data dan privasi

Jangan Sekali-Kali Gunakan Software Untuk Memantau Pasanganmu

Artikel terbitan Reason, “To Spy on a Cheating Spouse,” menjelaskan sebuah praktik yang membahayakan ribuan perempuan yang dipantau ketat oleh pasangan mereka.
04 Juni 2018, 12:07pm
Foto via Shutterstock

Pada edisi ‘

Burn After Reading

’, majalah berperspektif libertarian

Reason

merilis “

To Spy on a Cheating Spouse

” karya kolumnis Declan McCullagh. Kolum ini adalah panduan untuk mengintai pasangan “dilengkapi alat pengawasan elektronik yang agresif, yang dulunya hanya digunakan oleh agensi federal tiga huruf,” tulisnya.

Tulisan ini menyebutkan cara-cara yang bisa ditempuh mantan yang masih sakit hati, atau pasangan yang curiga, untuk melacak dan memata-matai pasangan mereka: menempatkan perekam di ransel anak, memasang pelacak GPS di kendaraan pasangan, menyadap telepon dan jaringan internetnya. Selain itu, bisa juga membeli “kamera berkekuatan besar, bertenaga besar, dengan wifi,” dan arahkan pada rumahnya.

Mulanya, saya ragu artikel ini satir. Artikel ini adalah bagian dari edisi ‘Burn After Reading,’ sejajar dengan tulisan-tulisan soal cara membuat brownies ganja, cara menyelundupkan salami, cara menanam jamur, cara membeli senjata api tidak sah, dan cara menganonimkan Bitcoin. Pimpinan redaksi Reason, Katherine Mangu-Ward, menulis bahwa “kamu telah mencoba mendorong batas-batasan kami lewat edisi ini—tanpa harus melakukan tindakan melanggar hukum dalam proses penerbitannya—untuk membantumu memikirkan soal batasan-batasan kami.”

Akan tetapi, menumbuhkan jamur, menyelundupkan salami, dan bahkan merakit sebuah pistol tidak sama dengan menerbitkan kiat memata-matai pasangan. Laporan Motherboard menunjukkan adanya pasar yang berkembang untuk “stalkerware” yang digunakan untuk melanggengkan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang-orang yang berada dalam hubungan yang tidak sehat. Kami pernah ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang mengkhawatirkan keselamatan mereka karena diintai pasangan mereka. Kalau kamu memutuskan untuk menyelundupkan salami, sepertinya kamu gak akan merugikan siapa-siapa—sementara stalkerware bisa dan sudah merugikan ribuan orang (sebagian besarnya perempuan) setiap hari.

“Saya penasaran apakah tulisan ini sejenis seni pertunjukan, yang mencoba memberi saran buruk supaya orang-orang tertangkap basah,” ujar Eva Galperin, Director of Cybersecurity di Electronic Frontier Foundation, lewat telepon. “Kalau memang begitu, keren banget sih. Saya bakal terkesan. Sayangnya, ini mah kesalahan bodoh belaka.”

Saya ngobrol-ngobrol dengan Mangu-Ward soal niatan tulisan ini. Dia bilang, majalah ini berniat untuk berpikir kritis dan melihat secara dekat batasan-batasan legal dan ilegal. “Tujuan kami dengan tulisan itu adalah bukan sekadar menjelaskan fakta-fakta hukum yang menarik soal beda gawai dari software,” ujarnya.

McCullagh menjelaskan dalam tulisan itu bahwa meski banyak gawai pengintai ilegal, spyware seringkali legal.

“Untuk orang-orang yang curiga dengan pasangan mereka: Kalau kamu ingin mengintai, lakukanlah dengan software,” tulisnya.

Pada paragraf terakhir tulisan ini, McCullagh menulis: “Mungkin saran terbaik yang bisa saya berikan adalah: berpikirlah matang-matang sebelum menempuh jalan ini. Sebisa mungkin kamu menghindari area abu-abu antara legal dan ilegal mengenai alat elektronik pengintai, dan mempertahankan hubungan tanpa harus mendekam di balik jeruji.” Bagi sang penulis, jawabannya adalah jangan mengintai pasanganmu. Bertahan saja.

McCullagh tidak menanggapi permintaan kami atas komentarnya.

Mangu-Ward menganggap paragraf ini “diniatkan untuk meningkatkan kesadaran pembaca yang menjadi sasaran teknologi-teknologi ini, sekaligus mengklarifikasi dan menyorot apa yang terjadi bagi orang-orang yang melakukan tindakan ilegal, sebagai pengingat bagi pembaca yang ingin menggunakan teknologi tersebut.”

