Perubahan Iklim

Industri Pariwisata Rupanya Menyumbang 8 Persen Jejak Karbon di Planet Bumi

Penelitian mengungkap kalau manusia yang rajin bepergian ke mancanegara berkontribusi pada lebih banyak emisi memicu perubahan iklim. Duh...
9.5.18
Sumber foto Pixabay.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Bertamasya ke Kroasia di musim panas atau menyambangi Yunani mungkin memang bisa menstimulasi perekonomian lokal. Tapi menurut sebuah penelitian baru yang tayang di Nature Climate Change*, perjalanan-perjalanan macam ini berdampak buruk ke lingkungan.

Industri pariwisata global yang bernilai triliunan dollar bertanggung jawab akan jejak karbon yang besar, yakni jumlah karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya yang dihasilkan lewat pembakaran bahan bakar fosil, salah satu penyebab utama perubahan iklim. Total, penelitian Nature tersebut, yang mengukur aliran karbon terhubung dengan pariwisata di 160 negara, menemukan bahwa liburan-liburan mewah bertanggung jawab atas hampir 8 persen dari pembuangan gas rumah kaca dunia. Ini tiga persen lebih tinggi dibanding perkiraan sebelumnya.

Iklan

Tim peneliti dari University of Sydney dan University of Queensland memfokuskan perhitungan mereka di berapa banyak karbon yang dihasilkan seorang turis dan lokasi pariwisata. Penerbangan udara jarak jauh merupakan penyumbang terbesar jejak karbon di angka 12 persen dari total jejak karbon. Tapi ini belum semuanya. Tim peneliti juga menaksir berapa banyak gas rumah kaca dihasilkan dari penyediaan makanan, penyediaan energi resor, produk kapal, dan pembangunan infrastruktur.

Pariwisata global penghasil karbon terbesar adalah Amerika Serikat. AS memproduksi hampir dua kali lipat emisi gas rumah kaca sebagai lokasi tujuan pariwisata dan mengirim turis ke luar negeri, mengalahkan nomor dua, Cina. Perjalanan melewati perbatasan Kanada dan Meksiko masuk ke AS menyumbang 2.7 persen dari total jejak karbon global.

Arunima Malik, seorang peneliti keberlanjutan dari University of Sydney dan salah satu pencetus penelitian, mengatakan timnya menemukan hubungan positif antara tingkat kekayaan seseorang dan jumlah emisi. Begitu pendapatan seseorang melewati angka $40.000 (Rp563 juta) per tahun, setiap kelipatan 10 persen peningkatan pendapatan akan mengakibatkan hampir 13 persen peningkatan jejak karbon.

“Semakin banyak orang bertambah kaya dan itu artinya semakin banyak porsi dari pendapatan dihabiskan untuk jalan-jalan,” ujar Jukka Heinonen, yang mempelajari keberlanjutan lingkungan di University of Iceland, Reykjavik dan tidak terlibat dalam penelitian.

Iklan

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa semenjak 2009 hingga 2013, emisi karbon dari pariwisata telah meningkat empat kali lebih banyak dari yang diduga.

Ini tidak terlalu mengejutkan seiring negara-negara seperti Jepang, Hungaria dan Nepal bertekad melipatgandakan jumlah turis pengunjung ke negara mereka dalam beberapa tahun terakhir. “Upaya mitigasi belum berhasil karena jejak karbon semakin bertambah seiring peningkatan kekayaan dan hanya sedikit berkurang akibat perkembangan teknologi,” ujar Malik.

Belum lagi, banyak lokasi-lokasi tujuan wisata ini, terutama pulau, akan menghadapi efek perubahan iklim yang terparah, dan diperburuk dengan aktivitas karbon yang dihasilkan turis yang menjadi sumber pendapatan penduduk setempat. Dengan kata lain, tempat-tempat ini akan menanggung beban jejak karbon terbesar bahkan setelah turis pergi karena mereka menyediakan barang-barang dan jasa.

