FYI.

This story is over 5 years old.

Merawat Keberagaman

Batik Dicintai Karena Melambangkan Daya Hidup Meletup-Letup

Seni Batik kini berkembang di mana-mana, tak hanya di Jawa, tapi hingga Papua. Sepotong kain ternyata dapat menjadi pemersatu Indonesia tanpa mengenal ras, suku, dan agama.

Artikel ini dimuat sebagai bagian dari kampanye "One Indonesia" yang diinisiasi Guinness. Untuk memahami lebih lanjut kampanye tersebut klik tautan berikut.

Beberapa tahun belakangan, batik seakan menjadi pakaian rakyat. Batik yang awalnya adalah pakaian kaum ningrat, kini menjadi pakaian sehari-hari. Jika dulu batik cuma dipakai saat acara tertentu seperti kondangan, saat ini sangat mudah menjumpai batik kapanpun dan di manapun. Pergilah ke pusat-pusat perkantoran, paling enggak puluhan karyawan berbaju batik gampang ditemukan. Deretan kios di pasar maupun konter di pusat perbelanjaan berlomba-lomba memajang batik.

Iklan

Tradisi membatik awalnya lahir dari lingkungan Keraton Mataram, di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tradisi tersebut menghasilkan beragam motif yang memiliki filosofi kebudayaan Jawa seperti parang rusak, udan liris, kawung, dan lainnya. Motif tersebut hanya dipakai untuk keluarga kerajaan. Namun seiring waktu bergulir, motif-motif tersebut akhirnya tak lagi menjadi hal eksklusif. Siapa saja berhak memakainya.

Karena itu, tak perlu heran, bila kadang ada saja pikiran sinis bahwa, sekian tahun lalu orang-orang mempopulerkan batik lantaran sekadar khawatir Malaysia akan mengklaim seni busana tradisional tersebut.

Namun, fakta sebenarnya jauh lebih mendalam dari sekadar klaim kebudayaan. Batik terbukti diterima secara alamiah masyarakat Indonesia. Batik yang tak ubahnya sepotong kain ternyata bisa menjadi pemersatu masyarakat tanpa mengenal ras, suku, dan agama. Batik tak lagi menjadi privilese masyarakat Jawa. Ia sudah menyebar bahkan hingga ke seantero negeri.

Gagasan mengenai kekuatan batik mempersatukan bangsa inilah yang juga dipikirkan Guinness. Itulah sebabnya mereka meminta Darbotz, seniman jalanan Jakarta, dan Ykha Amelz, ilustrator yang mengesankan, untuk berkolaborasi membuat rancangan batik mereka sendiri.

"Saya selalu kepengin menunjukkan warisan budaya dan nilai-nilai Indonesia dalam karya-karya saya," kata Ykha.

Mereka berdua mengambil inspirasi dari prinsip-prinsip "Pancha Mahabhuta" yang menggabungkan elemen bertolak belakang seperti Api (Teja) dan Air (Apah) dan Tanah (Perthiwi) dan Udara (Bayu), untuk menciptakan pola yang menyatu dan harmonis yang menunjukkan kemampuan Indonesia untuk bersatu sebagai bangsa.

Iklan

"Sebuah kebanggaan dan tantangan untuk mengerjakan proyek ini, karena ini adalah kali pertama saya mengerjakan motif batik dan menggunakan ideologi batik sebagai inspirasinya," ujar Darbotz. "Saya suka sekali dengan cara elemen-elemen ini mewakili kesatuan dalam keberagaman terutama di Indonesia, maupun untuk saya pribadi."

"Memakai batik itu tumbuh dari kesadaran publik sendiri," ujar seniman sekaligus pengusaha batik Dudung Alie Sjahbana saat saya tanya kenapa orang-orang suka memakai batik. "Masyarakat kan tidak bisa dipaksa untuk suka terhadap sesuatu. Saya pikir ini karena faktor batik yang sudah dikenal di mancanegara."

Dudung, yang memiliki showroom batik di Pekalongan, menganggap batik sukses berevolusi sedemikian rupa. Dari awalnya hanya berbentuk kain, kini bisa menjadi beragam karya seni mulai dari logam, keramik, dan kayu. Hal ini menandakan bahwa batik tak cuma sekedar pakaian namun sebuah jati diri budaya.

"Ada keterikatan sejarah mengapa batik bisa diterima oleh semua suku," ujar Dudung. "Ini bisa dirunut sejak zaman Majapahit. Sekarang di Jambi, Bengkulu, Toraja semua memiliki corak batik sendiri."

Ucapan Dudung bukan cuma bualan. Tradisi membatik telah sampai hingga tanah Papua. Di Papua, batik mengalami perubahan motif yang disesuaikan dengan tradisi. Motifnya kebanyakan berupa burung Cenderawasih, rumah adat honai dan alat musik tifa, atau kamoro yang merupakan patung khas Papua.

Iklan

"Awalnya saya adalah asisten desainer di Jakarta. Di situ saya tertarik dengan corak batik," ujar Jimmy Hendrick Afaar, pemilik usaha batik Port Numbay. "Saya memutuskan belajar membatik di Pekalongan."

Satu tahun belajar membatik, Jimmy memutuskan kembali ke Jayapura untuk mengembangkan bisnis batik. Pada 2007, ia dengan berani mendirikan Port Numbay. Jalan usahanya tak keliru, dengan cepat Port Numbay menjadi rujukan wisatawan yang mencari cinderamata khas Papua.

"Motif-motif batik Port Numbay memiliki filosofi. Setiap desain selalu memiliki pesan, contohnya motif burung camar dan ikan menggambarkan suatu sistem kerjasama yang baik untuk mencapai tujuan," ujar Jimmy.

Proses pembuatannya hampir sama dengan batik di Jawa. Hanya saja warna batik Papua lebih berwarna kecoklatan, mungkin disebabkan oleh jenis bahan baku getah damarnya. Beberapa motif yang dieksplor oleh Jimmy bukanlah corak baru. Motif patung Asmat contohnya, ditemukan pada masa manusia purba, ditandai lukisan-lukisan di dinding gua Jayapura.

Saya mungkin termasuk orang yang tak terlalu peduli dengan batik. Di lemari cuma ada dua kemeja batik hasil peninggalan ayah. Satunya terbuat dari kain sutra, satunya lagi katun namun dibikin oleh rumah usaha batik terkenal. Selama enam tahun di lemari, batik-batik itu tercatat cuma dua kali saya pakai. Jika tidak menulis artikel ini, mungkin saya lupa pernah memilikinya.

Batik selama ini cuma dikenal karena fungsinya. Memberikan kepantasan bagi yang memakainya dalam setiap kesempatan. Kesadaran dangkal itu berhasil diruntuhkan oleh kata-kata Dudung Alie Sjahbana, sebelum mengakhiri wawancara, yang tampaknya perlu kita cermati lebih dalam.

"Batik itu adalah nama lain dari kehidupan."

*Audy Bernardus berkontribusi untuk artikel ini.