Pelecehan Seksual

Masalah Mendasar Dari Kampanye Global 'Me Too'

Para penyintas pelecehan seksual menceritakan pengalaman masing-masing lewat medsos. Sayangnya, buatku gerakan ini problematik: harusnya semua ini bukan tugas mereka.
18.10.17
Image via Wikimedia Commons

Tiap saya buka Facebook semigguan ini, hal pertama yang saya lihat adalah status kawan akrab. "Me Too," begitu bunyinya. Tanpa konteks, saya tahu betul maksudnya.

Dia dan penyintas kekerasan seksual lainnya menuliskan pengalaman mereka sebagai aksi solidaritas untuk satu sama lain, dan untuk mengilustrasikan cakupan tindak kriminal ini. Aksi solidaritas ini dimulai setelah aktor Alyssa Milano ngetwit akhir pekan lalu, bahwa "Jika semua perempuan yang telah dilecehkan atau diserang secara seksual menulis status 'Me too', mungkin kita bisa menyadarkan orang-orang bahwa persoalan ini amat besar." Twit itu diunggah saat semakin banyak perempuan berbagi kisah mereka untuk mendakwa Harvey Weinstein atas pelecehan dan kekerasan seksual. Awal pekan ini, sekitar 6 juta pengguna Facebook melakukan aksi serupa di beranda FB masing-masing.

Saya langsung paham status Facebook kawan saya merujuk pada peristiwa tersebut karena itulah hal yang selalu dikatakan oleh sesama penyintas. Kita mengucapkannya lewat DM jika kawan kita itu menceritakannya secara online, kita mengucapkannya pada larut malam setelah beberapa gelas wine, dan lewat FaceTime kalau kita sedang berjauhan. Kamu enggak sendirian. Kamu bukan masalahnya. Aku percaya dengan ceritamu. Saat saya nge-scroll postingan-postingan Me Too, saya menyadari suatu hal: meski statistik satu-dari-empat sudah dikutip di mana-mana, ternyata sebagian besar perempuan dan trans yang saya kenal pernah diserang secara seksual. Hidup kita adalah kisah perjuangan.

Saya adalah seorang penyintas, dan saya pun mengunggah status Me Too. Gerakan-gerakan seperti #MeToo sangat berharga bagi kita dalam berbagai sisi. Mereka menunjukkan pada penyintas bahwa kita memiliki sebuah komunitas yang akan membela kita, dan melakukan sebaik mungkin untuk melindungi kita. Mereka dapat membuat kita merasa aman selama semenit, jadinya kita tak perlu tersiksa dalam diam. Gerakan-gerakan ini juga bisa membantu mengumpulkan data di saat kekerasan seksual masih terlalu jarang dilaporkan. Menurut Statistics Canada's General Social Survey on Canadians' Safety, dari semua serangan seksual di mana penyerangnya bukan pasangan penyintas, hanya satu dari 20 tindakan tersebut dilaporkan ke kepolisian. Sementara itu, untuk tipe tindakan kriminal lainnya, tingkatannya adalah satu dari tiga.

Sebab, meski semakin banyak orang yang mengakui bahwa kekerasan seksual sering terjadi, masih ada stigma seputar hal tersebut. Jika seseorang memutuskan untuk melaporan tindakan tersebut ke polisi, terutama jika mereka warga kulit hitam atau kulit non-putih, warga "pribumi", menyandang disabilitas, atau trans atau queer, kemungkinannya kecil mereka akan dipercaya. Mitos-mitos seputar perkosaan terus ada. Dan perempuan masih disalahkan karena mengenakan rok pendek, bergaul dengan laki-laki, berani keluar rumah atau mengonsumsi alkohol.

Meski gerakan-gerakan ini mendemonstrasikan bahwa kekerasan seksual adalah masalah sistemik, mereka sebetulnya menyampaikan hal yang seharusnya sudah diketahui banyak orang kalau mereka menganggap serius pengalaman para penyintas. Para penyintas telah berbagi kisah penyerangan mereka selama puluhan tahun. Kita sudah punya beberapa tagar sebelum Me Too; ingat #YesAllWomen dan #BeenRapedNeverReported? Kita sudah pernah, kok, melihat perempuan dalam jumlah banyak maju dan melawan laki-laki tenar: 50 perempuan telah menuduh Bill Cosby sebagai pelaku kekerasan seksual. Sekurang-kurangnya delapan perempuan menuduh Jian Ghomeshi atas tindakan serupa. Mengapa banyak orang masih kaget sama maraknya pelecehan seksual? Mengapa kita harus selalu menunggu banyak kesaksian? Sebagaimana ditulis kawan saya Kasia Mychajlowycz, produser dan jurnalis audio di New York, pada Facebook: "Kalau ada orang di luar sana yang berpikir mereka enggak tahu padahal menyayangi seorang penyintas, itu karena mereka enggak mau mendengarkan perempuan-perempuan dan itu salah mereka. Saya lelah harus merealisasikan angka statistik untuk orang-orang yang bahkan enggak peduli sama sekali."

