The VICE Guide to Right Now

Polri Umumkan Perang Pada Musuh Ideologis 'Baru': Gerakan Anarko Sindikalis

Walaupun pegiat berbagai varian ideologi anarkisme sudah ada di Indonesia bertahun-tahun lamanya, baru setelah Hari Buruh 2019 diwarnai bentrok, polisi merasa perlu "memetakan" para aktivisnya.
02 Mei 2019, 10:52am
Polri Umumkan Perang Pada Musuh Ideologis 'Baru': Gerakan Anarko Sindikalis
Demonstrasn dari elemen anarkis menggelar aksi di alun-alun Zocalo, Mexico City. Foto oleh Edgard Garrido/Reuters

Aparat Indonesia mengumumkan musuh ideologis 'baru' yang harus ditumpas, selain gerakan komunis gaya baru dan Hizbut Tahrir yang berulang kali disebut para pejabat atau purnawirawan militer. Kepolisian Indonesia menyebut kelompok yang kini "sedang dipetakan" keberadaannya adalah gerakan anarko sindikalisme.

Polisi mengincar penganut ideologi anarkis, setelah beberapa media melaporkan aksi May Day, atau peringatan Hari Buruh yang berlangsung 1 Mei lalu, berlangsung “ricuh” di beberapa kota. Di Bandung misalnya, sekelompok orang berpakaian hitam dituding menyusupi demo buruh untuk merusak fasilitas umum. Padahal kepolisian merasa buruh sudah sepakat aksi bakal berlangsung damai.

Adanya kericuhan hari buruh itu, menurut Kapolri Tito Karnavian, terindikasi akibat adanya anasir anarko sindikalis yang berkembang di berbagai organisasi massa beberapa tahun belakangan.

"Ada satu kelompok namanya anarko sindikalisme dengan [simbol] huruf A. Ini bukan kelompok fenomena lokal tapi fenomena internasional. Ini memang ada semacam doktri dari luar negeri mengenai masalah pekerja, di antaranya adalah pekerja jangan diatur. Jadi pekerja lepas dari aturan," ujar Tito saat jumpa pers di Mabes Polri.

Anarkisme bukan ideologi kemarin sore yang tiba-tiba "diimpor" ke Tanah Air. Sel-sel anarkis modern dari berbagai aliran muncul di Tanah Air sejak awal reformasi. Salah satu aksi mereka yang paling diingat adalah pembakaran simbolis ATM di Bandung dan Yogyakarta pada 2011. Kelompok anarkis juga sangat terlibat advokasi jaringan petani di beberapa pusat konflik lahan Pulau Jawa.

Setelah sekian tahun berkembang, baru sekarang polisi secara tegas mengincar kolektif anarko lokal. Namun, harus diakui, berbagai insiden dalam perayaan 1 Mei 2019 merupakan pergerakan elemen dengan simbol anarkis di Tanah Air paling kentara beberapa tahun belakangan.

Di sosial media, beredar video yang menunjukkan aksi massa yang terjadi di Bandung. Mereka kebanyakan mengenakan baju hitam dan beberapa di antaranya membawa bendera merah-hitam, yang diasosiakan dengan logo anarko-sindikalis.

Massa dipukul mundur sampai ke Jalan Ir H Juanda, kemudian bubar di sekitar Taman Cikapayang. Beberapa demonstran lantas dicokok dan diangkut truk milik polisi. Kurang lebih dari 600 orang peserta aksi Hari Buruh di Bandung ditangkap kepolisian kemarin. Mereka yang ditangkap dicukur plontos oleh polisi, setelah sebelumnya diminta membuka baju dan celana.

Sementara itu, di Surabaya, polisi menyebut ada lima orang ditangkap. Mereka juga disebut "anarko". Di kedua tempat tersebut, kelompok ini disebut bukan bagian dari gerakan buruh, melainkan kelompok yang menyusup ke aksi buruh. Polisi mengaku ada sekian kejadian serupa berlangsung di beberapa kota dalam waktu hampir bersamaan.

"Memang ada riak dari dinamika yang ada terutama mereka-mereka yang memanfaatkan kegiatan Hari Buruh 1 Mei dan menyusup kemudian ingin memperkeruh suasana. Di Bandung sudah ada. Tapi di Jawa Timur cepat kita antisipasi," kata Frans Barung Mangera, juru bicara Polda Jawa Timur, saat diwawancarai Detik.com. "Mereka juga tanpa disertai tanpa surat tanda pemberitahuan melakukan demo. Kemudian yang kedua mereka melanjutkan kegiatan-kegiatan sama dengan kegiatan yang lain yang cenderung melakukan anarkis."

Di hari yang sama, dua orang lain ditangkap di Makassar, Sulawesi Selatan, setelah merusak kantor Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) dan rumah makan waralaba cepat saji McDonalds.

Tak semua buruh mendukung elemen anarko sindikalis. Konfederasi Serikat Pekerja Buruh Seluruh Indonesia (KSPSI) termasuk yang meminta pihak kepolisian mengusut tuntas pemicu kericuhan di peringatan 1 Mei. "Ada kejadian di lima provinsi, termasuk di Bundaran HI dan Bandung, kami minta ditelusuri dengan cepat. Saya menilai ini pasti ada aktor intelektualnya sebab bentrok ini terjadi dalam hari yang sama dan jam yang sama," kata Presiden KSPSI, Andi Gani Nena Wea kepada media.

Di Indonesia, pengertian anarkisme sejak lama rancu. Anarkis kerap diartikan sebagai keadaan penuh kekacauan, kehancuran, atau semaunya sendiri. Pengertian macam itu berulang kali dipakai media, masyarakat, aparatur negara, hingga akademisi. Tak heran, terma anarki seringkali diasosiasikan dengan segala aksi destruktif.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, anarki diartikan menjadi dua hal: tidak adanya pemerintahan dan kekacauan. L. Susan Brown, dalam bukunya The Politics of Individualism menyebut anarkisme sering disalahartikan sebagai tindakan kekerasan dan tak taat aturan.

Padahal menurutnya anarkisme adalah ideologi politik yang tak sekadar melawan pemerintah. Kelompok anarkis menentang pemikiran bila masyarakat membutuhkan hierarki kekuasaan. Pandangan tersebut meyakini bahwa hakikatnya manusia adalah makhluk yang secara alamiah bisa hidup harmonis, tanpa intervensi kekuasaan.

Sementara anarko-sindikalisme merupakan cabang dari ideologi anarkisme yang berfokus pada advokasi pergerakan kaum buruh. Intinya, penganut anarko-sindikalis percaya bahwa serikat buruh adalah kekuatan menuju revolusi sosial untuk menggantikan sistem kapitalisme dan negara, dengan demokrasi murni oleh kelas pekerja.

Belum jelas apakah di masa mendatang simbol lingkaran dengan huruf A akan kena sweeping seperti buku kiri dan simbol palu arit. Setidaknya daftar "hantu ideologis" bagi kepolisian semakin bertambah saja.