencanakan serangan bom di Marina Bay, Singapura. Rencana tersebut berhasil digagalkan Densus 88 dengan tertangkapnya Gigih.

Satu-satunya serangan yang berhasil dieksekusi adalah bom bunuh diri pada 5 Juli 2016 di Mapolresta Solo. Bom bunuh diri tersebut dilakukan oleh Nur Rohman, rekan Bahrun Naim yang sempat bergabung di Tim Hisbah. Serangan tersebut hanya menewaskan si pelaku dan melukai seorang anggota polisi yang bertugas jaga. Belakangan, serangan gagal tersebut justru menjadi bahan olok-olok di antara militan.

Di satu sisi, Bahrun memiliki persona dan pengaruh yang tak bisa diremehkan. Ia punya kemampuan dalam berkomunikasi dan merekrut militan di Indonesia. Setelah berhasil menetap di Suriah, Bahrun seperti menjadi panutan bagi para militan lokal yang ingin atau gagal berangkat ke medan tempur. Sejak Telegram menjadi aplikasi favorit jihadis, Bahrun rajin berkomunikasi via aplikasi tersebut dan memasok informasi sekaligus mengirim dana operasional.

Di sisi lain, sebenarnya peran Bahrun semakin memudar dalam peta terorisme. Dari laporan kepolisian, Bahrun tidak terlalu intens berkomunikasi dengan militan Indonesia sejak akhir 2016. Belum diketahui alasan pastinya.

Yang jelas, anggota jaringan Tim Hisbah yang dekat dengannya juga kebanyakan telah ditangkap sejak 2015, ini membuat Bahrun tak lagi memiliki aset potensial untuk melancarkan aksi pasca serangan bom bunuh diri di Mapolresta Solo. Terlebih dengan adanya pemblokiran aplikasi Telegram terhadap konten bernuansa radikal terbukti membuat repot militan untuk berkomunikasi dengan leluasa. Dari pengamatan VICE Indonesia lewat aplikasi bot ISIS Watch di Telegram, setiap hari rata-rata 250 kanal yang berhubungan dengan terorisme telah diblokir.

Agaknya terlalu dini jika mengatakan bahwa pergerakan jihadis Indonesia akan terhenti untuk waktu lama. Bahrun hanyalah satu mata rantai dari luasnya jejaring terorisme di wilayah Asia.

“Sulit memprediksi apa yang akan terjadi nanti,” ujar Al Chaedar. “Militan sekarang bisa dengan mudah mencari sosok yang dapat memberi arahan dan dana.”