Kisah CD Kompilasi Murah Sukses Membangkitkan Gairah Genre Punk
Semua foto oleh Tim Schutsky.

Kisah CD Kompilasi Murah Sukses Membangkitkan Gairah Genre Punk

Album CD kompilasi seperti 'Punk-O-Rama', berhasil merevitalisasi genre punk memasuki Abad 21.
21.11.17

Versi lain artikel ini juga masuk dalam edisi tahunan Music Issue Majalah VICE . Klik di sini jika ingin berlangganan VICE magazine.

Sebuah fenomena aneh dan tidak terduga mengguncang kancah punk memasuki 1994—genre ini mendadak sangat populer. Album macam Dookie milik Green Day dan Smash dari The Offspring mengekor gelombang kesuksesan komersial grunge 90'an. Album punk, untuk pertama kalinya, terjual jutaan keping. Ketertarikan penikmat musik dunia pada punk versi ngepop dan komersil membuat genre yang tadinya underground terseret ke sorotan media. Biarpun beberapa band berhasil menjadi besar, ribuan pegiat kancah punk lainnya tak bernasib sama. Sebagian menolak komersialisasi, sementara yang lain harap-harap cemas bisa dilirik pemain besar. Label punk yang bermunculan di AS saat itu sadar band-band didikannya memiliki potensi untuk menjadi bintang Dari situ lahir sebuah fenomena industri musik baru: CD kompilasi punk murah.

Di 1992, pendiri Epitaph Records, Brett Gurewitz merilis More Songs About Anger, Fear, Sex and Death, kompilasi 26 lagu dari band-band yang berafiliasi dengan label berbasis Los Angeles miliknya. CD tersebut awalnya bentuk penghormatan terhadap kompilasi punk 80'an yang rutin dia dengarkan semasa kecil. Masalahnya, judul kompilasinya jelek. Lebih ironis lagi, harga US$16 per CD terlalu mahal bagi banyak anak punk kere. Karena sambutan pendengar tak terlalu bagus, pada 1994 Gurewitz merilis ulang kompilasi baru berjudul Punk-O-Rama. Dihiasi sampul berwarna hijau neon, CD tersebut menampilkan banyak band top label seperti Rancid, Pennywise, dan Total Chaos. Dan yang terpenting: harganya cuma lima dollar.

1511237098777-1510938042020-punk-o-rama

Punk-O-Rama, rutin dirilis selama kurun 1994 hingga 2005 sebanyak 10 edisi.

Sementara itu, di San Francisco, frontman NOFX sekaligus salah satu pendiri Fat Wreck Records, “Fat Mike” Burkett, memutuskan ikut terjun ke ranah kompilasi. Di tahun itu, labelnya merilis Fat Music for Fat People, CD kompilasi berisi 14 lagu yang menampilkan Propagandhi, Lagwagon, dan Strung Out. Album ini dibagikan di gig punk seantero Amerika Utara secara cuma-cuma.

“Saya mengirim 1.000-an kopi ke setiap gig NOFX selama tur, dan kami membagikan kompilasi tadi secara cuma-cuma. Dulu kami yang pertama kali melakukannya karena CD masih sangat mahal di masa itu,” kata Burkett. “Orang mungkin sekarang tidak ingat, tapi mendapatkan CD gratis dulu rasanya luar biasa. Ibaratanya ada orang tak dikenalmu memberimu $15 cuma-cuma.”

1511237135781-1510928248170-fat-music

Fat Music, kompilasi yang rutin dirilis selama kurun 1994 hingga 2015 dalam delapan edisi.

Ketika tur NOFX selesai, Fat Mike mulai menjual kompilasi tersebut dengan harga terjangkau, cukup $3.98 per keping. Harga segitu tentunya tidak cukup buat nyari untung, karena pada dekade 90'an biaya produksi CD masih mahal. Yang mereka incar adalah nilai promosi dan branding yang dianggap sepadan. Fat Music for Fat People versi murah meriah akhirnya terjual 200.000 kopi. Dampaknya, Fat Wreck Records menjadi nama besar dalam genre punk. CD kompilasi murah menjadi alat bagi anak-anak punk muda di zaman pra-internet untuk menemukan musisi baru, menawarkan anak-anak suburban jalan masuk ke dalam subklutur musik alternatif yang sedang bangkit.

Fenomena ini menghasilkan persaingan sehat antara kedua label. “Saya tahu Mike berpikir Fat Music for Fat People keluar sebelum Punk-O-Rama tapi itu omong kosong karena kompilasi saya keluar duluan. Label mereka juga saat itu masih sangat kecil,” ujar Gurewitz. Namun Fat Wreck Records mulai naik namanya, berkat kompilasi tersebut, hingga akhirnya NOFX pindah dari Epitaph ke Fat Wreck Records untuk merilis album baru mereka.

Epitaph dan Fat mulai merilis volume baru kompilasi setiap tahun—semuanya menampilkan artwork yang membuat rilisan mereka menonjol di counter toko musik—dan menyelipkan katalog mail-order di dalamnya. Semakin banyak kompilasi yang mereka jual, semakin banyak orang memesan katalog mereka via pos, meningkatkan penjualan album dan kaos band-band mereka. CD kompilasi dua label punk itu menjadi ciri khas di festival seperti Warped Tour, dan label-label lain mulai turut serta, termasuk Hopeless Records, Nitro Records, Kung Fu Records, Vagrant Records, Hellcat Records (anak perusahaan Epitaph) dan Go-Kart Records, yang merilis Expose Yourself, kompilasi pertama yang dijual oleh Hot Topic.

