FYI.

This story is over 5 years old.

Musik

Seksisme, Penipuan, dan Berebut Kuasa: Korupnya Industri Musik Pop Modern

Kami ngobrol bersama John Seabrook, penulis buku ‘The Song Machine: Inside the Hit Factory’ tentang nilai-nilai moral yang semakin kabur dalam industri musik dunia masa kini.

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.

Musik pop sedang berada di persimpangan jalan. Para pendengar dari berbagai belahan dunia memiliki ekspektasi tinggi terhadap setiap rilisan baru musik top 40. Banyak lagu hits datang silih berganti. Album yang kita tunggu-tunggu selama bertahun-tahun akhirnya ditinggalkan hanya 2 minggu setelah dirilis. Bagaimana bisa industri musik terus mengikuti cepatnya evolusi musik pop? Apakah kita akan semakin terbiasa melihat kasus seperti Macklemore? satu hari dipuja dan esoknya dihujat. Siapa sih yang menentukan lagu mana yang jadi hit dan bagaimana hit tersebut dibuat?

Iklan

Kontributor Majalah New Yorker John Seabrook menulis buku penting di pertengahan 2015 berjudul The Song Machine: Inside the Hit Factory—buku itu menjelaskan mekanisme operasi dibelakang pembuatan lagu-lagu pop favorit kita semua. Bepergian dari New York ke Los Angeles, kemudian Stockholm dan Korea, dia membuat peta asal-usul musik pop modern hingga perkembangannya saat ini, lewat anekdot, cerita orang pertama, dan menghabiskan sebuah siang di studio bersama Max Martin. Hasilnya adalah informasi orang dalam yang mengejutkan dan kadang menjijikan. Semua tindakan memuakkan ditempuh demi menjaga produksi musik top 40 terus berjalan layaknya pabrik perakitan iPhone.

Kami ngobrol bersama John membahas perebutan kekuasaan dalam industri musik, ketimpangan gender, perang industri teknologi, dan bagaimana musik pop bermutasi di masa sekarang.

Noisey: Halo John. Salah satu hal yang menarik dari bukumu adalah cerita lelaki pengusaha label rekaman ternama yang selalu ada dibelakang banyak popstar perempuan. Mulai dari Lady Gaga ke Ariana Grande. Banyak cerita tentang seksisme yang terjadi di dalam industri. Tapi sebetulnya seberapa parah sih isu ini di balik layar?
John Seabrook: Ada banyak diskriminasi gender tentu saja, perkara pelecehan terhadap musisi perempuan bahkan jumlahnya lebih banyak daripada diskriminasi rasial. Contohnya, biasanya selalu lelaki yang menjadi produser dan perempuan ditugaskan menjadi penulis hook. Jadi biasanya ada lelaki (produser) dan perempuan (penulis lagu), kemudian dalam sesi studio, sang produser menyewa ruangan dan biasanya dibayar per jam oleh sebuah label. Sementara si perempuan—penulis hook—hanya dibayar apabila lagu mereka benar-benar digunakan. Sudah umum bahwa banyak lagu yang akhirnya tidak masuk album. Jadi semua waktu yang mereka habiskan di dalam studio tidak akan berarti apabila lagunya tidak digunakan. Sementara lelaki selalu dibayar, tidak peduli lagu mereka masuk album atau tidak.

Iklan

Apakah menurutmu perempuan hanya diberikan peran menulis lagu karena permainan kekuasaan?
Banget. Ada anekdote tentang Clive Davis/Kelly Clarkson di buku saya yang menjadi contoh nyata tentang isu ini. Kelly mengatakan di satu titik bahwa Clive Davis tidak bisa membayangkan bahwa seorang perempuan bisa bernyanyi dan menulis lagu. Asumsi seperti ini tidak pernah dibuat mengenai lelaki.

Apakah perempuan penulis lagu masih punya posisi tawar untuk menghindari diskriminasi?
Ironisnya, sekarang penulis lagu justru memiliki peran yang sangat penting dalam proses. Musisi mainstream semakin jarang menulis lagu mereka sendiri. Namun seiring dunia musik streaming semakin marak, para penulis lagu justru semakin dirugikan. Jatuhnya angka penjualan rilisan fisik membuat royalti yang biasanya mereka dapatkan dari penjualan album semakin menurun.

