Profesi Unik

Ini Pengalamanku Resign Dari Kerjaan Membosankan, Lalu Jadi Seorang Dominatrix

VICE ngobrol sama mantan periset industri keuangan yang beralih profesi menjadi dominatrix.
JP
Diterjemahkan oleh Jade Poa
12.8.19
Ini Pengalamanku Resign Dari Kerjaan Membosankan, Lalu Jadi Seorang Dominatrix
Goddess Cleo di atas orang-orang. Foto oleh Club Pedestal

Kerja memang bikin capek. Biaya hidup semakin tinggi, sementara masa depan tampak semakin suram, apalagi buat kaum muda. Wajar dong kalau kita bersikap pesimis sama pekerjaan. Buat apa bekerja keras setiap hari, ketika data menunjukkan generasi muda gajinya semakin kecil dibanding ortu mereka?

Quit Your Shit Job adalah kolom baru VICE, menceritakan kisah orang yang menolak pekerjaan membosankan lalu mengejar profesi yang benar-benar dia inginkan. Lagipula, kalau benar Bumi akan kiamat dalam beberapa dekade mendatang, mending kita semua menghabiskan sisa hidup melakukan hal-hal yang disukai!

Iklan

Kali ini kami ngobrol bareng Goddess Cleo, seorang dominatrix berbasis di London, Inggris. Setelah melakoni berbagai pekerjaan di bidang manajemen dan riset yang membuatnya depresi, dia akhirnya memberanikan diri resign, lalu banting setir menjadi dominatrix profesional. Dominatrix adalah istilah untuk perempuan yang memainkan peran mendominasi bagi penggemar fetish tertentu, dan tak selalu harus berakhir dengan seks.

VICE: Hai Goddess Cleo! Apa pekerjaanmu dulu sebelum menjadi dominatrix?
Goddess Cleo: Aku dulu bekerja untuk salah satu firma layanan finansial 10 besar di bidang riset. Sebelum itu, aku bekerja di bidang manajemen dan riset di berbagai industri, termasuk perdagangan, pariwisata, dan hiburan. Aku juga sempat bekerja di call center.

Itu pekerjaan paling mengesalkan. Selama aku kerja di sana, aku malas-malasan masuk kerja. Aku bekerja di call center selama delapan bulan, dan butuh banyak waktu buat memulihkan kesehatan mentalku setelah resign.

Apa yang bikin kamu malas kerja di sana?
Pekerjaannya enggak fleksibel dan lama-lama menjadi repetitif. Jam kerjanya panjang dan semua orang yang bekerja di situ bersikap sombong. Lingkungan kerjanya penuh tekanan dan tentunya sebagai perempuan, aku rentan terhadap diskriminasi di tempat kerja.

Terus, habis itu kamu memilih jadi apa?
Aku menjadi dominatrix profesional, penyedia jasa penyelenggara acara, sekaligus life coach.

Professional dominatrix Mistress Cleo with a slave in a cage licking her foot

Foto dari arsip Goddess Cleo

Apa yang bikin kamu tiba-tiba pengin mengubah caramu mencari nafkah?
Aku menemukan sebuah blog dikelola perempuan yang membicarakan hidupnya secara terbuka, termasuk pengalamannya bekerja di strip club dan findom (dominasi finansial). Nama profesionalnya adalah Madame Says. Dia menjadi inspirasiku agar berani pindah profesi. Dulu aku sering membaca blognya yang bikin aku kagum.

Tiba-tiba, suatu hari aku melihat iklan lowongan di Craigslist (layanan jual beli populer di AS dan Eropa) dengan tulisan seperti ini: “ingin menjadi dominatrix profesional?” jawabanku dalam hati, “MAU BANGET!!” Aku merespons iklan tersebut, bertemu dengan orang yang memasangnya beserta dua perempuan lainnya. Kami berempat pergi ke Torture Garden, diperkenalkan ke kancah fetish dan BDSM (Bondage, Domination, Sadism, Masochism). Malam itu juga, hidup kami berubah dan aku mulai mempelajari seni dominasi.

Apa yang paling kamu sukai dari profesimu sekarang?
Aku senang kalau bisa memperkenalkan wacan subspace (pola pikir submisif) ke orang baru. Sebagian besar orang di luar komunitas BDSM tidak mengetahui dampak positif subspace pada kesehatan mental. Subspace itu seperti aliran endorfin yang sering dibicarakan penggemar fitness. Bayangkan sensasi habis fitness tadi dikali dua puluh. Kayak gitulah kira-kira rasanya subspace; tenang, bahagia, dan aman. Kayak semacam terapi. Komunitas BDSM sebetulnya ramah sekali. Kami menyambut orang dari seluruh spektrum gender dan seksualitas. Oh iya, gajiku jauh lebih besar sekarang dibanding saat masih kerja kantoran.

Iklan

Jadi dominatrix kekurangannya apa?
Jam kerjanya PANJANG! Itulah gaya hidupku, pokoknya harus siap 24 jam.

Apa ada momen-momen lucu selama melakoni profesi barumu?
Ada banyak situasi lucu yang terjadi selama sesiku. Aku pernah enggak sengaja menendang “biji” seseorang sampai dia BAB di sepatuku!

Apa momen terburuk di pekerjaan lamamu?
Sesudah aku menjalani operasi punggung, aku hanya dikasih dua minggu cuti untuk pemulihan. Sementara orang lain yang menjalani operasi serupa dapat libur enam bulan. Itu yang bikin aku pengin beralih profesi. Akhirnya aku butuh tiga sampai empat bulan buat pulih habis dioperasi.

Apakah kamu merasa bangga ketika mendengar teman-temanmu membicarakan pekerjaan mereka yang membosankan?
Aku bukan tipe orang yang suka pamer, tapi mendengarkan cerita teman-temanku bikin aku malah lebih mendukung gagasan meninggalkan karir yang dirasa enggak cocok. Aku pasti mendukung temanku yang ingin beralih profesi demi memperoleh kebahagiaan.

Saran apa yang ingin kamu berikan kepada orang yang sedang membenci pekerjaan mereka?
Satu-satunya orang yang sanggup mengubah hidupmu adalah dirimu sendiri.

@goddess_cleo / @rosestokes

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.