Kami Nongkrong Seharian Sama Penggemar Berat Kim Jong-un Asal Eropa
Andrea Marsiletti adalah penggemar berat Korut, bahkan tampaknya yang paling garis keras, asal Eropa.
Fans Korea Utara

Kami Nongkrong Seharian Sama Penggemar Berat Kim Jong-un Asal Eropa

Andrea Marsiletti terobsesi pada semua hal terkait Korut. Dia sampai bikin novel soal Kim Jong-un. VICE ngobrol membahas akar obsesinya terhadap rezim Kim dan Juche—ideologi resmi Korut.
12.9.18

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Italy

Hal pertama yang dilakukan Andrea Marsiletti saat saya masuk kantornya di Parma, kota di kawasan utara Italia, adalah menyetel musik ambien yang lembut, tak mengusik telinga. "Ini musik yang dimainkan lewat speaker di jalanan Pyongyang saban pukul enam pagi," katanya. Dia tampaknya sadar saya mulai merasa kerasan di kantornya.

Marsiletti melawat ke Ibu kota Korea Utara pada 2016 sebagai Ketua Delegasi Italia yang diundang menghadiri Konferensi Internasional Juche, ideologi resmi Korut yang diciptakan oleh "pemimpin besar" pertama Korut, Kim Il-sung. Dalam konferensi, Marsiletti bicara di hadapan sejumlah pejabat senior Korut, makan malam dengan orang nomor dua kepercayaan Kim Jong-un dan menerima dua lencana kesetiaan remi dari pemerintah Korut.

"Saya salah satu dari dua atau tiga orang di Italia yang memiliki lencana itu," ungkapnya dengan bangga sambil memamerkan lencana miliknya. Bentuk lencana itu mirip bendera bergambar wajah kakek Kim Jong-un, Kim Il-Sung dan ayahnya Kim Jong-il.

Ada sejumlah alasan hingga Marsiletti dianggap loyal kepada DPRK. pertama, dia mendirikan dan mengelola website KimJongUn.it, yang khusus dibuat untuk menyebarkan segala macam informasi tentang Korut. Marsiletti mengelola website itu bersama Korean Friendship Association serta kantor berita negara Korut, KCNA. Selama bertahun-tahun, Marsletti menjadi sosok yang dicari warga Italia yang berencana melancong ke Korut. Salah satu alasannya karena pria ini berteman dekat dengan Duta Besar Korut untuk Italia.

Pamflet ini didapatkan Marsiletti dari kunjungan terakhirnya ke Korut.

Saya pertama kali mengontak Marsiletti beberapa bulan lalu setelah saya menemukan sebuah cerita yang pada dasarnya adalah versi pendek dari film The Grinch. Bedanya, The Grinch dalam film itu adalah Stalin. Judul cerita pendek itu adalah l Natale nell’Italia stalinista (Natal di Italia yang Stalinis).

Rupanya, cerpen itu dicuplik dari Se Mira, Se Kim, novel teranyar karangan Marsiletti—semacam propaganda Stalinis yang disamarkan dalam sebuah kisah cinta. Saya dibikin terpukau dengan plot liar buku itu dan kedekatan penulisnya dengan pemerintah Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK). Gayung bersambut, Marsiletti berkenan meluangkan waktu untuk ngobrol tentang dua hal tersebut. Itulah alasan saya berada di kantornya saat ini.


Tonton dokumenter VICE mewawancarai warga Korut yang selamat usai kabur dari penindasan dan kamp konsetrasi rezim Kim:


Novel terbaru Marsiletti kini sedang dibaca dengan seksama oleh pihak Kedutaan Besar Korut yang tengah mempertimbangkan untuk menambahkan pengantar dari Kim Jong-un di awal novel tersebut. Plot ceritanya—seperti yang dipaparkan di sampulnya—kira-kira begini:

Pada 2021, Mira hidup di Italia yang Stalinis. Mira berpacaran dengan salah satu pegawai di Kedutaan Besar Korut. Lalu, sebuah krisis internasional terjadi. Sementara itu, dalam sebuah makan malam bersama teman sekolahnya, sebuah fakta baru terungkap: mantan teman sekolah yang dulu dicintai Mira adalah seorang Trotskyist. Mira akhirnya memilih lelaki yang tepat dan mendapatkan penghargaan dari Kim Jong-un.

Kantor Marsiletti adalah sebuah ruangan sederhana di sebuah gedung berwarna kelabu, tak seberapa jauh dari jalan raya menuju Parma utara. Satu-satunya dekorasi yang tampak adalah sebuah kalender bergambar foto Che Guevara dan seabrek memorabilia serta suvenir dari Korut. Bentuknya bermacam-macam, dari koran partai, koleksi perangko, panji hingga sebuah buku berisi pidato Kim Jong-un di Kongres Ketujuh Partai Buruh Korea Utara.

"Saya mulai terobsesi dari pertama belajar tentang rezim Korut sekitar tujuh atau delapan tahun lalu," ujarnya. "Ini semua yang saya baca. Selain buku-buku tentang Korut, tak ada yang bikin saya tertarik. Yang menarik dari sosialisme adalah cara ideologi tersebut memengaruhi perilaku dan membentuk sebuah masyarakat dengan cara yang ilmiah. Dari sudut pandang ini, kita bisa bilang Korea Utara modern sebagai partai sosialis terakhir di muka Bumi."

Lencana ini hanya akan diberikan pada warga negara ataupun orang asing yang dianggap sahabat oleh rezim diktator Korut. Marsiletti adalah satu dari yang sedikit itu di Eropa.

Bagi Marsiletti, Juche tak menjiplak Marxisme-Leninisme alias ideologi partai Komunis Uni Soviet lantaran punya penekanan akan individualitas. Seorang penganut Marxisme—Leninisme memandang batas sosialisme yang riil adalah ketika sistem ini membuat seorang individu menjadi salah satu roda kecil dalam sistem politik. Tidak demikian dengan Juche. Menurut Marsiletti, Juche menempatkan individu sebagai penentu nasibnya sendiri. "Atau setidaknya, begitulah penjelasan yang resmi bila kamu bertanya tentang Juche," katanya.

Hal paling menarik bagi Marsiletti dari Juche adalah pemusatan kekuatan ekstrem—sebuah sistem yang didasari kewajiban menghormati tradisi negara, partai yang berkuasa, angkatan bersenjata dan pemimpinnya sebagai satu entitas tersendiri. Inilah yang menyebabkan kehidupan sehari-hari di Korut begitu teratur, diterapkannya sistem partai tunggal dan serta kenapa keluarga Kim diperlakukan bak dewa.

Dalam pandangan Marsiletti, tak ada yang salah dari sistem seperti itu. Sebaliknya, ada semacam bias dalam cara pandang kita terhadap Korut. Menurutnya, ketertarikan kita secara kolektif terhadap Korea Utara sebagai sebagai sebuah negara tertutup yang aneh muncul karena kita menilai negara itu dengan standar demokrasi barat.

Di sisi lain, Marsiletti merasa kecewa kaum kiri dalam percaturan politik Italia. "Saya ini mewakili sosialisme yang riil, tap orang kiri di sini justru mau bentuk sosialisme ala mereka sendiri," curhatnya. "Masa mereka mengganti sosok-sosok revolusioner dengan Paus, kawat berduri dengan penyelundup manusia dan pekerja dengan buruh migran. Akibatnya, banyak simpatisan Korea Utara malah membelot ke partai Lega yang kanan mentok—mereka ini jelas-kelas anti imigrasi dan pro-peningkatan pertahanan negara kok."

