Kehidupan Percintaan

Kita Pengin Punya Pacar Pintar, Tapi Jangan Kepinteran

Ada level kecerdasan maksimum dalam hal naksir-naksiran. Kalau melebihi batas, bisa bikin orang batal naksir.
25 Januari 2018, 4:52am

Berbeda dari anggapan umum, sebagian besar orang tidak memprioritaskan penampilan saat memilih pasangan.

Dalam sebuah survei pada sekitar 200,000 orang dewasa diberi sebuah daftar berisi 23 sifat dan diminta untuk memilih tiga sifat yang paling mereka cari dari calon pasangan. Empat puluh sembilan persen laki-laki dan 44 persen perempuan memasukkan kecerdasan dalam pilihan mereka. Percaya atau tidak, sebagian besar perempuan dan laki-laki cenderung memilih kecerdasan dibandingkan “penampilan menarik.”

Sudah jelas bahwa kecerdasan merupakan sebuah daya tarik. Tapi, seberapa cerdas? Dan mengapa kita menginginkan pasangan yang cerdas, sih? Apakah karena obrolan cerdas membuat kita terangsang, seperti yang dipercaya kawan-kawan sapioseksual kita? Berkat sebuah penelitian baru yang diterbitkan pada jurnal Intelligence, kita bisa mendapat sedikit kejelasan soal pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Dalam sebuah penelitian, 383 orang dewasa berpartisipasi, setengahnya merupakan pelajar S1 di Australia. Setengahnya lagi merupakan warga AS berusia 18 hingga 40 tahun, yang direkrut secara online. Para peserta pertama-tama diminta membuat ranking untuk 13 sifat yang dimiliki calon pasangan, termasuk kecerdasan. Mereka juga melaporkan seberapa naksirnya mereka pada orang-orang dengan tujuh level IQ berbeda, dari yang 1 persen hingga 99 persen.

Para peserta juga melengkapi kuisioner yang dirancang untuk mengukur sapioseksualitas—ketertarikan mereka pada kecerdasan. Hal-hal yang tercakup dalam skala tersebut, misalnya, adalah “mendengarkan seseorang berbicara dengan cerdas merangsang saya secara seksual,” dan “kecerdasan tingkat tinggi pasangan saya sifatnya perlu supaya saya bisa naksir secara seksual.”

Konsisten dengan riset sebelumnya, para peserta berkata bahwa kecerdasan merupakan salah satu sifat paling penting untuk pasangan romantis. Nyatanya, kecerdasan dianggap sebagai sifat kedua paling penting dalam daftar, setelah “baik dan pengertian.”


Baca artikel VICE lain yang membahas tentang kehidupan percintaan

Meski begitu, tampaknya IQ tinggi tidak selalu lebih baik: ada level kecerdasan optimal dalam hal naksir-naksiran, baik di kalangan perempuan maupun laki-laki. Secara spesifik, orang-orang dengan IQ dalam 90 persen (biasanya skornya 120) dianggap yang paling menarik dibandingkan enam kategori kecerdasan dalam uji coba tersebut. Dengan kata lain, seseorang yang lebih cerdas dari 90 persen populasi dipandang sebagai tingkat kecerdasan ideal untuk pasangan.

Satu-satunya tingkat kecerdasan yang lebih tinggi yang ditanyakan para peneliti—secara spesifik, hasil pada 99 persen, dengan skor 135—masih dianggap menarik; tapi, tidak semenarik orang-orang dalam 90 persen. Mengapa demikian? Kita enggak tahu juga, tapi mungkin karena ada kecenderungan umum untuk mengaitkan kecerdasan tingkat tinggi dengan sifat “culun” atau “kutu buku.”

Meski sebagian besar orang bilang mereka tertarik pada kecerdasan tingkat tinggi, apakah mereka terangsang olehnya? Ternyata enggak terlalu. Skor pada skala sapioseksualitas menunjukkan distribusi yang normal sempurna (artinya: datanya muncul dalam bentuk kurva bel). Ini artinya, sebagian besar orang berada di bagian tengah, artinya mereka tak terangsang atau tidak terangsang oleh kecerdasan.

Jadi meski sebagian besar kita ingin punya pasangan cerdas, alasan kita ingin punya pasangan cerdas bukan karena supaya kita terangsang. Alih-alih ketertarikan pada pasangan cerdas mungkin lebih berhubungan dengan fakta bahwa kecerdasan menunjukkan sifat-sifat lainnya yang menarik, seperti kesuksesan dan pencapaian—atau, sebagaimana yang diperdebatkan psikolog evolusioner, mungkin muncul dari keinginan untuk menurunkan kecerdasan tersebut pada anak-anak kita.

Oleh karena itu, peserta dalam jumlah kecil—sekitar 8 persen—bilang bahwa mereka menganggap kecerdasan bisa membuat mereka terangsang, dan 55 persen di antaranya adalah perempuan. Meski begitu, hanya 1 persen berkata mereka sangat terangsang oleh kecerdasan. Peserta dalam porsi kecil melaporkan bahwa mereka tidak bisa naksir seseorang kecuali orang itu cerdas, menyimpulkan bahwa IQ mungkin menjadi fetish tertentu bagi para sapioseksual.

Penting dicatat bahwa sekitar 5 hingga 6 persen peserta merupakan kebalikan dari sapioseksual: Mereka menganggap kecerdasan tingkat tinggi membuat mereka tak berselera. (Saya enggak yakin apakah “intellectofobia” merupakan kata yang benar-benar ada, tapi istilah itu sepertinya cocok untuk menggambarkan orang-orang ini. Penelitian di masa mendatang akan membantu menentukan mengapa kecerdasan membuat mereka ilfil, dan apakah hal tersebut berarti mereka menganggap orang yang kurang cerdas justru menarik.

Catatan kecil, tingkat kecerdasan peserta sendiri tidak berhubungan dengan apakah mereka terangsang atau tidak terangsang oleh IQ tinggi. Jadi hal ini tidak ada hubungannya dengan seberapa cerdas kita. Tentu, peneltian ini—sebagaimana penelitian manapun—memiliki batasan-batasan, termasuk fakta bahwa sebagian besar peserta adalah pelajar S1, yang artinya mereka tidak mencerminkan kecerdasan dalam cakupan yang penuh. Penelitian tambahan dengan sampel yang lebih beragam pastinya bermanfaat.

Secara umum, hasil-hasil ini menyediakan bukti lebih lanjut atas peran penting kecerdasan dalam hubungan romantis. Temuan-temuan ini juga menunjukkan bukti ilmiah pertama bahwa sapioseksualitas benar-benar ada. Meski kecerdasan merangsang sebagian orang, hal tersebut bisa membuat sebagian orang lainnya kehilangan selera.