Industri Perfilman

Bermodal Rp14 Juta Saja, Dokumenter Ini Menjadi Film Terlaris Kedua di Amerika

Selain bertujuan mempromosikan cryptocurrency ke khalayak luas, Justin Ehrenhofer juga ingin membantu bioskop-bioskop yang tutup akibat pandemi corona.
30.5.20
studio bioskop kosong
Foto: Flickr/Balkan Photos

Dokumenter Monero Means Money murni membahas tentang mata uang kripto (cryptocurrency) Monero beserta segala keuntungannya. Berdurasi 88 menit, film tersebut dibuat dengan anggaran pas-pasan. Menariknya lagi, Monero Means Money sempat menduduki peringkat kedua box office Amerika Serikat pada 10 April.

Hampir semua bioskop tutup selama pandemi COVID-19, lalu bagaimana bisa filmnya selaris itu? Kalau film-film lain saja terpaksa ditunda penayangannya, kenapa Monero Means Money bisa lolos? Sutradara dan produser dokumenter, Justin Ehrenhofer, membuktikan tidak ada yang mustahil dari semua ini. Dia sengaja membuat Monero Means Money untuk dimasukkan ke dalam daftar box office.

Iklan

“Setelah melihat daftar box office 20 Maret, saya jadi penasaran kenapa film bisa tetap terjual di saat bioskop AS tutup,” ungkapnya lewat email. “Saya menyelidiki film peringkat pertama pekan itu dan menemukan kru film bermitra dengan bioskop untuk menayangkannya secara digital. Pasti menarik kalau bisa bikin film box office nomor satu di AS. Saya awalnya ingin menggarap sendirian, dan menceritakan tentang kecintaanku dengan Monero. Saya akhirnya sadar tidak bisa melakukannya sendiri, jadi saya meminta bantuan beberapa orang tepercaya. Mereka menanggapinya dengan positif dan menyanggupi tawaranku.”

Kelompok kerja beranggotakan 15 orang kemudian diciptakan, beberapa dari mereka menggunakan nama samaran. Pembicara Dr. Daniel Kim menjadi pemeran utama dalam Monero Means Money. Dia menyampaikan seminar tentang Monero pada 2019.

Setelah itu, mereka bekerja sama dengan beberapa bioskop untuk menayangkannya. Bioskop bisa memperoleh pemasukan tambahan dengan cara ini. Laemmle Theatres di Los Angeles dan Tampa Theatre di Tampa setuju untuk menayangkannya secara online, sementara Parkway Theatre di Pennsylvania memutar filmnya di studio tanpa penonton. Tiket film virtual bisa dibeli menggunakan kartu kredit atau cryptocurrency (termasuk Monero). Seluruh bioskop menerima kompensasi, mulai dari penjualan tiket 100 persen, flat fee, hingga $200 (Rp2,9 juta) untuk penayangan tanpa penonton.

“Ketika terpikir membuat ‘teater virtual’ sendiri, kami merasa wajib mendukung bioskop independen di tengah krisis COVID-19,” tulis Justin.

Iklan

Justin kemudian mengirim total box office ke situs-situs yang membuat peringkat box office berdasarkan data distributor, seperti the-numbers.com dan Boxofficemojo. Namun, hanya the-numbers.com yang memasukkan Monero Means Money ke dalam daftar box office. Justin tidak menerima balasan dari Boxofficemojo. Kami menghubungi IMDb, yang memiliki Boxofficemojo, tapi tak ada tanggapan.

Menurut the-numbers.com, dokumenter ini secara keseluruhan meraup $3.430 (Rp50,7 juta) pada akhir pekan pembukaan. Situs cryptocurrency Decrypt melansir dokumenter Justin menduduki peringkat pertama di Amerika untuk waktu singkat, sampai akhirnya disaingi Phoenix, Oregon yang juga ditayangkan secara virtual. Film indie ini memperoleh $11.849 (Rp175 juta). Monero Means Money tergeser ke posisi kedua pada 10 April. “Kami yakin filmnya berhasil meningkatkan kesadaran akan Monero, hak privasi dan perjuangan bioskop,” lanjut Justin.

Sejauh ini, perusahaan milik pribadi Justin rCryptocurrency LLC mengeluarkan 1.000 Dolar AS (Rp14,7 juta) untuk produksi film, meskipun masih harus membayar Tampa Theatre. (Oh, percaya tidak kalau perusahaan ini cuma punya satu karyawan dan menghasilkan Monero Means Money?) Kru film tidak menerima keuntungan sama sekali, dan secara keseluruhan bioskop menerima sebagian besar dana kecuali biaya promosi film yang tidak besar.

“Ini lebih ke tantangan logistik,” tutur Justin. “Seseorang perlu mengenali peluang, memobilisasi sukarelawan, mempelajari prosedur pelaporan box office, menawarkannya ke bioskop, membuat filmnya dalam hitungan 1-3 minggu, dan memastikan ada yang mau nonton. Kami melakukan banyak hal untuk waktu yang singkat. Saya bersyukur diberikan kesehatan, serta memiliki waktu luang besar dan pekerjaan tetap. Tak semua orang bisa memiliki ini.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US