Sains

Peneliti Berusaha Kembangkan Bentuk Payudara Sempurna dengan Teknologi Eye-Track

Teknologi penentu arah mata ini diharapkan dapat membantu dokter bedah menciptakan “skala universal” estetika dan bentuk payudara.
05 Desember 2019, 8:17am
Ilustrasi lelaki yang matanya sedang tertuju ke arah puting
Tangkapan layar via Pietruski dkk

Ada segudang alasan kenapa perempuan menjalani operasi payudara. Sementara kita tidak ada urusan mencari tahu alasannya, kecuali kalau kalian dokter bedah mereka tentu saja.

Bagi dokter bedah, membicarakan alasan dan bentuk payudara yang diinginkan sangat penting agar pasien bahagia dengan hasil akhirnya.

Itulah sebabnya sekelompok peneliti di Polandia menggunakan teknologi penentu arah mata untuk memahami bagian mana yang paling sering dilihat manusia ketika menilai kesimetrisan dan keindahan dada. Mereka menemukan orang-orang paling sering melihat ke arah puting dan bagian bawah payudara.

Diunggah dalam edisi Desember Plastic and Reconstructive Surgery, studi mereka menganalisis arah pandangan mata 50 laki-laki dan 50 perempuan ketika melihat gambar payudara. Tak ada penjelasan spesifik soal preferensi seksual atau identitas gender, selain “orang Kaukasia” dan “laki-laki atau perempuan”. Para peserta berasal dari latar belakang budaya yang sama.

“Istilah seperti ‘kecantikan’ atau ‘estetika’ bersifat subjektif dan kurang dipahami,” peneliti utama Piotr Pietruski memberi tahu Motherboard. “Operasi payudara, baik bedah estetika maupun rekonstruksi, belum memiliki cukup metode standar analisis hasil pascaoperasi… Teknologi penentu arah mata dapat memberikan analisis kuantitatif persepsi pengamat visual terhadap rangsangan tertentu, seperti estetika dan simetri payudara.”

Para peneliti menyuguhkan gambar buatan komputer berupa bentuk-bentuk payudara dengan berbagai ukuran cup. Setelah itu, mereka diminta menilai dari 1 atau “jelek” hingga 10 atau “sempurna”. Semua gambarnya menggunakan kulit putih dan tubuh ramping.

map of the breasts

Pietruski dkk. Daerah yang diminati dari setiap proyeksi payudara.

Peneliti beranggapan peserta sengaja melihat bagian tertentu jika matanya terpaku ke sana hingga 100 milidetik lebih. Mereka menempatkan titik-titik bagian yang paling sering dilihat, dan menemukan pandangan mata peserta kerap tertuju ke daerah puting-areola. Ini tidak mengherankan, mengingat mata manusia cenderung terarah ke daerah kontras.

Peneliti menyebutkan arah pandangan tidak benar-benar menjelaskan apa yang orang anggap atraktif. Mereka biasanya melihat ke suatu arah karena fokus pada tempat itu.

Menurut studi, tidak ada standar pasti bagaimana hasil operasi yang baik karena pasien berasal dari latar belakang budaya berbeda yang menentukan preferensi mereka. Dibutuhkan studi yang lebih beragam dan berskala besar.

Peneliti memperkirakan adanya “skala universal” dalam mengevaluasi estetika payudara dapat mempermudah komunikasi antara pasien dan dokter bedah. Pietruski berpendapat di masa depan, temuan dan peta payudara ini dapat dimanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengevaluasi bentuknya secara otomatis.

“Secara pribadi, teknologi penentu arah mata berpotensi digunakan untuk mengembangkan algoritma berbasis kecerdasan buatan yang menganalisis daya tarik berbagai bagian tubuh,” kata Pietruski kepada Motherboard.

Namun, perlu diingat keindahan bentuk payudara tak cukup ditentukan oleh arah mata saja. Bahkan jika kita menanyakan semua manusia di Bumi, pasien belum tentu puas dengan hasil operasinya. Lagi pula, payudara tidak punya bentuk ideal. Yang ada cuma bentuk yang disukai pasien.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard