Debat Filosofis

Sulitnya Mendamaikan Mazhab Makan Bubur, Soto, dan Kulit Ayam

Tiga topik itu adalah perdebatan kuliner tak kunjung tuntas. Kami menghubungi penulis, politikus, dan aktor mencari jalan tengah terbaik.
25.3.17

Manusia Indonesia sanggup berdebat sengit soal makanan, dibanding mempersoalkan sikap politikus yang berpindah haluan secepat kilat. Perbedaan tajam antar mazhab dalam memperlakukan beberapa jenis makanan—misalnya cara mengaduk bubur ayam atau kapan kita harus makan kulit ayam—seakan-akan tidak bisa didamaikan lagi. Saya jadi bertanya-tanya, kapan kita sanggup luwes untuk urusan lidah, sebagaimana kita lentur menerima kehadiran politikus yang suka meloncat dari satu kubu ke kubu lain.

Iklan

Saya membayangkan masa depan gemilang menanti masyarakat Indonesia jika respons kita pada perdebatan kuliner bisa didekati seperti kita mempelakukan politikus. Betapa nikmatnya jika perdebatan bubur diaduk atau engga, soto wajib dicampur nasi atau dipisah, serta kulit ayam itu wajib disisain buat dimakan terakhir atau harus disantap duluan bisa diakhiri secara musyarawah mufakat.

Untuk selangkah mencapai tujuan mulia tersebut, VICE Indonesia menghubungi tiga pesohor dari latar belakang dan profesi berbeda. Kami meminta mereka membahas posisi yang dianut menyangkut tiga perdebatan kuliner sengit: soal cara makan bubur, soto, dan kulit ayam. Kami selalu berharap konflik kebudayaan yang terus memisahkan kita ini dapat berakhir di masa mendatang.

Arman Dhani - Penulis

Dari tiga perdebatan kuliner paling sengit itu, kamu masuk kategori mana?
Tim bubur tidak diaduk kalau soto yang dicampur. Nasi dan kuah soto itu harus disatuin. Di Jakarta kan kan dipisah tuh kuah soto sama nasinya, kalau di Jawa Timur dicampur. Jadi nasi, terus topping itu di atas, baru disiram kuah. Saya juga tim makan kulit ayam terakhir.

Apa filosofi yang melatari pilihanmu?
Bubur itu kalau dicampur tampilan visualnya jelek banget. Jadi kayak muntahan bayi. Kayak enggak enak banget. Terus akhirnya kalau enggak diaduk dan enggak diapa-apain jadinya kan kita bisa ngerasain satu per satu secara detail, misalnya buburnya gimana, kalau dicampur kacang gimana, kalau dicampur ayam gimana. Terus dikasih kerupuk gimana, jadi rasanya detail. Tapi alasan utamanya sih karena kalau dicampur visualnya jelek dan menghilangkan selera makan jadinya.

Iklan

Intinya masalah estetika?
Bukan masalah estetik sih. Lebih ke ngelihatnya udah enggak enak. Meskipun ketika makan bubur diaduk mah enak-enak aja.

Kalau soto?
Nah kalau Soto wajib dicampur. Soto berbeda dengan bubur kalau dicampur diaduk-aduk, visualnya enggak seburuk bubur tadi. Tapi karena kalau alasan utamanya sih di Jawa Timur semua soto itu dicampur, jadi nasi, toping, baru disiram kuah. Jadi makannya bareng, nasi habis, kuah habis, bareng. Di Jakarta saya baru ngelihat nasi dan soto dipisah. Kalau makan soto ayam pertama kali di sini ditanya "kuahnya dipisah atau dicampur mas?". Kalau dipisah itu rasanya jadi aneh, karena rasanya jadi kerja dua kali itu loh. Nasi disiram air, kenapa enggak dicampur aja sekalian kalau tujuannya pengen merasakan nasi dengan kuah tadi. Itu masih umum, kalau misalnya yang purist itu enggak usah ditambahin kecap, cukup ditambahin jeruk aja udah cukup.

Berarti kamu yakin ada aturan wajib soal makan soto yang saklek?
Tergantung mazhabnya. Kalau mahzab lamongan itu dikasih koya supaya nanti sotonya kental. Beda dengan aliran Surabaya yang enggak pakai koya, tapi tetelan tulangan. Mahzab soto itu banyak sekali. Makin kita tahu tuh ada soto Banjar, ada soto yang pakai santan. Itu makin rumit karena rasa satu soto dan lainnya itu beda, Soto Lamongan buatku paling enak dicampur. Jadi nasi dicampur koya dicampur. Kalau soto betawi enggak enak dicampur karena beda. Karena soto Betawi lebih ke jeroan dan segala macam. Sebenarnya kalau di Lamongan soto jeroan juga ada. Khusus soto Betawi kalau dicampur (sama nasi) malah enggak enak, harus dipisah. Itu tergantung lagi mau makan soto jenis apa. Soto banjar juga begitu, kalau dicampur enggak enak. Tapi kalau soto Lamongan atau soto Surabaya paling enak dicampur. Soto daging Yogya, Soto Boyolali, soto itu harus dicampur. Nanti biasanya ada kuah bening kaldu daging, yang bawang goreng sedikit suwiran daging itu pun nanti dikasih jeruk atau kecap. Opsional. Tapi yang bikin menarik soto daging Jawa Tengah itu, karena banyak lauk tambahan: paru, otak, sumsum. Itu yang sebenarnya bikin soto tadi lebih enak. Makanan soto itu lebih rumit daripada bubur.

