Alasan Desain Poster Caleg Pemilu di Indonesia Selalu Kacrut
Kolase foto oleh Muhammad Ishommudin.
VICE Votes

Kiat-Kiat Selebor Supaya Desain Poster Kampanye Caleg Tak Selalu Kacrut

Fluxcup dan Farid Stevy dari FSTVLST—keduanya seniman grafis kesohor—ngobrolin desain poster kampanye caleg di Indonesia yang seakan turun kelas dibanding pemilu 1955.
15.4.19

Enam bulan terakhir, jalan raya jadi lebih menyebalkan karena banyaknya sampah visual berupa poster kampanye pemilihan umum. Lihat saja, di satu ruas jalan bisa berjejer lusinan poster caleg dan capres. Untunglah, akhirnya kita sudah tiba di minggu tenang dan semoga tidak lagi diganggu deretan poster dengan desain mengerikan tersebut.

Di tengah lautan sampah visual, barangkali kalian masih sukses menemukan poster ajaib seperti ini:

Sayangnya, mayoritas desain poster caleg amat menjemukan, tak seperti poster di atas (yang sebenarnya juga enggak bagus secara estetika). Dipasangnya pun sembarangan. Kadang ditempel begitu saja di pagar rumah orang, atau di tiang listrik. Kombinasi yang tak enak dilihat.

Selain dipasang sembarangan, desain poster kampanye tak pernah berubah sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Formula desain posternya seperti ini: Muncul foto tampang kaku si caleg, nomor urut dan partai, kemudian jargon kampanyenya. Kalau ada yang sedikit kreatif, seperti contoh di atas, itu juga nyolong ide desain film atau karakter terkenal.

Tak heran bila Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mencatat 13.578 alat peraga kampanye di DKI Jakarta terpaksa ditertibkan, lantaran dipasang di sembarang tempat. Itu baru di Jakarta doang lho.

Farid Stevy Asta, vokalis band FSTVLST sekaligus pendiri rumah desain Liberates Creative Colony,menilai sejak era Orde Baru sampai sekarang, desain atribut kampanye pemilu tak mengalami kemajuan. Hal yang nampak justru kemunduran kualitas desain. "Mungkin lebih bervariasi dan lebih kreatif produk grafisnya. Tapi sepertinya malah semakin gagal mengemban fungsinya sebagai alat propaganda," ujarnya pada VICE.

Iklan

Dia memberi contoh poster pemilu 1955, yang menurutnya justru lebih kreatif dalam menyampaikan pesan. Coba simak poster pemilu milik Partai Komunis Indonesia yang menyatakan "Di bawah kekuasaan Masjumi-PSI uang saudara digunting. Pilihlah PKI."

1555226635487-images-1
1555226652646-images-2

Sebagai balasan, Partai Masyumi membuat poster bertuliskan: "Memilih Palu Arit Berarti Menyerahkan Indonesia Kepada Kekuasaan Asing. Tusuklah Bintang Bulan!". Poster itu dilengkapi kartun jongos bertuliskan PKI yang sedang melayani sosok mirip Joseph Stalin dengan logo palu arit di dadanya.

Walaupun cuma ilustrasi kartun belaka, grafis kedua poster jadul tersebut menyampaikan pesan secara efektif. Tak ada kata yang tak perlu seperti “Mohon doa restu” atau “melayani setulus hati” seperti kebanyakan poster pemilu saat ini.

Walaupun membosankan dan malah nyampah, tapi jelas bikin atribut kampanye ini enggak bisa dibilang murah. Caleg DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Masinton Pasaribu, misalnya, merogoh hingga Rp5 miliar buat memasang atribut selama enam bulan kampanye. Tak heran jika foto Masinton bisa ditemui dari mulai gang sempit pinggiran Jakarta Selatan sampai jalan protokol di Jakarta Pusat.

