teknologi

Toilet Pintar Ini Bisa Memindai Anus, Lalu Menentukan Kalian Sehat Atau Tidak

Urin dan feses lebih efektif menentukan kesehatan seseorang, sehingga tim peneliti Stanford mengembangkan toilet yang dapat merekam "analprint".
8.4.20
Toilet Pintar untuk Memantau Bentuk Anus dan Menentukan kesehatan dirancang peneliti Stanford
Gambar cara kerja toilet pintar via Universitas Stanford 

Setiap manusia memiliki lubang anus yang berbeda. Setidaknya begitulah yang dikemukakan penelitian ilmiah terbaru dalam jurnal Nature. Diberi judul "Sistem Toilet Pasang Pemantau Kesehatan Melalui Tinja", penelitian ini memperkenalkan konsep "toilet pintar" yang dapat mengidentifikasi pengguna dengan video anus mereka masing-masing.

Para peneliti Stanford bertujuan memantau kesehatan orang lewat tinja dan urin, serta waktu kotoran itu dibuang. Toilet pintar ini dilengkapi empat kamera, berbagai sensor, dan sistem identifikasi untuk mewujudkan tujuan penelitian tersebut.

"Setiap orang yang menggunakan toilet akan diidentifikasi melalui sidik jari dan fitur khas anoderm mereka," demikian kesimpulan para peneliti. "Data kemudian disimpan dan dianalisis di server cloud terenkripsi."

Itu artinya rekaman video terjaga kerahasiaannya. Apa itu anoderm? Istilah tersebut merupakan gabungan dari “anus” dan “derm” (kulit).

Image via Stanford University

Para peneliti beranggapan feses, air liur, dan urin merupakan indikator kesehatan yang lebih akurat daripada darah. Karya ilmiah tersebut menyimpulkan demikian: "Konten molekuler napas, keringat, air liur, air seni, dan tinja sangat ideal menjadi sumber utama pemeriksaan kesehatan karena mengandung banyak informasi tentang tubuh seseorang."

Setelah memasang prototipe ke toilet, mereka menggunakan pengenal sidik jari flush-lever dan "analprint" untuk mengirim dan menganalisis urin dan tinja—serta waktu dan kecepatan buang airnya—di cloud. Two-factor authorization diaktifkan untuk menyimpan data.

Iklan

Lantas bagaimana cara kerja toiletnya?

Pemeriksaan urin memanfaatkan dua kamera berkecepatan tinggi untuk mengamati laju aliran, dan setumpuk strip urinalisis yang dipasang di belakang dudukan. Stripnya akan keluar setelah sensor gerak inframerah pasif mendeteksi pengguna sudah mulai kencing. Sistem ini diuji pada seorang peserta laki-laki dan perempuan, tapi stripnya sengaja didesain agar laki-laki dapat mengarahkan air kencing pada strip.

Tim peneliti menulis modul urinalisis dan uroflowmetri hanya diuji pada peserta yang kencing berdiri, tetapi berjanji penelitian selanjutnya akan menyertakan data peserta yang kencingnya duduk. Strip itu akan kembali ke tempat semula setelah basah. Dari situ, kamera mempelajari hasilnya.

Sekarang kita beralih ke pemeriksaan tinja. Sensor tekanan akan mengaktifkan kamera video yang menangkap gambar mangkuk toilet saat masih bersih dan setelah terisi kotoran manusia dan tisu. Gambar ini kemudian dikirim ke jaringan saraf convolutional (algoritme AI), yang menentukan dari awal hingga terakhir kali tinja nyemplung ke toilet. Peneliti menulis, “Hal ini secara signifikan berkorelasi dengan fungsi usus keseluruhan.” Setiap kerangka mangkuk toilet diberi cap waktu agar lebih akurat. “Kami berasumsi BAB-nya selesai jika mangkuk sudah terisi tisu atau pengguna bangkit dari toilet.”

Stanford University

"Ketika pengguna duduk untuk buang air besar, sensor tekanan di bawah dudukan toilet akan menghidupkan kamera pemantau defekasi. Kamera lalu merekam mangkuk toilet hingga aktivitasnya berhenti. Gambarnya kemudian dikirim ke lapisan deep CNN untuk dianalisis." Gambar via Universitas Stanford.

Kamera ini juga bisa mengamati "perubahan dinamis tinja, seperti perubahan morfologi dan likuiditas feses dalam toilet dari waktu ke waktu." Menurut peneliti, perubahan semacam ini belum pernah diteliti sebelumnya.

Sistemnya baru bisa berfungsi dengan baik jika kotorannya ketahuan milik siapa saja. Oleh karena itu, tim peneliti menciptakan pengenal analprint untuk memastikan setiap orang yang membuang tinja.

Padahal mereka bisa saja memasang pengenal sidik jari pada flush, tapi yang dipasang justru pemindai anal di dalam toilet. Anus pengguna direkam kamera, lalu diidentifikasi menggunakan algoritme pengenalan gambar. Video klip anus dipecah hingga beberapa kerangka, dan algoritme membandingkannya dengan dataset gambar referensi "analprint" pengguna.

Motherboard meminta tim peneliti mengklarifikasi seperti apa proses pemeriksaan gambar tinjanya. Kami akan memperbarui artikel ini kalau sudah mendapat jawaban.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.