Kebetulan saja industri sedang lesu atau memang ada kesengajaan?
Banyak label musik sengaja membuat kesepakatan yang akan memberikan mereka uang terbanyak, dan penulis musik yang tidak memiliki kekuatan politik dalam negosiasi inilah yang akhirnya dirugikan. Jadi ada semacam paradoks dimana penulis lagu sangat penting dalam proses, namun diperlakukan seperti sampah. Saya gak tau nanti ini ujung-ujungnya gimana, tapi kalau penulis lagu suatu saat tidak lagi mampu menulis lagu, industri ini akan runtuh.

Saat kamu mewawancarai produser seperti Max Martin dan Dr Luke, apakah mereka sadar adanya ketidaksetaraan antara musisi lelaki dan perempuan?
Awalnya mereka mengesankan diri sadar ketika saya tanya soal isu ini. Tapi kemudian insiden dengan Kesha terjadi setelah saya bertemu dengan Dr Luke lalu tidak ada kelanjutan apa-apa. Ujung-ujungnya semua masalah duit. Industri musik itu berbeda dengan banyak bisnis kreatif lainnya karena tidak ada banyak standar etis dalam dunia kerja. Industri film, buku dan TV, semuanya memiliki panduan yang jelas tentang bagaimana seseorang harus bertingkah dalam proses pembuatan sebuah film, acara TV, atau buku. Hal semacam ini tidak ada dalam industri musik. Semua tentang kekuasaan. Satu-satunya etika yang ada adalah: ambil yang kamu bisa ambil.

Iklan

Fenomena ini ada hubungannya dengan sejarah organisasi kejahatan yang kerap mencurangi musisi kulit hitam yang tidak mengerti nilai dari penerbitan dan mengambil hak cipta mereka dengan nominal yang sangat rendah. Akhirnya banyak pria-pria kulit putih brengsek yang menjadi sangat kaya dan ini menjadi semacam dasar dari bisnis musik itu sendiri. Ketika keadaan sedang sulit, banyak orang langsung mengadopsi paham "Gue curangin elo, sebelum elo curangin gue."

Mungkinkah kebangkitan situs jasa streaming, Soundcloud dan teknologi produksi mengubah distribusi kekuasaan ini?
Jawabannya akan terdengar sangat aneh. Semua tren ini terlihat mendemokratisasi industri, tapi yang sesungguhnya terjadi adalah major label bereaksi terhadap tren ini dengan cara menciptakan sebuah sistem yang hanya bisa dikontrol oleh mereka. Lihat saja kebangkitan dari semua sosok 'produser super' ini—mereka semua adalah sosok yang hanya bisa disewa oleh major label. Ini dunia yang kejam. Perihal bagaimana lagu bisa dipromosikan ke dunia, label masih memiliki banyak kuasa dalam stasiun radio pop top 40. Jadi mereka memfokuskan sumber daya ke hal-hal yang mereka bisa lakukan.

Di bukumu kamu bilang industri teknologi bisa memainkan peran yang penting dalam kembali menyeimbangkan kekuasaan dalam industri musik. Kok bisa?
Industri teknologi dan industri musik sedang bertarung sekarang. Dunia teknologi memiliki nilai yang berbeda, jauh lebih transparan. Mereka selalu menggunakan data: anda bisa melihatnya dan mengatakan, "Orang ini berhak mendapatkan uang sebanyak ini, dan yang itu sebanyak ini." Semuanya masuk akal secara rasional. Tapi dalam industri musik, sistem akunting major label sangat tidak transparan. Tidak seorangpun bisa melihat dokumen royalti dan tidak ada yang bisa mengerti tanpa kehadiran tim pengacara. Mereka berusaha keras untuk membuat semuanya kabur demi peluang untuk menyaring uang yang turun dari atas dan mengambil uang yang tidak didistribusikan ke musisi. Inilah perang yang akan berlangsung dalam 20 tahun kedepan. Saya merasa industri teknologi akan berjaya akhirnya, karena sulit untuk menyembunyikan data. Tapi sejauh ini, industri musik sudah melakukan upaya terbaik mereka untuk memerangi semua masalah tersebut.