Alhasil, bisa dibilang fenomena menarik dari poster caleg sepanjang kampanye tahun ini sebatas desain bernuansa plesetan atau mencomot elemen budaya pop. Apakah fenomena poster caleg plesetan ini patut diapresiasi atau adakah cara lain agar kampanye visual bisa menarik pemilih dan enggak nyampah? Mengapa kampanye pemilu selalu begitu-begitu saja dan tak ada perubahan?

Iklan

Untuk memperoleh jawabannya, VICE ngobrol bareng Farid Stevy dan Fluxcup, desainer sekaligus YouTuber yang rajin mengamati budaya pop tapi selalu menjaga identitas pribadinya. Kami mengulas poster pemilu masa sekarang yang garing, sok asyik, dan gitu-gitu aja. Mereka berdua sekaligus berbagi tips selebor tentang desain poster kampanye yang keren di masa sekarang. Begini cuplikan obrolannya:

VICE: Menurutmu kalian, adakah perkembangan mutu desain grafis poster caleg dalam pemilu 2019?
Fluxcup: Desain grafis di spanduk-spanduk partai tersebut sangat menghibur sekali, dan kalau dibandingkan dengan kampanye sebelumnya, sepertinya tidak maju-maju. Masih katro'-katro' aja.
Farid Stevy: Saya rasa kemundurannya cukup pesat. Saya lebih menikmati produk-produk grafis pemilu-pemilu Indonesia yang dulu-dulu banget. Contoh pada pemilu pertama kita tahun 1955, tentu saja saya tidak mengalaminya langsung, tapi dari beberapa dokumen yang masih masih bisa diakses, nampak logo-logo partainya keren-keren, beberapa poster kampanye partainya juga kuat. Coba deh googling: poster pemilu 1955. Semakin ke sini memang semakin berwarna warni, lebih bervariasi produk grafisnya, lebih kreatif katanya, tapi sepertinya malah semakin gagal mengemban fungsinya sebagai alat propaganda. Memangnya masih ada gitu, yang lihat baliho caleg pemilu 2019 ini mendapatkan pencerahan hidup, lalu bergumam dalam hati 'dia adalah orang yang selama ini kucari, dia adalah aku, dia adalah kita, akan kucoblos beliau nanti'?!

Zaman sudah maju, photoshop gampang diakses, kenapa masih bertebaran poster caleg membosankan? Apa karena kebanyakan caleg tidak punya selera seni yang baik?
Fluxcup: Yang mengalami kemajuan kan teknologinya. Mau se-advance apapun teknologinya, sehebat apapun user-nya, kalau enggak diimbangi dengan selera estetika yang maju, ujung-ujungnya akan selalu menyebabkan polusi mata.
Farid: Desainer-desainer dengan skill dewa dan komunikator visual kelas pendekar yang bekerja untuk para politisi, pastinya enggak akan dapat ruang eksplorasi berlebih; di luar edit foto figur politisi dengan pose gagah dan bijaksananya, latar belakang warna partai pengusungnya, pasang logo jelek partai dan harus gede, copy berisi puisi janji-janji, dan tentu saja nama si politisi dan sederet pangkat dan gelarnya. Karena begitu brief-nya, begitu pula hasilnya. Apakah caleg tak punya taste seni yang highbrow? Enggak tahu juga, tapi di sekeliling saya, yang punya selera seni biasanya enggak mau jadi caleg sih.


Tonton wawancara VICE bersama anak muda dari berbagai kota merespons berbagai isu penting, tapi terabaikan, dari pemilu 2019:


Jika melihat desain posternya, yang kalau enggak garing ya absurd, kalian sebagai desainer membayangkan kehidupan caleg sehari-hari seperti apa?
Fluxcup: Mungkin bangun tidur, sehabis salat subuh, langsung nyetel ceramah mamah Dedeh, lalu kerja depan komputer maen solitaire atau minesweeper. Di sela-sela gabut nonton TV, mulai dari sinetron, reality show, gosip dan berita-berita di TVOne, main hape terus tulis status di Facebook, setelah itu mereka melakukan kegiatan boring lainnya.
Farid: Mungkin, kehidupan sehari-hari sebelum memutuskan untuk jadi caleg adalah kehidupan yang indah dan teduh dan sederhana dan jujur dan terpuji taste-nya, lalu tereduksi karena ada hasrat primordial bernama kekuasaan.