Beberapa negara yang ingin meningkatkan daya pariwisatanya sudah mulai berupaya menuntaskan emisi CO2 yang semakin meningkat. Montenegro, sebuah negara di dekat Laut Adriatik, memulai program netral karbonnya pada 2013 dan dijadwalkan selesai bulan lalu. Mereka berniat meningkatkan angkutan umum di Kotor Bay (untuk mengurangi kemacetan) dan mengembangkan infrastruktur yang hemat energi atau menggunakan energi terbarukan untuk menggerakkan fasilitas pariwisatanya.

Pariwisata di Montenegro, yang jumlah penduduknya mencapai 622.000 orang, menyumbang sepertiga gas rumah kaca yang diprediksi akan naik 40 persen melebihi 1990 lalu pada 2020. Tapi penduduk negara tujuan wisata populer seperti Kroasia, negara yang berada di barat Montenegro, mengeluarkan lebih sedikit CO2 saat berlibur ke luar negeri daripada turis yang mendatangi tanah airnya.

Begitu juga dengan Maya Bay di Thailand, lokasi syuting film The Beach (2000) yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio. Kantor berita Associated Press melaporkan bahwa mulai Juni nanti, destinasi wisata populer ini hanya akan dibuka musiman untuk memulihkan terumbu karang dan kehidupan laut selama proses pembersihan sampah di pantai berlangsung. Pantai ini, yang sering dijadikan tempat untuk Full Moon Party, sudah terkena dampak dari perubahan iklim dan akan semakin memburuk dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca dari industri pariwisata global.

Iklan

Naiknya suhu air laut menyebabkan pemutihan karang, di mana terumbu karang akan mengeluarkan alga dan warnanya jadi hilang. Semakin bertambahnya pemicu stres, seperti kapal dan penyelam, maka akan semakin lambat proses pemulihannya. Maya Bay biasanya mampu menarik 200 kapal dan 4.000 pengunjung setiap harinya. Total perjalanan wisata ke Thailand hampir mencapai tiga kali lipat dalam dua dekade terakhir. Total turis yang mengunjungi Thailand tahun lalu mencapai 35 juta orang.

Akan tetapi, menurut peneliti, akibat emisi CO2 yang meningkat tajam dalam kurun waktu empat tahun, upaya sebelumnya dalam memulihkan dampak negatif pariwisata terhadap lingkungan bisa diperdebatkan secara virtual. Seperti yang dijelaskan oleh Freya Higgins Desbiolles, peneliti di bidang pariwisata dan keadilan sosial dari University of South Australia di Adelaide, penelitian ini meniadakan klaim industri yang mengatakan bahwa mereka “lebih peduli lingkungan.”

“Industri besar cenderung menyediakan perjalanan jarak jauh yang sumber energinya tidak bisa terbarukan,” ujar Higgins Desbiolles, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Kalau begitu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Tinggal di rumah saja? Kurang lebih begitu. Menurut penelitian tersebut, meskipun kita masih tetap mengonsumsi makanan dan bahan bakar di rumah, tapi kecenderungan turis yang senang bepergian selama di luar negeri mampu mengeluarkan CO2 yang jauh lebih banyak.

Tapi, berdiam di rumah bukanlah pilihan tepat. Menurut Organisasi Pariwisata Dunia PBB, pariwisata global menyumbang sekitar 10 persen PDB di dunia dan satu dari 10 kesempatan kerja. Selain itu, Paris Climate Accord (Kesepakatan Paris) mengecualikan ekspedisi via udara dan bunker—yang jika digabungkan mampu mengeluarkan emisi karbon sebanyak 12 persen—melebihi targetnya.

Ini baru relevan kalau suatu negara mendukung kesepakatan tersebut. Negara yang mengeluarkan gas rumah kaca terbesar adalah AS, dan mereka mengumumkan rencana mundur dari kesepakatan tersebut pada 2017, menjadikan Amerika sebagai satu-satunya negara yang tidak menyetujui rencana tersebut.

Malik menganggap bahwa temuan ini sangat “membuka wawasan.” Dia berharap ini bisa membuka ruang debat di berbagai kalangan dan mewujudkan solusi mengurangi emisi CO2 dari sektor pariwisata.

Menurut Heinonen, “jika perjalanan wisata jaraknya semakin jauh maka teknologi tidak akan mampu mengejar.”