The VICE Guide to Right Now

Janda Jepang Pembunuh Berantai Suami-Suaminya Divonis Hukuman Gantung

Chisako Kakehi, dijuluki 'black widow', diduga kuat menghabisi 10 mantan suami dan teman kencannya. Selama 10 tahun belakangan, dia mendapat warisan setara Rp119 juta.
Drew Schwartz
Brooklyn, US
Photo by Kyodo News / AP

Juli lalu, Chisako Kakehi mengagetkan jaksa dan polisi di Jepang setelah mengaku membunuh beberapa mendiang suaminya. Pengakuannya terlontar dalam kematian suami terakhir. Lelaki nahas itu adalah korban terakhir dari deretan pria yang tewas setelah terlibat asmara Kakehi, perempuan berumur 70 tahun. Menurut laporan Washington Post, dia akhirnya divonis hukuman mati di tiang gantungan. Selain pembunuhan suami terakhir, hakim mempertimbangkan vonis paling berat karena Kakehi terbukti menghabisi setidaknya dua kekasih lainnya, serta melakukan percobaan pembunuhan terhadap salah satu teman kencannya.

Iklan

Merujuk laporan Japan Times, Chisako memang hanya menjadi tersangka atas tiga kasus pembunuhan. Tapi perempuan yang dijuluki media setempat sebagai 'janda hitam' (mengikuti sebutan satu spesies laba-laba yang selalu membunuh pejantan setelah bercinta) ini terlibat asmara dengan setidaknya 10 lelaki yang belakangan kemudian tewas. Jaksa menduga Chisako, selama bertahun-tahun, sengaja mengincar pria-pria tajir yang sudah berumur 70 dan 80-an, lalu meracun pasangannya dengan sianida. Modusnya, dia menawarkan minuman beracun ke suami atau pacarnya dengan dalih "minuman kesehatan." Jaksa mengatakan, dari penyelidikan intensif, dia biasanya memastikan pencairan dana dari asuransi lelaki yang jadi korbannya, sebelum kemudian membunuh mereka. Artinya, dia memang sadar dengan tindakannya. Kejahatan Chisako agak sulit terendus, karena korban rata-rata sudah uzur, sehingga kematian mendadak dianggap wajar oleh rumah sakit atau keluarga korban. Atas tindakannya yang terukur dan berulang, Chisako si 'black widow' menurut jaksa telah melakukan, "kejahatan menerikan didorong atas keserakahan untuk merebut harta korban." Dia dilaporkan memperoleh aset dan uang tunai senilai US$8,8 juta (setara Rp119 juta) selama 10 tahun terakhir dari mendiang suami dan pacarnya. Chisako ditangkap dua bulan setelah pernikahan dengan suami keempatnya: Isao Kakehi. Laporan otopsi lelaki berumur 75 tahun tersebut mengungkap, bila Isao meninggal akibat mengonsumsi sianida dalam dosis fatal. Chisako membunuh Isao, jauh lebih cepat dari rencana awal, karena Isao pelit memberinya uang. Surat kabar Japan Times melaporkan setelah mengakui pembunuhannya pada 2013 itu, Chisako sempat mencemooh polisi dan menantang mereka menjatuhkan hukuman mati. Saat itu dia tak nampak khawatir dengan konsekuensi tindakannya melakukan pembunuhan berantai atas motif merebut harta.

"Benar, aku membunuh suamiku," kata Chisako merujuk catatan pengadilan. "Aku tidak ada niat menyembunyikan rasa bersalahku. Aku lebih memilih menertawakannya dan mati saja jika memang bakal dihukum mati keesokan hari."

Beberapa hari setelah membuat pengakuan, sang janda hitam menarik kesaksiannya. Dia mengaku tidak ingat akan apa yang dia katakan. Pengacara Chisako menegaskan kliennya mengidap dementia. Ayako Nakagawa selaku ketua majelis hukum, menyimpulkan Chisako sadar sepenuhnya atas perilakunya menghabisi pasangan.

"Semua pembunuhan itu sudah dipersiapkan matang sebelumnya. Tindakannya sangat licik dan jahat," ucap Nakagawa menurut BBC. "Kami tidak punya pilihan selain menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya [kepada Chisako]."

Jepang termasuk negara dengan angka kasus pembunuhan terendah di dunia. Alhasil, aksi pembunuhan berantai sang janda hitam ini merupakan skandal kriminal terbesar bagi Negeri Matahari Terbit sepanjang sejarahnya. Berbarengan dengan kasus Chisako yang menghebohkan ini polisi Jepang sedang menginvestigasi kasus pembunuhan berantai lain. Seorang pria di pinggiran Tokyo diduga membunuh sembilan orang. Polisi menemukan beberapa penggalan kepala dan badan wanita di apartemennya.