1555226147806-Screen-Shot-2019-04-14-at-141533

Sejauh ini poster caleg yang rada kreatif biasanya mencontek elemen budaya pop, misalnya mencomot desain PUBG atau superman. Menurut kalian, idealnya desain poster kampanye yang bagus, persuasif, sekaligus estetis seperti apa?
Fluxcup: Poster yang jelas, isinya informatif, sesuai kaedah-kaedah publikasi aja. Enggak usah dianeh-anehin lah. Itu efek di photoshop enggak usah dipakai semua. Kasihan masayarakat seperti kami yang punya selera estetika, kena polusi penglihatan. Mana ditempel di sembarang tempat juga lagi. Terus itu caleg-caleg itu siapaaaa?!! Ini tiba-tiba kita disodorin muka narsis yang enggak jelas kredibilitas dan urgensinya buat masyarakat. Program kerjanya apa juga enggak tahu. Masa kita sekonyong-konyong disuruh nyoblos kucing dalam karung?

Nih ya saya kasih tips, untuk para caleg. Kalau berencana mau duduk di pemerintahan, kalian upgrade-lah cara kampanye politik kalian, apalagi usia pemilih terbesar sekarang adalah millenial. Bikin Vlog di YouTube, supaya kita bisa tahu program apa saja yang kalian sedang jalanin dan direncanain. IG Live kalau bisa. Adakan QnA di platform digital. Ikuti tren yang ada sesuai kapasitasnya. Farid: Desain poster yang bagus dan persuasif dan estetis bergantung sepenuhnya pada hal terpenting, yaitu apa yang mau diposterkan. Kontennya, isinya, nilainya, baru setelah itu bagaimana pendekatan desain dan komunikasinya diolah dan disesuaikan dengan tujuan propaganda dan target audiens. Contoh: adakah caleg yang posternya pake visual cukil kayu menampakkan adegan-adegan kerakyatan, dicetak pada kertas bekas pakai dengan warna-warna yang lebih natural, karena sesumbar misinya membela rakyat kecil? Kok kayaknya enggak ada ya.

Kalian pernah dapat tawaran proyek mendesain poster caleg? Kalau pernah atau menolak, alasannya kenapa?
Fluxcup: Sering banget nolak. Alasannya simpel. Langsung Umum Bebas dan Rahasia. Saya pilih calon yang punya kredibilitas menjadi pemimipin dan sesuai dengan hati saya. Kalau masalah siapa pilihannya, itu harus rahasia. Tidak perlu diketahui orang banyak.
Farid: Tidak pernah ditawari. Tuhan itu ada. Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan umat-Nya. Tuhan maha tahu, bahwa proyek urusan politik di luar kemampuan saya.

Punya teman dari latar komunitas desainer atau seniman yang jadi caleg tahun ini? Desain poster kampanye mereka menurut kalian bagus atau enggak?
Fluxcup: Ada. Sama aja katro'.
Farid: Tuhan juga tahu bahwa saya tidak akan kuat jika punya teman yang nyaleg. Tuhan Maha Pengasih. Terima kasih Tuhan.

Menurut kalian, apakah desain poster kampanye caleg bisa lebih berkualitas pada pemilu 2024 mendatang?
Fluxcup: Kita enggak pernah tahu akan ada tren apa di masa depan. Yang pasti saya sedang mempersiapkan sesuatu yang besar.
Farid: Saya desainer grafis yang kebetulan menulis lirik dan bernyanyi di sebuah band dan kebetulan lagi juga perupa. Bukan dukun. Go home VICE, you’re drunk!