Iklan

Tapi bubur juga punya mahzab, bubur cina dan bubur kuah kuning?
Iya. Bubur Cina itu kan nyaris enggak dikasih kuah karena memang ngandelin buburnya sendiri. Jadi memang kalau bubur kepiting, bubur ayam ya dikasih kaldu ayam tadi. Tpai kalau misalnya bubur yang lain nasi dimasak sampai jadi bubur baru dikasih kuah kaldu. Itu lebih enteng daripada soto. Kayak: "kamu sotonya dikasih kecap, kita enggak bisa jalan!".

Bisa melihat karakter orang dari cara makannya yang seperti itu?
Ada beberapa temanku yang nganggap itu serius."Kalau makan bubur dicampur kita enggak bisa temenan". Dari yang kayak gitu seolah-oleh mengidentifikasi karakter orang. Misal kalau makan dicampur, sukanya yang gampang-gampang. Padahal enggak ada hubungannya, makan ya makan aja. Sama kayak soto.

Kalau kulit ayam?
Kulit ayam itu lebih subliminal. Saya dibesarkan di rumah yang mewajibkan "kamu makan tiga kali sehari, titik!". Enggak ada in between, engga ada brunch, enggak ada makan sore. Makan lauk ayam itu biasanya makan malam, dan itu sangat berharga. Itu enggak bisa disamakan dengan pengalaman orang lain. Bagian terenak dari ayam itu kan kulit. Kalau di rumahku selalu makan ayam kampung, bukan karena kami kaya, tapi memang kita peliharanya ayam kampung dan jarang sekali beli. Ayam kampung, dibandingin ayam negeri itu kan kulitnya lebih sedikit lagi. Jadi memang save for the last, lebih berandal lagi. Biasanya dipoletin dulu, ditaro, lalu kemudian makan daging. Baru suapan terakhir itu dimakan kulitnya, pelaaaan banget. Itu saya ngelihat karakteristik orang juga. Asumsi gue pribadi, orang yang makan kulit di akhir, itu adalah orang yang hidupnya susah, yang sangat menghargai dan mengapresiasi bagian paling enak dari makanan, maka harus pelan-pelan dimakan dan kalau bisa jangan dimakan duluan.

Iklan

Ada yang sudah nyisain kulit ayam terus dicaplok orang lain. Kalau kamu ngalamin gitu, apa sikapmu?
Kalau gue mah berantem. Itu derajat bikin marahnya sama kayak kalau kita bikin Indomie terus dimakan sama orang. Emosi! Kecuali kalau ditawarin "elo mau dibikinin atau enggak?" Oke, gue bikinin. Tapi kalau gue nawarin elo enggak mau, terus gue bikin buat sendiri, tapi elo ikut makan, kita kelahi aja udah!

Budiman Sudjatmiko - Anggota DPR

Anda kalau makan bubur diaduk atau enggak?
Saya diaduk, kebiasaan dari kecil. Harus diaduk sama sambelnya. Misalnya bubur ayam ya diaduk dengan sambel dan kerupuknya juga. Tapi tidak lebur, tetap kerupuknya ada cuma sudah lembek, sambelnya lembek. Karena cara makan bubur itu merata aja. Tiap sendok bubur harus ada pedasnya, ada kecap asinnya, ada rasa kerupuknya, ada empingnya jadi satu. Tiap sendok biar rata kerasa semua.

Filosofi pakai mazhab makan kayak gitu apa?
Intinya di setiap sesuatu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu tidak berdiri sendiri, terdiri dari unsur-unsur yang lain dan kita harus merasakan semuanya. Karena di dalam atomku, sama dengan atom kamu, sama dengan atom yang ada di dalam mobil, sama dengan atom yang ada di dalam mobil, ada atom yang di matahari, di bintang. Intinya itu sama dengan yang lain, kira-kira begitulah.

Anda percaya dari cara makan bubur kita bisa melihat karakter seseorang?
Persepsi saya, [kalau bubur engga diaduk] itu untuk orang yang tetap ingin elegan saat makan, ini orang jaim banget pasti. Padahal makan itu tidak harus selalu elegan, dia seharusnya menikmati. Karena itu, saya suka sama orang Jepang, kalau minum sup itu seruputnya bunyi. Saya belum tentu bisa melakukan karena saya tidak biasa melakukan juga, tapi dia soal etika segala macam memang terlatih secara kultur. Bagi orang Jepang, minum sup bunyi itu biasa-biasa saja kan. Artinya tergantung perspektif masing-masing, ini orang ekspresif saat makan itu menurut saya enak diajak ngobrol. Dalam pengalaman saya, orang seperti itu enak diajak ngobrol dan terbuka untuk banyak hal. Tapi yang tidak begitu bukan berarti tidak juga, cuma rata-rata saja memang enak diajak ngobrol.

