privasi

Teror dan Radikalisme? Di Indonesia Bukan Itu Alasan Telegram Populer

Pengguna setia punya alasan nyeleneh menyukai aplikasi ini dibanding whatsapp. Misalnya untuk gosip berjamaah secara leluasa sampai buat, hmmm, selingkuh.
18.7.17
Foto ilustrasi Telegram oleh Yudistira Dilianzia.

Kebijakan blokir Kementerian Komunikasi dan Informatika (seperti biasa) menuai kecaman publik. Sasaran blokir kali ini adalah 11 domain dalam aplikasi instan telegram yang dituding pemerintah menyebarkan paham radikal dan terorisme. Jumat pekan lalu, layanan Telegram untuk PC sama sekali tak bisa diakses selama beberapa jam. Banyak orang di media sosial menyuarakan penolakan atas blokir telegram. Mulai dari alasan yang menyebut kebijakan itu bertentangan dengan demokrasi, hingga banyaknya manfaat yang diperoleh pengguna karena pekerjaan dan komunikasi proyek lebih mudah dilakukan via Telegram. Drama blokir baru berakhir setelah Menkominfo Rudiantara mengklaim Pavel Durov, co-founder Telegram, meminta maaf padanya karena terlambat merespons permintaan Indonesia untuk menangani konten melawan hukum seperti terorisme dan materi radikalisme. Telegram sementara ini aman, tapi ancaman blokir tampaknya masih akan dipakai sebagai kartu truf oleh pemerintah kepada media sosial lainnya.

Iklan

Terlepas dari pro-kontra soal pemblokiran itu, Telegram harus diakui cukup cepat berkembang di Indonesia. Sejak didirikan di Rusia pada 2013 lalu oleh kakak beradik Nikolai dan Pavel Durov, Telegram pelan-pelan mulai dikenal sebagai aplikasi pesan alternatif selain WhatsApp. Pavel tidak mengeluarkan angka resmi, namun pengguna Telegram di Indonesia digadang-gadang mencapai jutaan orang. Jualan utama Telegram adalah sistemnya yang menjamin privasi pengguna. Jauh sebelum Whatsapp memasang sistem enkripsi, Telegram sudah menerapkannya sehingga percakapan antar pengguna sangat sulit dilacak pihak ketiga, termasuk oleh upaya pengumpulan data oleh lembaga intelijen negara. Apakah popularitas Telegram menandakan orang Indonesia mulai mengutamakan privasi saat mengakses Internet dan berkomunikasi lewat ponsel? Ternyata bagi beberapa orang, privasi hanya keunggulan kesekian saja.

Pengamat IT Onno W Purbo punya beberapa analisis menjelaskan penyebab Telegram populer di Tanah Air. "Aplikasi ini memang populer karena mengedepankan privasi, namun patut diingat, beberapa fiturnya juga tidak bisa didapat di aplikasi lain," kata ujarnya kepada VICE Indonesia. "Telegram menarik karena dapat diprogram dengan mudah karena sifatnya yang open source. Contohnya kita bisa bikin bot sendiri."

Faktor lainnya adalah broadcast dan pilihan bergabung ke grup-grup tertentu. Kebanyakan orang memilih Telegram untuk bergabung dengan grup yang sesuai minat atau hobinya. Satu grup bisa memuat hingga 5.000 pengguna. Admin grup bisa memilih menggunakan bot yang dibekali artificial intelligence menjawab pertanyaan pengguna. Skema inilah yang menurut Onno sangat disukai pengguna ponsel di Tanah Air. Selain itu, Telegram juga bisa digunakan bersamaan di ponsel maupun laptop/komputer, karena sistem datanya berbasis cloud. Skema penyimpanan data ini mengizinkan pengguna Telegram berbagi file berukuran besar, contohnya data video mendekati 1 gigabyte.

Iklan

VICE Indonesia turut menghubungi pengguna di Tanah Air untuk mencari tahu apa yang paling mereka sukai dari Telegram. Salah satu pengguna aktif Telegram, Afi Oktaviani, mengaku memfavoritkan fitur self-destruct chat. Fitur ini semacam fitur yang mampu menghapus chat secara otomatis dalam jangka waktu tertentu.

Selain itu, Afi mengaku terpikat pada Telegram dua tahun lalu, karena konten-konten yang bisa dibilang tak akan masuk kriteria Internet Sehat ala Kominfo. "Gue suka kirim gambar gif yang lucu atau kadang jorok, dulu WhatsApp belum bisa kayak gitu," kata Afi yang bekerja sebagai karyawati di bidang pembangunan infrastruktur di Jakarta.

Cerita lain diutarakan Arshanti Bimalia. Karyawan swasta dari Jakarta itu menggunakan beragam aplikasi pesan instan yang tersemat di smartphone-nya. Namun, ketika bersama rekannya dia ingin membicarakan gosip atau membahas keburukan orang lain berbarengan, maka Telegram adalah sarana utamanya.

"Kirim-kirim dokumen, stiker-stiker lucu yang engga ada di apps lain, terus ya kalau mau ngerumpi secara rahasia, pakai Telegram," ujar Arshanti.

Pengakuan lain, disampaikan Twitter @Wannie_Su. Dia sejak tahun lalun memilih Telegram lantaran sederet fitur privasinya yang selangkah lebih dibanding aplikasi pesan sejenis. Dia pun berkelakar bahwa Telegram merupakan aplikasi pilihan jika kalian tipe yang sulit setia dengan pasangan.

"Saya tergantung banget nih Om sm Telegram, buat selingkuh uppss….krn cm ditelegram yg bs dilock chat kita klo disadap pacar #TelegramJokes," cuit Wannie_Su.

Setidaknya, perkara privasilah yang akhirnya bikin pemerintah Indonesia gerah. Dua tahun belakangan ini Telegram merupakan aplikasi pesan favorit para militan dan teroris dalam merekrut dan menyebarkan propaganda radikal. Para militan dari seluruh dunia bisa bergabung dalam grup atau channel tertentu dan berinteraksi serta menginspirasi satu sama lain.

Pengguna bisa memilih menggunakan fitur Secret Chat yang tak bisa disadap karena menggunakan enkripsi end-to-end, jadi hanya pengirim dan penerima yang dapat membaca pesan tersebut.

Telegram terbukti digunakan mengoordinir beberapa serangan teroris di Indonesia, mulai dari serangan bom di Sarinah pada 14 Januari 2016 hingga serangan bom di Kampung Melayu dua bulan lalu. Analis intelijen menemukan data bila aksi teror tersebut dikoordinir melalui Telegram, antara militan di Suriah dan Indonesia, yang kemudian disebarluaskan kepada sel-sel kecil simpatisannya.

Selain koordinasi teror, Telegram dituding sebagai sumber radikalisasi online. Mulyadi, pelaku penusukan dua anggota Brimob di Masjid Falatehan, Jakarta Selatan Juni lalu, merupakan sosok yang menjadi militan akibat terpapar konten radikal dari channel Telegram. Dia diketahui tak berafiliasi dengan kelompok teror tertentu. Bagaimanapun banyak pihak bersepakat, rencana pemerintah memblokir telegram bagaikan membakar seluruh lumbung padi, hanya karena ada beberapa tikus berkeliaran di dalamnya.