“Di saat itu, banyak orang mengatakan: Jangan jual ke Hot Topic, mereka enggak punk,” kenang pendiri Go-Kart, Greg Ross. Tapi dia melihat potensi penjualan dari toko-toko waralaba besar dan akhirnya membuat kesepakatan dengan toko mal tersebut. “Tiba-tiba semua label ikutan, hingga pemain gede seperti Sony sekalipun. Hot Topic memiliki lima hingga sepuluh kompilasi sampler terletak di samping kasir mereka. Ternyata kompilasi-kompilasi ini menyumbang 60 hingga 70 persen angka penjualan kami. Gokil deh.”

1511237167295-1510928269215-go-kart

Go-Kart Vs. the Corporate Giant, beredar selama kurun 1997 hingga 2006.

“Saya ingat suatu hari masuk ke toko Blockbuster Music dan meyakinkan mereka untuk menjual kompilasi kami di display mereka,” jelas Louis Posen, pendiri Hopeless Records. “Saya gak ngerti gimana kita melakukannya, tapi kompilasi kami Hopelessly Devoted to You dijual di counter toko waralaba nasional.”

Kesuksesan kompilasi-kompilasi ini juga dibantu berkat kemasannya yang menarik, dan harganya yang murah. Tidak hanya kompilasi-kompilasi ini berhasil membantu punk rock menginfiltrasi mal dan toko waralaba di Amerika, mereka juga berhasil menciptakan industri sendiri bagi band-band yang awalnya tidak akan mungkin bisa mendarat di chart Billboard. “Banyak band punk saat itu memiliki lagu-lagu yang menonjol, tapi saat itu tidak ada outlet bagi musik punk di radio atau televisi. MTV tidak terlalu tertarik begitu pula saluran radio kampus. Internet belum mulai benar-benar populer,” kata Gurewitz. "Makanya Punk-O-Rama adalah cara untuk mengambil semua lagu terbaik dan menaruhnya bersamaan. Ini merupakan bentuk komunikasi, hampir seperti menciptakan playlist.”

“Bertahun-tahun setelah saya merilis seri kompilasi ini, saya sering bertemu band-band yang sudah bubar dan mereka selalu mengatakan, ‘Makasih banget. Ketika kita dulu tur, tidak ada yang tahu kami. Tapi begitu lagu kami muncul di kompilasimu, penonton langsung menggila,’” ungkap Ross.

1511237205640-1510928327814-hopeless

Hopelessly Devoted to You, beredar selama kurun 1996 hingga 2009.

“[Berkat CD kompilasi] Setiap band memiliki lagu hit dan setiap band memiliki satu lagu yang mereka selalu harus mainkan setelah itu,” kata Burkett sambil ketawa.

Banyak label mulai mendiversifikasi kompilasi mereka, meluncurkan beberapa seri yang berbeda. Sebagian dibuat untuk tujuan sosial. Hopeless Records meluncurkan sebuah organisasi non-profit, Sub City, dan memulai Tur Take Action! Bersamaan dengan perilisan CD kompilasi Take Action! Yang bertahan hingga 11 volume. Tur dan kompilasi tersebut berhasil meraup US$2,5 juta untuk dana amal, kata Posen.

1511237235196-1510928350277-hellcat-give-em-the-boot

Give 'Em the Boot, beredar selama kurun 1997 hingga 2009.

Fat Wreck Records sempat merilis seri Rock Against Bush, bersamaan dengan situs Punkvoter, ditujukan untuk mendorong pemilih muda, menentang terpilihnya kembali Presiden George W.Bush untuk periode kedua. Sempat dirilis dua volume, album kompilasi tersebut menampilkan banyak lagu yang blum pernah dirilis dari banyak band.

“Saya mendapatkan lagu orisinil, lagu Green Day yang blum pernah dirilis, lagu Foo Fighters yang belum pernah dirilis, pokoknya macem-macem. Saya menghubungi semua anak band ngetop yang saya kenal,” kata Burkett. “Saya tidak perlu bersusah payah. Ada dua band yang menolak, tapi sisanya bersedia. Dua band tersebut adalah Blink 182 dan the Vandals. Tom Delonge adalah seorang Republikan dan dia menolak gabung.”

Setelah hampir satu dekade populer dan terjual jutaan kopi, tren kompilasi ini mulai mati di pertengahan 2000an. Banyak penggemar musik mulai mengunduh lagu dari internet, dan angka penjualan CD merosot. Tren punk nasional di AS juga mulai menurun, dan jarak antar sub-genre semakin melebar, mulai dari post-hardcore hingga emo. Epitaph, yang mengeruk keuntungan terbesar dari fenomena kompilasi punk—menjual lebih dari dua juta kopi seri Punk-O-Rama—mengakhiri seri ini pada 2005 setelah merilis volume ke sepuluh. “Saya tidak mau Epitaph dikenal sebagai label nostalgia semata,” kata Gurewitz. “Kamu tidak bisa terus stagnan, kultur akan terus berkembang. Berusaha menghidupkan sound skate-punk 90an selamanya itu percuma.”


Simak dokumenter pendek Noisey tentang sejarah kompilasi CD punk di sini: