Jika BAB Kalian Tak Terkontrol, Cobalah Meditasi

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Ketika masih kecil, saya diberkati dengan apa yang orangtua saya sebut “perut sensitif.” Saya mudah sekali sakit perut, kembung, dan menderita diare akibat stres (Kalo lagi cemas, saya merasa ada segerombolan singa yang sedang menghantam perut). Namun setelah berlibur ke Florida ketika saya berumur 20an—dimana saya gak boker selama 10 hari—obsesi saya dengan berak pun dimulai.

Videos by VICE

Siapapun yang mengalami konstipasi kronis pasti akan mengatakan bahwa berak adalah fokus utama hidup. Saya menjadi terobsesi mengkonsumsi makanan yang akan membantu pencernaan. Saya tidak suka obat pencahar, tapi gemar meminum kopi yang sangat kuat. Karena saya kesulitan buang air besar di luar rumah sendiri (makanya 10 hari gak boker pas liburan di Florida), maka saya mengatur jadwal minum kopi ketika di rumah dan cukup santai untuk ke toilet.

Menginjak usia 28 tahun, saya punya anak dan pencernaan saya mulai berubah. Saya tidak yakin apakah karena kekurangan tidur, fluktuasi hormon atau fakta bahwa saya baru saja melahirkan. Intinya sih ada sesuatu yang berubah dalam tubuh. Beberapa tahun pertama paska melahirkan saya menderita diare kronis yang menyakitkan. Bayangkan saja, saya harus mengunci kamar mandi sambil muntah dari anus. Dan ini menjadi pengalaman yang traumatis ketika bayi anda berteriak menangis di depan pintu toilet mencari ibunya.

Di saat itulah saya mulai mencari bantuan profesional untuk mengatasi masalah “perut sensitif” saya. Setelah serangkaian tes, saya didiagnosa mengidap Irritable Bowel Syndrome (IBS). Sesuai anjuran gastroenterlogis, saya mengubah diet makan. Hasilnya? Tidak ada, malah gejalanya bertambah parah. Setelah menghabiskan berhari-hari googling, saya menemukan program diet rendah FODMAP (FODMAP adalah kelompok karbohidrat fermentasi yang menyebabkan isi perut kacau balau bagi penderita IBS) yang membantu mengurangi gejala kembung dan diare akut.

Namun bahkan setelah banyak gejala penyakit saya menghilang, saya masih bolak balik ke kamar mandi dan terobsesi dengan berak. Saya tidak bisa menghilangkan ketakukan bahwa diare bisa menyerang setiap saat. Dan kekhawatiran ini justru kerap memicu sakit perut saya. Ini lingkaran setan.

Hubungan antara pikiran dan otak ternyata sangat kuat—beberapa orang bahkan mengatakan bahwa ada otak kedua di dalam perut. Para ahli menyebutnya sebagai enteric nervous system (ENS). “Otak kedua” ini bereaksi terhadap stimulasi emosional sama seperti otak di kepala dan bermanifestasi dalam bentuk gejala fisik di sistem pencernaan. Temuin ini mendukung teori yang mengatakan perut anda bisa mempengaruhi otak, yang tentunya menjelaskan kenapa penderita IBS rentan terhadap anxiety dan depresi.

Christopher Willard, seorang lektor psikiatri di Harvard Medical School dan penulis buku Growing Up Windful menjelaskan pada saya, umumnya pengidap IBS menderita stres. Willard menjelaskan fenomena ini sebagai “efek mengalir, ketika IBS menyebabkan stres dan memperburuk kondisi tubuh.”

Setelah menceritakan penderitaan saya dengan seorang teman baik (yang juga bekerja sebagai seorang psikolog), dia menganjurkan meditasi dan mengatakan bahwa beberapa menit meditasi dalam sehari akan sangat membantu. Sebagai penderita anxiety, saya sudah pernah mencoba meditasi di sana sini namun selalu kesulitan menenangkan kepala saya yang riweh. Namun karena tidak dihadapkan dengan banyak pilihan lain, saya memberi meditasi kesempatan kedua.

Saya mengunduh applikasi meditasi berdurasi lima menit ke dalam ponsel dan menggunakannya setiap hari. App ini disebut “Simply Being” (produk Meditation Oasis) dan menyediakan pilihan untuk meditasi selama 5, 10, 20 dan 30 menit. Mengambil saran teman, saya selalu mengambil pilihan meditasi 5 menit dan berusaha tidak menaruh banyak tekanan ke diri sendiri. Syukur-syukur ada efeknya.

“Rasakan semuanya saat ini,” terdengar suara perempuan yang menenangkan dengan sapuan ombak di background. “Mungkin ada banyak pikiran di kepala, tapi ini tidak penting. Biarkan mereka mengalir…tanpa beban,” tambahnya. Bagian “ini tidak penting” menenangkan saya dan setelah beberapa minggu menggunakan app ini, saya semakin bersemangat melakukan sesi setiap hari.

Sebuah penelitian tahap awal di 2015 mengkaji dampak meditasi terhadap gejala IBS untuk pertama kalinya. Peneliti menemukan bahwa hanya setelah 9 minggu meditasi, gejala penderita IBS berkurang secara drastis—dan ini berlanjut selama 3 minggu setelah program meditasi selesai. Cuman jujur saja, awalnya saya tidak menyadari perubahan yang berarti. Paling awalnya stres saya berkurang—saya lebih tidak panikan dan jarang sakit perut. Ini menyebabkan boker-boker saya berkurang frekuensinya.

Willard menjelaskan bagaimana meditasi bisa membantu mengatasi gejala terburuk IBS: “Obat itu bekerja dengan cara ‘menenangkan’, dan mengalihkan tubuh dari mode ‘perlawanan’ terhadap stres,” katanya. Dia menjelaskan bahwa ketika kita stres, “tubuh kita mencari solusi jangka pendek, bukan jangka panjang yang akhirnya mematikan saluran energi ke sistem pencernaan dan kekebalan tubuh.” Inilah yang menyebabkan gejala IBS.

Mungkin efek positif terbesar meditasi bagi saya adalah kemampuan saya untuk menyadari ketika tubuh sedang berada dalam mode “perlawanan” dan bagaimana ini mempengaruhi perut. Saya menjadi lebih berhati-hati dan mengadopsi kebiasaan-kebiasaan sepele yang membantu tubuh, misalnya mengurangi kesibukan, dan makan makanan yang mendukung (bawang, apel, susu). Saya belajar bahwa tubuh saya kadang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menghapus hormon stres yang melanda bahkan ketika gejala awalnya sudah hilang. Saya menjadi semakin proaktif menghilangkan stres-stres tidak perlu dari hidup—paling tidak yang saya bisa kontrol.

Sudah lima tahun saya bermeditasi. Setiap harinya saya menghabiskan waktu antara 5 hingga 20 menit demi kegiatan positif ini. Lebih dari 10 tahun saya habiskan untuk merelakan obsesi berak—dan biarpun belum 100 persen, saya hampir sembuh. IBS saya sudah lumayan terkendali biarpun kadang-kadang perut saya tetap berulah tanpa alasan. Namun saya sudah belajar menerima bahwa IBS adalah penyakit seumur hidup. Lewat meditasi, pengurangan stres, dan seni “bodo amat”, saya mulai menerima bahwa berak-berak adalah bagian dari saya.

Thank for your puchase!
You have successfully purchased.