The VICE Guide to Right Now

Daftar Kota Termacet di Asia Rilis, Jakarta Tak Masuk 10 Besar Lho

Menurut kajian ADB, kota paling macet se-Asia adalah Manila. Bandung malah dianggap lebih macet dari Jakarta. Pembangunan terhambat karena minim transportasi umum efisien di kota-kota tersebut.
AN
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
2.10.19
jalanan manila yang padat Daftar Kota Termacet di Asia Rilis, Jakarta Tak Masuk 10 Besar Lho
Jalanan Manila yang padat. Foto dari pengguna Unsplash Michael Buillerey/lisensi CC 3.0

Asia Tenggara adalah wilayah yang berkembang pesat. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, semakin banyak pula masalah yang berdatangan ke kawasan ini. Itu sebabnya Asian Development Bank (ADB) khusus mengkaji terutama kota-kota di Asia Tenggara, yang diklaim terpadat di Benua Asia.

Berdasarkan kajian yang baru saja rilis, ADB menyimpulkan dari 278 kota di negara-negara berkembang di Asia, Manila merupakan yang termacet untuk 2019. Studi mereka membandingkan rasio waktu perjalanan dan jarak di setiap kota ketika jam sibuk serta lengang. Hasilnya, kota-kota di deretan 10 besar memiliki nilai kemacetan rata-rata 1,24. Itu berarti perjalanan saat jam sibuk membutuhkan waktu 24 persen lebih lama dibanding di luar jam sibuk. Manila sendiri meraih skor 1,5, jauh meninggalkan kota lain.

Iklan

Di luar dugaan, Jakarta yang seringkali dianggap punya kemacetan jahanam, belum seburuk kota lain di peringkat 10 besar. Ibu Kota Indonesia itu berada di posisi 17 dengan skor di bawah 1,2. Malah, posisi Kota Bandung yang lebih parah berdasarkan hitungan ADB, ada di peringkat 14. Kemacetan Bandung dinilai lebih buruk dari kota besar seperti Mumbai ataupun Karachi. ADB tidak merinci apakah hadirnya MRT di Jakarta, yang ikut menopang Transjakarta dan KRL, berpengaruh mengurai kemacetan di beberapa simpul jalur protokol menghubungkan kawasan selatan ke pusat kota.

Laporan tersebut intinya mengaitkan penyebab kemacetan kota dengan minimnya transportasi umum yang efisien dan terjangkau. Kualitas hidup warga kena dampaknya, karena kemacetan menghambat mobilitas penduduk.

Berdasarkan laporan ADB, bepergian dengan transportasi umum di Metro Manila memakan waktu tiga kali lebih lama dibanding menggunakan kendaraan pribadi; sekitar 25 persen rute perjalanan di Ibu Kota Filipina yang diteliti ADB bahkan tak dapat ditempuh sama sekali memakai transportasi umum.

Kemacetan jelas menghambat perkembangan sebuah kota. Menurut studi yang diterbitkan Japan International Corporation Agency (JICA) pada 2017, kemacetan harian di Filipina dapat menyebabkan kerugian akumulatif sebesar 5,4 miliar Peso (setara Rp1,4 triliun) dalam 10 tahun ke depan, apabila situasi Metro Manila tidak mengalami perbaikan. Sebelumnya, negara mayoritas Katolik ini dilaporkan kehilangan sudah merasakan potensi kerugian 3,5 miliar Peso (setara Rp956 miliar) karena jalan protokol seringkali macet.

Iklan

Pemerintah Filipina berupaya mengatasi kemacetan dengan membangun berbagai infrastruktur, seperti menghubungkan jalan bebas hambatan utara dan selatan, memperluas Metro Rail Transport (MRT), dan membangun jalur kereta bawah tanah. Akan tetapi, pembangunan ini malah memperburuk kemacetan di sejumlah daerah.

Kuala Lumpur menyusul Manila di posisi kedua, dengan skor kemacetan 1,4. Beberapa tahun terakhir, pemerintah Malaysia telah memprioritaskan penyediaan sarana transportasi umum. Rampung pada 2018, Mass Rapid Transit (MRT) kini menghubungkan semakin banyak daerah di Kuala Lumpur. Selain MRT, KL juga punya Light Rail Transit (LRT), monorail, dan KTM Komuter.

Terlepas dari semua kemajuan ini, jumlah penumpang umum di kota tersebut masih rendah, hanya 40 persen dari populasi ibu kota. Pemerintah Malaysia sampai mengusulkan penggantian sistem jalan tol dengan denda macet, guna mendorong penduduk beralih ke transportasi publik.

Sementara itu, Kota Yangon di Myanmar menduduki peringkat ketiga. Skor indeks kemacetan di kota Myanmar ini tercatat sebesar 1,38.

Minimnya sistem moda raya terpadu (MRT) di Yangon memaksa penduduk berjejalan di bus dan terjebak macet setiap harinya. Data mengungkapkan Yangon hanya memiliki 4.000 bus, sedangkan jumlah penduduknya mencapai tujuh juta jiwa.

Jumlah taksi di Myanmar "enam kali lipat lebih banyak dari New York", dan kendaraan pribadi terus meningkat karena kurangnya sarana transportasi umum. Pemerintah sampai menyarankan pembatasan masuknya kendaraan pribadi ke kawasan kota Yangon. Untuk mengurai kemacetan, pemerintah Myanmar bekerja sama dengan JICA meningkatkan dan memperluas jangkauan Sistem Bus rute dalam kota. Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah pengguna bus.

Iklan

Berikut kota-kota Asia lain yang masuk peringkat 10 teratas paling macet versi ADB:

  • Dhaka, Bangladesh
  • Bengaluru, India
  • Hanoi, Vietnam
  • Kolkata, India
  • Delhi, India
  • Pune, India
  • Ho Chi Minh, Vietnam

Penyusunan peringkat ini juga didasarkan pada data perjalanan komuter yang diproyeksikan Google Maps. Mereka mengidentifikasi titik macet di sejumlah kota, dan membandingkan arus pengendara saat jam sibuk maupun saat lengang.

ADB menilai kemacetan menyulitkan pegawai kantoran untuk datang tepat waktu, serta menghambat hubungan antara perusahaan dan pelanggan. Dengan begini, manfaat positif urbanisasi jadi gagal diperoleh.

Abdul Abiad, direktur ADB untuk bagian makroekonomi, riset ekonomi, dan kerja sama regional, menganjurkan agar kota-kota yang didera macet parah ini menggencarkan pembangunan infrastruktur transportasi umum berorientasi transit. Selain itu, memperluas dan memajukan jaringan kereta juga bisa menjadi solusi.

Follow Lia di Instagram dan Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.