ISIS

Khalifah ISIS Berulang Kali Dikabarkan Tewas Lalu Hidup Lagi

Setiap muncul kabar Abu Bakar al-Baghdadi tewas akibat operasi militer, seperti baru saja diklaim Rusia, perlu disikapi skeptis.
18.6.17
Uang palsu bergambar Khalifah ISIS beredar di Suriah. Foto oleh REUTERS/Bassam Khabieh.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Akhir pekan lalu, Militer Rusia menyatakan berhasil membunuh Khafilah Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) dalam serangan udara di utara Suriah. Kabar ini disambut skeptis media massa seluruh dunia. Sudah terlalu sering muncul kabar Abu Bakar al-Baghdadi—sang pemimpin tertinggi ISIS—tewas akibat operasi militer Koalisi Barat. Namun sampai sekarang dia terbukti masih hidup memimpin militan khilafah dari Mosul ataupun Raqqa.

Iklan

Pernyataan tewasnya Baghdadi kali ini diumumkan Kementerian Pertahanan Rusia dalam jumpa pers. Pria paling diburu seluruh dunia itu diklaim sedang menggelar rapat di salah satu bangunan dikuasai ISIS tengah Kota Raqqa, Suriah. Rusia mengklaim serangan udara ini dilakukan 28 Mei lalu, menewaskan Baghdadi dan lebih dari 300 prajurit ISIS.

"Berdasarkan informasi yang telah kami verifikasi lewat berbagai sumber, pemimpin ISIS… Abu Bakar al-Baghdadi ada dalam pertemuan saat kami melakukan pemboman dan terbunuh," kata juru bicara pemerintah Rusia.

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat sampai sekarang belum bisa mengonfirmasi kebenaran informasi Rusia. Analis terorisme dari seluruh dunia sejauh ini meragukan pernyataan tentara Rusia. ISIS, di sisi lain, sama sekali tak pernah menyebut sang khalifah tewas. Organisasi teror itu punya tradisi selalu membuat obituari untuk pejuang maupun pejabat yang tewas.

BURONAN SENILAI US$25 JUTA

Baghdadi adalah buronan termahal dunia saat ini. Kementerian Pertahanan AS menghargai kepalanya senilai US$25 juta (setara Rp33,2 miliar) bila dia tertangkap hidup-hidup. Sejak memimpin ISIS pada 2014, Baghdadi sudah berulang kali diberitakan tewas. Sebelum Rusia membuat klaim tersebut, stasiun televisi milik pemerintah Suriah juga memberitakan kabar Baghdadi tewas di Raqqa.

Walaupun banyak pihak skeptis, tewasnya Baghdadi sebetulnya akan disyukuri banyak pihak. Kehilangan sosok khalifah akan melemahkan ISIS, yang sementara ini semakin terdesak di Raqqa dan Mosul. Dua kota yang dianggap penting oleh para militan itu dikepung militer Kurdi, Koalisi Barat, pemerintah Suriah dibantu Rusia, serta tentara Irak. Apabila klaim Rusia benar, kematian Baghdadi juga akan menjadi keuntungan bagi citra mereka. Keputusan Presiden Vladimir Putin mengirim jet tempur dan tentaranya membantu Presiden Suriah tahun lalu dikritik habis-habisan dunia internasional lantaran lebih berfokus menyerang para pemberontak Bashar al-Assad. Rusia juga dituduh tak serius dengan janji melemahkan ISIS.

Iklan

Pengamat Terorisme dari Lembaga Analisi Kronos, Michael S. Smith, menyatakan tidak terlalu mempercayai klaim pemerintah Suriah soal kematian Baghdadi. Dari sepak terjang Rusia selama ini di Suriah, militer mereka seringkali gagal memetakan pergerakan pejabat kelas menengah ISIS. Hampir mustahil Negeri Beruang Merah tiba-tiba mampu menyasar bangunan yang sedang didatangi sosok sepenting Baghdadi.

"Kalau memang intelijen Rusia sehebat itu memetakan target kakap lewat serangan udara, mereka tidak mungkin mengerahkan pasukan darat sejah tahun lalu saat menghadapi ISIS," kata Smith saat dihubungi VICE News.

Di sisi lain, Smith mengakui bahwa Rusia membangun narasi seakan-akan tidak sengaja membunuh Baghdadi dalam serangan udara itu. Tapi alibi ini menjadi lemah, karena dari waktu serangan pada 28 Mei, Rusia perlu lebih dari dua minggu untuk mengklaim sang khalifah ISIS tewas. Sumber intelijen mereka sangat mungkin memperoleh informasi menyesatkan dalam rentang sepanjang itu.

Atau, bagi Smith, apa yang sedang ingin dilakukan Rusia dan Suriah memberitakan Baghdadi tewas dalam waktu berdekatan adalah membingungkan keroco-keroco ISIS di garis depan. Tidak semua pejuang khilafah berkesempatan bertemu sang pemimpin, sehingga pasti ada satu dua yang percaya kalau Baghdadi tewas sehingga semangat juangnya luntur.

Baghdadi mulai dikenal dunia pada pertengahan 2014. Dia mengumumkan berdirinya ISIS dari Masjid Jami Kota Mosul. Sejak itulah sosoknya sangat jarang tersorot, bahkan oleh media propaganda khilafah organisasinya yang terhitung aktif mempublikasikan berita. Sosoknya paling sering hadir lewat fatwa dan seruan untuk para simpatisan lewat pesan tertulis di forum Internet. Di mana lokasinya berada tak banyak diketahui. Sumber intelijen namun membenarkan bahwa beberapa bulan terakhir Baghdadi, masih hidup, beberapa kali menyeberang perbatasan Suriah dan Irak. Setiap berkeliling lewat jalur darat, rombongan mobil Baghdadi hanya dikawal segelintir orang untuk menghindari kecurigaan satelit milik AS maupun Rusia.

Pemerintah Rusia menyatakan gedung yang mereka bom adalah lokasi rapat petinggi ISIS. Agenda pembicaraan para militan saat kejadian adalah mencari rute pelarian dari Raqqa. Rusia mengklaim serangan udara ke gedung itu sudah dikoordinasikan dengan Amerika Serikat sejak jauh-jauh hari.

Nama asli Baghdadi adalah Ibrahim al-Samarrai. Dia meniti karir di bidang terorisme dengan bergabung Al Qaidah. Baghdadi pernah tertangkap oleh militer AS di Kota Fallujah, Irak, pada 2004. Karena hanya keroco Al Qaeda, saat itu, Baghdadi dibebaskan dari tahanan pada 2009. Keputusan ini terbukti keliru. Baghdadi justru semakin menanjak dalam jaringan terorisme Irak. Dia menjadi motor perpecahan di tubuh Al Qaeda. Dia pula yang mengajak para militan mendirikan ISIS, yang kekejamannya bahkan melampaui organisasi lamanya.