Virus Corona

Pasien Terduga Corona Pertama Meninggal di Indonesia Kembali Sulut Kecurigaan Masyarakat

Pemerintah masih meyakini tak ada satu pun kasus positif corona di Tanah Air. Arab Saudi tidak peduli, dan akhirnya menutup pintu umrah sementara bagi Jemaah berbagai negara, termasuk Indonesia.
27.2.20
Pasien Terduga Virus Corona Pertama Meninggal di Semarang, Masyarakat Curiga Kemenkes Tak Jeli Deteksi Penularan
Simulasi penanganan pasien positif virus Corona Covid-19 di Pelabuhan Belawan, Medan, Sumatra Utara. Foto oleh Ivan Damanik/AFP

Seorang WNI laki-laki berusia 37 tahun meninggal Minggu (23/2) akhir pekan lalu. Identitasnya dirahasiakan RSUP dr. Kariadi Semarang, namun dikabarkan bahwa sang pasien dirujuk ke RSUP pada 19 Februari dengan keluhan sesak napas dan demam. Ia juga diketahui baru tiba di Indonesia pada 12 Februari setelah melakukan perjalanan udara dari Spanyol dan transit di Dubai. Gejala yang ia alami membuat rumah sakit segera mengisolasi pasien untuk langkah mengantisipasi wabah virus corona.

Iklan

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP dr. Kariadi Agoes Oerip Poerwoko mengkonfirmasi kabar ini.

"Betul ada pasien meninggal dalam perawatan di ruang isolasi hari Minggu kemarin. Tetapi informasi dari Litbangkes (Kemenkes RI), confirmed bukan COVID-19, didapat sehari setelah pasien dimakamkan," kata Agoes kepada Kumparan. Jadi meski pasien sudah diisolasi sejak 19 Februari, RS baru berusaha memeriksa positif tidaknya si pasien ini terhadap virus corona, setelah dia meninggal.

Kecurigaan membuncah karena pihak rumah sakit sebelumnya menolak menjelaskan penyebab kematian sebenarnya dari sang pasien. Alhasil, banyak netizen menduga pasien meninggal karena virus corona, namun disembunyikan informasinya oleh pemerintah.

Terlebih lagi, keparnoan semakin mencekam ketika melihat pemberitaan bahwa jenazah dibungkus plastik ketika dimakamkan sebagai antisipasi penyebaran virus. Rabu kemarin (26/2), pihak rumah sakit angkat bicara mengenai penyebab kematian.

"Jadi pasien pria berusia 37 tahun yang meninggal pada Minggu itu karena penyakit bronkopneumonia sehingga paru-parunya mengalami kerusakan akibat infeksi, bukan karena virus corona," kata penanggung jawab pelayanan RSUP dr. Kariadi, dr. Fathur Nur Kholis dilansir Kompas. Infeksi ini disebabkan virus, bakteri, jamur, atau makhluk hidup lain.

Pihak rumah sakit juga menjelaskan pembungkusan jenazah dengan plastik dilakukan agar virus pada mayat tidak menular ke petugas medik. "Mayat itu dibungkusnya dengan plastik. Kalau dengan kain masih ada pori-pori kecil karena ukuran virus itu sangat kecil. Kan kalau dengan plastik jadi tidak menyebar di udara," kata Ketua Tim Penanggulangan Bencana RSUP Dr. Kariadi, dr. Uva Utomo kepada Kompas.

Iklan

Simpang siurnya informasi dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap penjelasan pemerintah bukan tanpa sebab. Pasalnya, hampir semua negara tetangga Indonesia sudah melaporkan kasus positif virus corona. Fakta ini juga menguatkan dugaan banyak pihak bahwa Indonesia bukannya bebas corona, melainkan tidak punya kemampuan mendeteksi atau, yang lebih buruk, informasinya ditutup rapat-rapat.

Karena itu, Arab Saudi enggak mau ambil pusing. Hari ini, Rabu (27/2), pemerintah Negeri Petro Dollar menangguhkan sementara kedatangan jemaah umrah dari sejumlah negara demi menghindari wabah corona. Penangguhan ini berlaku untuk Tiongkok, Iran, Italia, Korea Selatan, Jepang, Thailand, Malaysia, Pakistan, Afghanistan, Irak, Filipina, Singapura, India, Lebanon, Suriah, Yaman, Azerbaijan, Kazakhstan, Uzbekistan, Somalia, Vietnam, dan Indonesia.

"Tindakan pencegahan ini berdasarkan rekomendasi dari otoritas kesehatan yang kompeten untuk menerapkan kehati-hatian tertinggi, dan kami mengambil langkah-langkah pencegahan proaktif untuk virus corona ke Kerajaan dan penyebarannya," demikian keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dilansir Detik. Pihak Arab Saudi menjamin penutupan ini hanya bersifat sementara.

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) segera merespons kebijakan Arab Saudi ini dengan gaya klise: memohon semuanya bersabar.

"Menghormati keputusan Arab Saudi sebagai bentuk antisipasi menyebarnya virus corona meminta semua jamaah umrah Indonesia untuk bersabar sambil menunggu pemerintah Arab Saudi membuka kembali," kata Stafsus Menag RI Ubaidillah Amin.

Sejauh ini pemerintah Indonesia tampak santai menanggapi wabah corona yang sudah menjangkiti 80 ribu orang dan menewaskan 2.700 orang di seluruh dunia. Ketimbang mengapresiasi warga yang sadar diri untuk mengurangi perjalanan jauh, pemerintah pusat malah berupaya mempromosikan pariwisata domestik ke 10 kota dengan memberi insentif Rp298,5 miliar.

Anggaran ini menjadi perbincangan khalayak karena ada alokasi Rp72 miliar di dalamnya yang dikucurkan buat influencer internasional untuk mendukung promosi wisata Indonesia demi merespons lesunya ekonomi pariwisata gara-gara penularan COVID-2019 di berbagai negara.