Iklan

Kalau soto, nasi disatukan dengan kuah, atau dipisah?
Saya pisah. Kenapa beda dengan bubur? Karena kalau bubur memang enak kalau dicampur. Kedua, soto itu saya memang penikmat soto jadi menikmati enaknya soto itu caranya ya langsung murni rasa sotonya tidak dicampur dengan nasi. Saya ingin tahu. Memang hanya soto-soto tertentu yang saya langganan. Di Yogya saya ada langganan, dan selalu dipisah. Karena saking enak sotonya, kalau dicampur sama nasi itu kayak ganggu lah.

Bukankah di daerah Jawa (Tengah/Timur/Yogya) soto lebih umum dicampur dengan nasi?
Di beberapa warung-warung dipisah sih, ada pilihan. Karena memang sotonya aja enak banget, jadi saya enggak mau terganggu.

Lantas kalau kulit ayam dimakan biasa seperti daging, atau disisakan terakhir?
Kalau saya kulit ayam enggak fanatik. Yang selalu saya sisakan terakhir itu kulit bebek, semacam roast duck atau bebek peking lah. Itu baru saya mau makan terpisah di akhir, tapi kalau ayam sih biasanya saya makan nyatu dengan daging.

Punya alasan tersendiri soal kulit ini?
Kalau bebek kan roast duck kulitnya gurih banget. Karena bagi saya kulit ayam enggak terlalu istimewa bagi saya. [Kulit] dengan daging saya kira lebih enak berpasangan yah. Tapi kalau buat saya kulit bebek yang istimewa. Gurih banget, enak banget. Kayak keripik begitu.

Hannah Al Rashid - Aktor/Aktivis

Soal makan bubur kamu termasuk golongan diaduk atau engga?
Kalau bubur, aku enggak bisa dicampur semuanya sekaligus sih. Tergantung beli buburnya dimana ya, tapi kadang either too salty atau too sweet atau gimana. Kalau dicampur juga balance-nya kurang enak, jadi lebih milih untuk balance sendiri aja like taking a little bit of plain bubur, taking little bit of this, little bit of that daripada semuanya dicampur aduk. Kalau mau tambah apapun kan tinggal ditambahin, daripada udah diaduk semuanya begitu aja. Gue termasuk sukanya dipisah dan enggak mau makan yang sudah dicampur. I have the choice to do it how i want kalau dipisah.

Kamu punya filosofi tersendiri soal cara makan?
Kayak misalnya gue lihat orang makan bakso atau apa taruh kecap banyak, sambal banyak, tercampur semua gue agak jijik aja sih lihatnya.

Iklan

The way they eat, shows their personality?
Kayaknya iya sih. Berarti gue orang yang lebih control freak kali ya. Kayak control semuanya sendiri. Kalau lo campur-campur aja kayaknya lebih carefree dan enggak mikirin yah. Gue orangnya sangat concerned dengan makanan yang kebuang. Makanya gue enggak taruh semua nasi di situ, karena kalau ternyata enggak habis, gue juga enggak enak. Jadi mendingan gue slowly but surely aja dan enggak wasteful.

Kalau makan soto, nasi dipisah dengan kuah atau disatukan?
Gue pisah. Karena kalau enggak gitu, elo harus dapat consistency yang enak antara kuah dan nasi. Gue juga tipe orang yang kalau elo taruh kuah terlalu banyak jadinya lembek-lembek banget juga enggak suka. Karena at the same time, gue juga enggak makan terlalu banyak nasi, terus kalau ditaruh aja kan mubazir. Jadi, mendingan perlahan aja.

Bagaimana kalau makan kulit ayam? Barengan sama daging dan lainnya atau save the best for the last?
Biasanya sih save the best for the last. Apalagi, kalau misalnya kayak KFC gitu, gue sudah pasti save the best for the last. Bahkan kalau ada pilihan beli kulit ayamnya doang, kayaknya gue bakal beli kulit ayamnya doang sih. Karena it tastes so good dan beberapa kali ada orang yang lihat kulitnya dan langsung ambil dari piring gue. Gue bisa marah banget kalau digituin!

Kenapa bisa marah sampai segitunya?
Gue ngerasa kayak, Don't touch that I'm really living it for the last, I'm saving the best for the last.

Menurutmu yang save kulit ayam for the last itu tipikal orangnya gimana?
Menurut gue orang-orang yang melakukan itu berarti mereka tahu taste. Mereka mau give themselves a treat at the end of the meal. Kayak lebih apa yang akan dimasukkan ke mulut nanti. Kalau lo campur aja semuanya ya mungkin lo enggak peduli sama hal-hal kayak begitu. Tapi kan kalau kulit ayam ibarat pièce de résistance gitu.

Itu bukan cuma ketika makan makanan Indonesia?
Apapun. Jangankan kulit ayam. Lemak dari lamb chop itu juga gue ngelakuin yang sama. Pokoknya yang enak-enak gue sisain aja belakangan. Itu kan kayak dessert.