Iklan

Menurutmu, apa sih yang sekarang dicari pendengar musik pop?
Dalam buku saya ada nukilan ketika seseorang berkata, "Semuanya tentang cinta dan berpesta." Banyak orang ingin musik pop selalu menyanyikan hal yang sama dan tidak mencari apapun yang lebih dalam, tapi rasanya ini mulai berubah. Seiring semua musik mulai bercampur, secara genre, musik pop mulai berkembang dan membicarakan banyak subyek yang lebih dewasa. Dalam industri musik, ada banyak rasa takut. Tidak ada satupun yang mengerti tentang bisnis ini. Banyak musisi mendapatkan pujian atas sukses mereka, tapi di lubuk hati tidak ada yang mengerti kenapa satu lagu bisa sukses, dan lagu lainnya tidak. Jadi tidak heran banyak orang berusaha menciptakan hal yang sama terus-menerus dan itulah alasan musik pop mainstream biasanya tidak banyak berubah.

Radio jelas memiliki pengaruh besar dalam musik pop Amerika. Apakah fenomena ini juga terjadi di negara-negara lain?
Di Inggris, ambil contoh, publik tidak mendapatkan level musik komersial seperti Amerika Serikat. Kalau anda menghabiskan satu jam di dalam mobil di AS, anda akan mendengar 5 atau 6 lagu yang sama diulang sebanyak 3 atau 4 kali dalam jangka waktu satu jam. Anda bagaikan diserang lagu-lagu top 10 dan seiring waktu playlistnya semakin pendek dan semakin repetitif.

Salah satu tema dalam buku ini adalah bagaimana penulis lagu dan produser mulai menciptakan lagu untuk playlist repetitif ini, jadi tidak penting apakah anda suka lagunya ketika mendengarkan pertama kali, karena setelah lima kali mendengarkan, hook lagu tersebut akan nyangkut di dalam otak anda. Tapi ini tidak selalu sukses juga. Di chart musik AS, posisi 5 teratas baru-baru ini dikuasai oleh empat musisi Kanada dan dua musisi Inggris—kami memiliki sistem yang sangat komersial tapi banyak musisi top yang kami dengarkan justru bukan dari Amerika. Ini berarti anda memang butuh kreativitas dan pemikiran outside-of-the-box yang hanya bisa didapatkan di lingkungan yang tidak komersial seperti Inggris dan Kanada. Mereka memiliki sound yang lebih segar dan otentik.

Ada tekanan meningkat bagi banyak musisi pop untuk lebih sadar politik. Apakah ini membuat label rekaman khawatir?
Sosok seperti Nicki Minaj, yang menurut saya hebat, lebih bersedia untuk buka mulut ketika mereka melihat hal-hal seperti rasisme atau ketimpangan ekonomi. Tapi bagi seseorang seperti Katy Perry—dengan imejnya sudah dibangun secara hati-hati—sulit untuk menghadapi isu-isu penting karena pesona cewek Amerika baik-baiknya akan rusak dan menjadi lebih tidak ramah. Rihanna itu kasus yang menarik. Sebetulnya dia bisa lebih vokal berbicara tentang banyak hal tanpa merusak imejnya, tapi dia tidak melakukan itu dan saya tidak tahu apakah dia hanya tidak ingin terlibat dalam politik atau apa. Saya merasa dia akan semakin terangkat apabila membahas isu-isu yang dibahas Nicki Minaj.

Apa yang akan terjadi dalam industri musik pop di masa mendatang?
Ujung-ujungnya, buku ini bercerita tentang kekuasaan. Banyak kekuasaan masih berada di dalam tangan beberapa orang saja, tapi di waktu yang sama, banyak perubahan teknologi yang mulai mengikis kekuasaan tersebut. Ini semua tergantung apakah jasa streaming bisa mengembalikan uang yang hilang di era file sharing; sekarang sih kelihatannya tidak bisa. Begitu kita melihat bagaimana semua proses ini berakhir, mungkin kita akan melihat perubahan besar dan nyata dalam industri musik pop. Tapi sekarang, rasanya semua orang hanya berusaha memegang erat-erat apa yang mereka punya dan berharap apa yang mereka miliki tidak akan hilang.

Pertanyaan terakhir: siapa popstar favoritmu sekarang?
Saya selalu kembali ke Rihanna. Tapi Fetty Wap juga saya suka—banyak orang merasa musiknya terlalu aneh, tapi dia itu seorang popstar. Dan dia musisi sungguhan. Dari daftar top 10 lagu AS di 2015, hanya "Trap Queen" yang ditulis oleh penyanyinya sendiri. Tidak ada penulis bantuan. Fetty Wap adalah singer-songwriter sejati. Saya memandang dirinya dan orang-orang yang dia inspirasi sebagai fenomena menarik pop saat ini.