Iklan

Cerita dalam novel Se Mira, se Kim, benar-benar dimulai pada 1948, tak lama setelah percobaan pembunuhan pemimpin komunis Italia Palmiro Togliatti. Revolusi meletus dan Italia berakhir menjadi sebuah negara komunis. Dari titik, cerita mengerucut menjadi pembelaan terhadap kebijakan-kebijakan rezim Korea Utara, tudingan miring terhadap buronan komunis yang dianggap sebagai pengkhianat serta pembelaan terhadap Pol Pot dan rezim bengis lainnya dengan dalih kejahatan mereka harus dianggap sebagai usaha melindungi revolusi yang mereka sulut.

Marsiletti memamerkan sampul bukunya 'Se Mira, Se Kim'.

Jalan ceritanya cukup problematik. "Dua orang Afrika naik ke bus" yang ditumpangi tokoh utamanya, Mira. "Apa susahnya sih buat Italia untuk menutup perbatasan?" tukasnya. Setelah itu dia melanjutkan, "Imigran pengecut karena takut perang. Makanya mereka kabur ke negara orang." Mira menganggap imigran sebagai "orang terbelakang," dan bahwa pemerintah "seharusnya menjaga perbatasan Italia dengan memasang pagar listrik di sepanjang lepas pantai."

Marsiletti sempat mengelak ketika saya menanyakan pandangan Mira. Dia akhirnya menjawab: "Memang ada yang ironis, tapi semua yang saya tulis di buku ini mencerminkan pemikiran saya dan kebenarannya."

Dalam satu adegan, Mira pergi ke toko pakaian untuk membeli serban yang dipakai pada masa Khmer Merah di Kamboja. Sorban ini "dimodifikasi oleh desainer Milan" untuk mengingatkan generasi muda Italia akan sejarah komunis Kamboja. "Fashion adalah media yang tepat untuk menyampaikan ideologi," ujar Marsiletti acuh tak acuh, seakan-akan apa yang dia bilang itu benar.

Marsiletti berharap bukunya bisa menginspirasi pembaca untuk mendalami sejarah sosialisme. Karena itulah, dia mengabdikan hidupnya kepada tokoh-tokoh kontroversial seperti Pol Pot dan "versi sosialismenya yang berlebihan."

Menurut Marsiletti, kita sangat perlu melakukan kebijakan ekstrem macam itu, karena dunia "semakin kacau balau" sekarang. Korea Utara adalah satu-satunya negara yang tetap menganut sosialisme. Saking kagumnya dengan rezim Kim, dia berharap Italia juga bisa memberlakukan prinsip-prinsip sosialis seperti Korea Utara.

"Jujur saja, negara-negara sosialis mengontrol penuh rakyatnya. Kamu boleh memberikan pendapat, tetapi semuanya akan balik lagi ke negara."

Marsiletti membawa pulang Pyongyang Times dan beberapa surat kabar lokal dari Korut setelah berkunjung ke sana.

Bagi Marsilette, ini adalah konsep kepemimpinan yang bagus. "Di Korea Utara, rakyat wajib kerja. Kamu tidak akan menemukan sampah berserakan karena negara mempekerjakan orang untuk menjaga kebersihan. Selama ini orang melihat Korea Utara sebagai negara yang mengerikan, tapi coba bayangkan apa yang akan terjadi kalau misalnya kita menerapkan hal yang sama di Italia. Ekonomi negara akan semakin maju, begitu juga dengan pengumuman sanksi."

Sebelum berpisah, Marsiletti mengatakan kalau dia tetap kepingin bisa mengunjungi Pyongyang lagi.

"Pyongyang sangat indah karena penuh dengan ideologi. Kamu akan menemukan beragam spanduk berisi tujuan negara yang terpasang di sepanjang jalan. Bendera merah juga berkibar di berbagai bangunan. Orang-orang tampak sibuk kerja, dan kamu bisa mendengar lagu-lagu yang membangkitkan jiwa patriotisme. Politik ada di mana-mana."

Follow Mattia Salvia di Twitter.