x-files

Sejarah Komunitas Sains Memburu Keberadaan Alien 50 Tahun Terakhir

Para ilmuwan dari berbagai negara belum berhasil menemukan bukti keberadaan alien di semesta. Namun upaya lebih dari setengah abad dari komunitas sains terus berlanjut.
4.6.18
Teleskop pemantau aktivitas alien milik lembaga SETI. Foto oleh Seth Shostak/SETI Institute.

Pada 1960, astronom kesohor Frank Drake mengurung dirinya selama 150 jam di Green Bank Observatory. Di fasilitas pemantauan langit itu, ia tanpa henti menggunakan teleskop radio raksasa demi mengamati tanda-tanda keberadaan alien. Percobaan ini, yang dikenal sebagai Project Ozma, berfokus pada dua bintang terdekat yang dipilih Drake, yaitu Tau Ceti dan Epsilon Eridani. Namun, dia tidak mengalami kemajuan sama sekali sampai akhir percobaannya. Dia tidak berhasil menemukan tanda-tanda kehidupan alien.

Kegagalan percobaan Drake mengilhami para ilmuwan saat ini dalam mendeteksi kehidupan ekstraterestrial. Mereka lalu tergabung dalam organisasi Search for Extraterrestrial Intelligence atau SETI. Selain itu, penggunaan gelombang radio yang dirintis Drake juga mengubah cara para ilmuwan dalam mengamati alam semesta untuk membuktikan kalau alien itu benar-benar ada. Project Ozma menginspirasi program SETI di lembaga-lembaga seperti Harvard, Jet Propulsion Laboratory NASA, dan SETI Institute di Mountain View, California.

Pada 1961, Drake mengadakan konferensi bersama 12 pria—beberapa di antaranya pemenang Nobel dan Carl Sagan—di Green Bank Observatory. Dalam konferensi tersebut, mereka memutuskan bahwa SETI memang perlu dilakukan. Selain itu, mereka juga merencanakan metode penelitian konkret untuk proyeknya. Salah satu metodenya ialah persamaan Drake, sebuah rumus penghitungan jumlah peradaban luar angkasa yang mungkin ditemukan di Milky Way. Berdasarkan rumusnya, Drake mematok jumlahnya sebanyak 10.000; sedangkan Sagan optimis bahwa jumlahnya bisa mencapai jutaan.

Iklan

Sayangnya tidak banyak orang yang tertarik dengan program pendeteksian makhluk luar angkasa, dan SETI dianggap sebagai perkumpulan ilmuwan luar angkasa yang terobsesi dengan kehidupan ekstraterestrial. Baru pada 1971, NASA mulai tertarik dengan SETI setelah mengembangkan Project Cyclops, yang menggunakan 1.000 teleskop 100 meter untuk mencari sinyal radio dari bintang-bintang terdekat.

Project Cyclops memang dihentikan—salah satu alasannya karena biayanya yang mencapai $10 miliar (Rp140 triliun)—tapi ini mulai memicu minat lembaga antariksa lainnya untuk melakukan proyek percobaan SETI, berlandaskan pada percobaan awal yang dilakukan Drake. Pada 1976, Ames Research Center NASA dan JPL melakukan program SETI-nya sendiri. Dalam satu dekade, sejumlah lembaga SETI independen mulai bermunculan, termasuk Planetary Society Sagan, yang mendanai program awal SETI JPL dan Harvard; program Serendip di University of California, Berkeley; program Big Ear University of Ohio; sejumlah program di Uni Soviet; dan SETI Institute, yang didirikan pada 1984.


Tonton dokumenter VICE mewawancarai lelaki yang mengaku pernah berkomunikasi dengan alien:


Meskipun begitu, masih ada saja orang yang meremehkan proyek ini dan menganggap para ilmuwan sebaiknya tidak membuang waktu dan uang mereka hanya untuk mengamati angkasa dan mencari tanda-tanda kehidupan alien. Pada 1978, Senator AS William Proxmire menyebut program SETI NASA hanya menghambur-hamburkan uang pembayar pajak dan berhasil memutus biaya anggaran program pada 1981. (Proxmire setuju mengembalikan dana pada 1983 setelah berunding bareng Carl Sagan). Ketika NASA mulai mengembangkan perangkat keras untuk program SETI pada 1988, Kongres kaget saat mengetahui siapa yang mendanai program ini dan mereka berhasil menggagalkannya pada tahun berikutnya.

Pada 1993, setelah NASA mengumpulkan US$11,5 juta untuk membangun High Resolution Microwave Survey terbarunya, Senator AS Richard Bryan mengajukan perubahan dadakan untuk menghentikan program tersebut. Ia berkata “semoga ini menjadi program terakhir yang menghabiskan uang rakyat.” Senat akhirnya menyetujui tindakan Bryan dan program SETI NASA berhasil digagalkan.

“Bryan sengaja memanfaatkan SETI untuk menunjukkan konstituennya bahwa ia berusaha menyelamatkan uang yang telah dihambur-hamburkan pemerintah,” ujar Seth Shostak, astronom senior dan direktur SETI Institute. “Sangat mudah baginya untuk menyerang SETI karena ini tidak melibatkan ribuan tenaga kerja.”

Walaupun program NASA sudah tidak lagi beroperasi, peneliti SETI bertekad untuk melanjutkan perburuan alien mereka. Dengan bantuan investor di Silicon Valley, SETI Institute—yang telah bekerja sama dengan NASA selama bertahun-tahun—berhasil mengumpulkan $7,5 juta (Rp105 miliar) untuk melanjutkan proyek NASA yang sempat terhenti. Proyek terbarunya dinamakan Project Phoenix, dan merekam 100 hari observasi di Arecibo, teleskop radio di Puerto Rico, serta 2.600 jam lebih di teleskop radio Parkes di Australia.

Iklan

“Project Phoenix bangkit dari sisa-sisa peninggalan program SETI NASA,” kata Shostak kepada VICE. “Beberapa staf SETI Institute pernah bekerja di NASA. Mereka bergabung dengan Institute ketika staf SETI di NASA harus berhenti bekerja di sana. Apabila mereka bergabung dengan Institute, itu artinya mereka bisa melanjutkan proyek mereka—dan beberapa dari mereka melakukannya.”

Sejak itu, Institute menjadi sumber inisiatif unggul SETI, yang didanai oleh sumbangan pribadi. Organisasi ini telah mengawasi lebih dari 100 proyek sejak awal, termasuk menciptakan serangkaian teleskop khusus SETI, yang dikenal sebagai Allen Telescope Array. Ini satu-satunya lembaga serupa, tapi Shostak tidak mau menyebutnya sebagai yang terbesar karena hanya ada lima orang di Institute yang aktif mendeteksi kehidupan makhluk luar angkasa.

“96 persen ilmuwan [di SETI Institute] mengamati kehidupan yang belum jelas,” ujar Shostak. “Mereka mengamati bakteria di permukaan planet Mars, atau mungkin di bawah lapisan es Europa. Kalau dipikir-pikir lagi, pengamatan ini lebih mengacu ke astrobiologi.”

Menurut Shostak, penekanan astrobiologi mencerminkan masalah pendanaan lembaga. Meskipun NASA masih menyediakan dana untuk penelitian astrobiologi, mereka sudah tidak menyediakan pendanaan khusus untuk pendeteksian peradaban makhluk luar angkasa sejak tahun 90-an. Pada Juli 2015, miliarder Rusia Yuri Milner mengumumkan bahwa dia akan menyumbang $100 juta (Rp1,4 triliun) untuk meningkatkan program pendeteksian kehidupan ekstraterestrial, tapi menurut Shostak, sumbangan ini tidak menguntungkan Institute secara langsung.

Iklan

Milner mengatakan bahwa sebagian sumbangannya akan ditabung untuk “SETI aktif,” yang melibatkan pengiriman pesan ke alam semesta. Ini penelitian yang kontroversial karena khawatir komunikasi tersebut dapat menyebarluaskan lokasi Bumi ke alien yang berpotensi jahat dan membahayakan peradaban manusia. Lainnya keberatan karena tidak tahu apa yang harus ditulis di pesannya—dan hanya ada beberapa orang terpilih yang bisa memutuskan isi pesannya.

“Ada yang meyakini kalau SETI aktif berbahaya. Saya rasa itu berlebihan,” tutur Shostak. “Tapi ini memang sangat kontroversial, jadi SETI Institute tidak melakukan SETI aktif.”

SETI Institute memang belum berhasil melacak keberadaan ET dan mengirim pesan antar bintang secara aktif, tapi Shostak dan rekan ilmuwannya tetap yakin upaya mereka selama ini akan terbayar suatu saat nanti.

“Dalam melacak SETI, kita perlu menganggapnya sebagai eksplorasi. Karena memang itu yang kami lakukan,” lanjutnya. “Mungkin mereka mengira kami hanya menghambur-hamburkan uang saja dan ada masalah yang jauh lebih penting dari makhluk luar angkasa, tapi beginilah penelitian yang sebenarnya. Kami melakukannya karena rasa ingin tahu yang besar. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di luar angkasa, kalau kita tidak mencoba menelitinya.”


Follow Daniel Oberhaus di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US