Penyintas sekaligus staf komunitas pendukung korban kekerasan seksual, Jennai Bundock, merasa gerakan apapun yang mengandalkan para penyintasnya demi menyadarkan orang-orang atas masalah ini sangat problematis. "Kita ngomongin soal kekerasan terhadap perempuan. Tapi inilah yang terdengar, 'Hal ini terjadi pada perempuan-perempuan. Ya, hal ini sering terjadi. Seperti rambut lepek.'
Seakan-akan ini adalah bagian dan sudah sepaket dengan kehidupan perempuan," ujarnya. "Kita enggak membahas siapa yang menyerang atau kondisi seperti apa yang diam menjadi hal yang buruk. Kita enggak membahas alasan-alasan para penyintas tetap diam."

Tidak adil untuk memulai kalimat dengan kata-kata "Jika semua perempuan yang telah dilecehkan atau diserang secara seksual…" sebagaimana dilakukan Milano dan dilakukan oleh kita semua. Saat kita melakukan ini, kita membebankan para penyintas untuk membuktikan bahwa pemerkosaan a) benar-benar terjadi, b) adalah masalah sistemik. Kita berasumsi mereka yang berbagi kisah mereka akan terbebas dari kekerasan atau bahaya lanjutan. Kekerasan seksual dianggap "masalah perempuan" dan, oleh karena itu, tanggung jawab perempuan. Instruksi itu mirip seseorang diminta tidak mengenakan rok pendek supaya bisa menghindari perkosaan.

Kita mesti berdarah-darah demi para penonton, dengan harapan mereka mau mengasihani kita dengan cara mempercayai kisah-kisah kita. Kenapa pula lagi dan lagi kita harus mengorek luka lama untuk membuktikan parahnya kasus pelecehan seksual? Alih-alih, kita sebaiknya bilang, "Kalau semua orang meminta persetujuan eksplisit sebelum melakukan tindakan seksual…" bukannya "Apa lagi yang bisa perempuan lakukan soal untuk mencegah pemerkosaan?" Tekanan ini begitu besar, dan tidak tepat."

"Para penyintas diwajibkan berbagi pengalaman mereka atau berperang melawan penyerang mereka. Ini semua pekerjaan berat," ujar Bundock. "Satu-satunya hal yang saya kira bisa menolong adalah menggeser fokusnya ke para pelaku, bebannya harusnya ada di mereka."
Saat ini, tidak ada banyak ruang di lingkaran feminis dan keadilan sosial untuk laki-laki cis yang ingin berbagi kisah soal pelanggaran mereka di masa lalu. Mungkin hal ini perlu berubah dan mungkin juga tidak, tapi untuk sementara waktu ini adalah pekerjaan yang perlu dilakukan para laki-laki, para pelaku, dan para sekutu penyintas di luar sorotan publik, dan tanpa mengharapkan ucapan terima kasih. Beginilah tampak pekerjaan itu: tidak merespon secara defensif saat ditegur, menegur sesama laki-laki yang terlihat menyerang seseorang, dan, di atas segalanya, tidak memaksakan tubuh kalian pada tubuh orang lain tanpa persetujuan eksplisit mereka.

Tentu saja penyintas bisa membicarakan pengalaman mereka sesuai tingkat kenyamanan masing-masing. Tapi mengharapkan perempuan dan penyintas lain untuk berpartisipasi dalam gerakan-gerakan seperti ini sangatlah berbahaya. Bagi setiap penyintas yang pernah diperkosa, diserang, atau dilecehkan, setidaknya ada satu orang pemerkosa, satu orang penyerang. Ini adalah orang-orang yang harus dimintai pertanggungjawabannya. Harusnya penyintas tidak harus berulang kali diminta membuktikan bahwa pengalaman mereka cukup buruk untuk mendapatkan perhatian dan kepercayaan kita.

Follow Sarah di Twitter.