Meski demikian, “bertahan” bukanlah saran yang bagus untuk diberikan kepada para pelaku pengintaian, dan merupakan saran yang sangat berbahaya untuk diberikan kepada seseorang yang mungkin menjadi sasaran intaian tersebut. Bahkan mengetahui bahwa kamu sedang diintai pasangan bisa jadi berbahaya. Pelaku kekerasan dalam rumah tangga seringkali menggunakan spyware untuk mengisolasi pasangan mereka dari kawan-kawan dan keluarga mereka, dan kalau ponsel kamu disadap, akan sulit mencari bantuan tanpa ketahuan pasangan.

“Kalau alat-alat [komunikasi] sudah dipasangkan spyware, merencanakan kabur atau menggunakan alat tersebut saat kabur justru meningkatkan risiko keamanan mereka, lebih-lebih dari saat masih berada dalam hubungan yang abusif,” ujar Elle Armageddon, ahli keamanan dan aktivis, dalam surelnya pada Motherboard tahun lalu. Menghapus spyware tersebut bisa membuat pelaku geram: “Kalau kamu percaya pasanganmu menyasarmu dengan stalkerware, salah satu hal paling aman yang bisa kamu lakukan adalah terus menggunakan ponselmu seolah-olah tak terjadi apa-apa.”

Mangu-Ware bilang bahwa seperti tulisan-tulisan lainnya dalam edisi ini, tulisan itu diniatkan untuk membuat pembaca sedikit tidak nyaman. “Saya rasa sulit berargumen bahwa mendeskripsikan cara menggunakan ‘Find My iPhone’ pada pasangan lebih berbahaya ketimbang mendeskripsikan cara merakit senapan,” ujarnya.

Namun, menggunakan ‘Find My iPhone’ dan stalkerware jauh lebih mudah daripada katakanlah merakit senapan rumahan dan senjata api kebanyakan digunakan oleh orang-orang yang tak punya niat untuk membunuh. Tidak demikian halnya dengan Stalkerware. Sebuah perusahaan pembuat spyware, Flexispy, memiliki lebih dari 100.000 pelanggan dan secara spesifik memasakan produknya sebagai produk yang dapat pakai untuk mengawasi pasangan kita. Banyak yang berpikir bahwa mengawasi dengan siapa saja pasangan kita ngobrol dan ke mana saja dia pergi adalah hal yang normal dilakukan. Anggapan ini keliru. Itu justru sebuah bentuk kekerasan. Dan para pelakunya bisa dengan leluasa mengawasi gerak-gerik korbannya dengan spyware-spyware di atas.

Dampak negatif dari diawasi oleh seorang pengguna software yang bersifat invasif bisa berupa kekerasan domestik, baik yang berbentuk fisik dan mental. Sebuah investigasi yang digelar NPR pada 2014 menemukan bahwa 75 persen shelter penampung korban kekerasan domestik di AS dipenuhi oleh korban yang mengalami kekerasan fisik dari pengguna aplikasi spyware. Bagi seorang yang berusaha kabur dari kondisi pelik ini, kemampuan pelaku kekerasan domestik melacak keberadaan mereka bisa berarti hidup atau mati.

McCullagh memperkuat tulisannya dengan berbagai referensi hukum, di antaranya beleid tentang penyadapan (dan berbagai kekurangannya) dan two-party consent laws (yang diterapkan secara berbeda-beda di tiap negara bagian di Amerika Serikat).

“Mendorong seseorang melakukan eksploitasi dengan menjadi stalker adalah perbuatan yang jahat. Alhasil, rekomendasi yang diberikan justru mendukung bentuk pengawasan yang bisa cepat berubah menjadi bentuk kekerasan,” terang Jessy Irwin, seorang pakar keamanan informasi, lewat pesan Twitternya. “Menurut saya sih agak kurang bertanggung jawab bila kita menasehati mereka yang terjebak dalam hubungan penuh kekerasan dengan bilang ‘Lakukan saja hal yang sebaiknya’ untuk melindungi diri mereka. Bukan begitu caranya.”

“Memantau gerak-gerik pasangan pada dasarnya adalah perbuatan yang tercela—menerbitkan panduan untuk melakukannya sama saja mempromosikan kekerasan,” kata Galperin. “Jangan lakukan itu.”